Kamis, 18 Agustus 2011

Tuhan, biarkan beliau tetap tersenyum


“Bapak” begitu aku memanggilnya. Dalam darahku ada darahnya.
Sosoknya berwibawa, rambutnya masih hitam pekat dan hiasan wajah paling khas adalah kumis yang berjejer rapi di atas bibirnya.
Aku senang ketika bapak tersenyum, kumisnya terangkat sedikit dan bapak makin terlihat imut dengan keadaan seperti itu.
Beliau tak memiliki janggut, baguslah, batinku, karena bapak akan menjadi jelek dengan janggut lebat di dagunya. Cukup kumis saja sudah membuatnya terlihat manis, “pantas mama suka” pikirku.
Beliau lebih suka bekerja dalam diam, menurutnya banyak bicara hanya akan membuat pekerjaan semakin lama terselesaikan tapi jangan mengira bapak orang yang pendiam. Beliau bisa berubah menjadi gila bahkan lebih dari orang gila tergila di dunia ketika beliau menemukan sesuatu yang bisa menjadi bahan lawakanya.
Salah satu yang aku salutkan adalah beliau seorang yang cerdas. Beliau sastrawan yang saat ini mengabdi di sebuah sekolah dan menjadi seorang guru Bahasa Indonesia di situ. Selain itu beliau menggeluti berbagai profesi dari berkebun, merancang rumah kami, orang penting dimanapun beliau berada, fotografer sampai movies dokumentator, beliau juga salah satu anak teater ketika masih menjadi mahasiswa dan pernah menjuarai lomba baca puisi. Aku sendiri bingung, harus ku sebut apa beliau ? Guru kah ? Arsitek kah ? Petani kah ?  Fotografer kah ? Aktor kah? Atau apa ?
Satu lagi, beliau suka menulis. Seperti yang aku bilang, beliau sastrawan. Walaupun bukan sastrawan terkenal seperti W.S. Rendra, Chairil Anwar atau Marah Roesli tapi beliau hebat di mata dan hatiku. Sebuah kalimat yang sangat aku sukai dan bahkan selalu aku ingat tulisan pendek beliau tanah tempat kami tinggal adalah : “Ini tanahku, ini istanaku. Hanya ada satu permaisuri, tiga bidadari dan aku rajanya. Di sini aku lahir dan kelak disini pula aku mati.”
Beliau adalah bapak terbaik yang aku punya (karena aku memang hanya punya satu bapak haha,,,).
Aku tahu beliau selalu berusaha memberi yang terbaik, sama seperti mama, hanya saja (kadang) caranya tidak sesuai dengan apa yang aku dan adik-adikku inginkan sehingga seringkali kami mengira bahwa hanya mama yang bisa “diajak kompromi”. Aku paham kenapa karena aku bisa membaca bahasa hati bapak. Adik-adikku hanya kurang dewasa saja, bathinku, suatu saat mereka mengerti bahwa bapak menyayangi mereka sebesar rasa sayang mama pada mereka.
Aku selalu menitipkan beliau kepada Tuhan setiap aku berdo’a agar beliau selalu tersenyum, agar kumisnya selalu terangkat.
Kelak, jika aku sempat menempuh masa tuaku, harapanku hanya satu : aku ingin seberuntung mama yang mendapat jodoh seperti bapak dan mendapat anak seperti aku :)