Minggu, 16 Maret 2014

SARAPAN, KEGIATAN PENTING YANG SERING TERLEWATKAN


Oleh : Dede Sitta Fajarwati

Semua orang tahu apa itu sarapan, namun tidak semua mengetahui seberapa penting sarapan dan manfaatnya bagi kesehatan. Sarapan merupakan kegiatan makan di pagi hari sebelum seseorang memulai aktivitas dan rutinitas hariannya. Kegiatan sarapan sangat penting bagi kesehatan, terutama bagi orang-orang yang mengerti dan peduli akan kesehatan tubuhnya. Sarapan dapat meningkatkan energi tubuh seseorang untuk beraktivitas dan merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan penambahan nutrisi selain dari makan siang dan makan malam. Dengan tercukupinya gizi, metabolisme tubuh menjadi baik, maka akan tercipta kualitas hidup atau Sumber Daya Manusia yang baik. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa sarapan sangat penting sebagai asupan energi yang kemudian akan digunakan seharian, walaupun sangat dibantu oleh kegiatan makan pada waktu lain (makan siang, makan malam, dan makan selingan). Selama sekitar 8 jam metabolisme tubuh melemah ketika seseorang tidur, sehingga sarapan membantu metabolisme tubuh kembali lancar. Sarapan dapat memenuhi sekitar 15%- 30% kebutuhan gizi harian pada anak-anak yang merupakan sebagian dari gizi seimbang untuk mewujudkan hidup sehat, bugar, aktif, dan cerdas.
Menurut ( BPPN, 2007 ), sarapan pagi akan menyumbangkan gizi sekitar 25% dan ini merupakan jumlah yang cukup signifikan. Apabila kecukupan energi adalah sekitar 2000 kalori dan protein 50 gram sehari untuk orang dewasa, maka sarapan pagi menyumbangkan 500 kalori dan 12,5 gram protein. Sisa kebutuhan energi dan protein lainnya dipenuhi oleh makan siang, makan malam dan makanan selingan diantara dua waktu makan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, dari sebuah surat kabar Kementrian Kesehatan RI menyebutkan bahwa sarapan pagi merupakan makanan khusus untuk otak, hal ini didukung dari sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sarapan berhubungan erat dengan kecerdasan mental. Sarapan memberikan nilai positif terhadap aktivitas otak, sehingga otak menjadi lebih cerdas, peka dan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Dengan sarapan tentu kebutuhan tubuh akan energi terpenuhi sehingga tubuh menjadi lebih bugas dan aktif bekerja. Sarapan juga dapat menjadi mood booster yang menentukan produktivitas seseorang menjalani rutinitasnya setiap hari.

Menurut ( Judarwanto, 2006 ), sarapan pagi sangatlah penting, terutama bagi anak usia sekolah, karena waktu sekolah adalah waktu aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Energi yang diberikan dari sarapan pagi harus memenuhi sebanyak ¼ kalori sehari. Sarapan atau kegiatan makan yang benar juga tentu dilihat dari berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, budaya, agama, disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi, selaras dan seimbang. Serasi artinya sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak. Selaras adalah sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial budaya serta agama dari keluarga. Sedangkan seimbang artinya nilai gizinya harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia dan jenis bahan makanan seperti kabohidrat, protein dan lemak.
Sarapan itu sendiri memiliki banyak peran yang penting, beberapa diantaranya adalah meningkatkan energi, makan di pagi hari dapat memberikan energi untuk beraktivitas. Selain itu, sarapan dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Pada saat tidur, metabolisme menurun sehingga bangun pagi dan sarapan akan mengembalikan peningkatan metabolisme. Peningkatan metabolisme tersebut dapat dengan baik membakar kalori tubuh, sehingga orang yang terbiasa sarapan memiliki berat badan yang cenderung normal.  Berikut beberapa manfaat sarapan dari sebuah jurnal dan sumber lain :

1.      Meningkatkan Energi
Energi diperoleh dari asupan nutrisi yang dikonsumsi tubuh. Ketika tidur, tubuh mengalami kekurangan energi yang cukup tinggi, sehingga dengan sarapan energi yang hilang tersebut akan tergantikan. Meningkatnya energi dapat dimanfaatkan untuk rutinitas harian yang membutuhkan banyak energi, sehingga aktivitas yang dilakukan sejak pagi akan optimal dengan energi yang maksimal.

2.      Memberi energi otak
Konsumsi glukosa yang merupakan monomer karbohidrat akan membantu meningkatkan kemampuan otak untuk fokus dan bekerja sehingga lebih mudah berkonsentrasi. Karbohidrat itu sendiri memiliki fungsi sebagai bahan bakar dari sistem syaraf pusat, sehingga merupakan asupan nutrisi untuk otak.

3.      Memperbaiki memori / daya ingat
Penelitian terakhir membuktikan bahwa tidur semalaman membuat otak kita kelaparan. Jika kita tidak mendapat glukosa yang cukup pada saat sarapan, maka fungsi otak atau memori dapat terganggu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Suzan E. Bagwel tahun 2008 ( Loyola University New Orleans ) pada dua kelompok populasi dengan kebiasaan sarapan yang rutin pada satu kelompok dan kebiasaan sarapan yang tidak rutin pada kelompok lainnya, menggunakan Tes Daya Ingat yaitu dengan cara memberikan 8 (delapan) kata-kata yang sering ditemui oleh kedua kelompok tersebut untuk dihafal selama lima menit, kemudian menuliskannya kembali dalam waktu satu menit. Hasil dari tes tersebut didapatkan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelompok dengan kebiasaan sarapan rutin dibandingkan dengan kelompok yang kebiasaan sarapannya tidak rutin. Oleh karena itu sarapan berpengaruh pada daya ingat seseorang, sehingga asupan nutrisi untuk otak yang dilakukan dengan cara sarapan sangat penting dan sayang apabila terlewatkan.

4.      Meningkatkan daya tahan terhadap stress
Dari sebuah survei, anak-anak dan remaja yang sarapan memiliki performa lebih, mampu mencurahkan perhatian pada pelajaran, berperilaku positif, ceria, kooperatif, gampang berteman dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Sedangkan anak yang tidak sarapan, tidak dapat berpikir dengan baik dan selalu kelihatan malas. Dengan sarapan, asupan gizi untuk otot dan otak terpenuhi, otot dan otak yang mendapatkan asupan baik akan bekerja baik pula, sehingga konsentrasi dan perfoma tubuh menjadi lebih baik.

5.      Mencegah naiknya berat badan
Saat ini remaja banyak mengeluhkan berat badan yang kurang ideal sehingga banyak program diet dilakukan. Namun, masih banyak remaja bahkan orang dewasa melakukan diet yang salah dengan membatasi makanan dan tidak melakukan sarapan. Melewatkan sarapan justru dapat memicu naiknya berat badan, karena dengan tidak sarapan dapat mendorong tubuh untuk menyimpan kalori. Selain itu, metabolisme tubuh menjadi tidak seimbang. Oleh karena itu, orang yang sarapan berat badannya cenderung stabil dan normal.

Hal-hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya kegiatan sarapan itu. Kegiatan sederhana dan cenderung sepele itu justru memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan dan kesehatan. Namun, sayangnya kegiatan sarapan masih tergolong awam dan belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Masih banyak masyarakat, terutama di Indonesia yang menyepelekan kegiatan sarapan karena berbagai alasan. Dari sebuah sumber menyebutkan bahwa sekitar 16,9% - 59% anak sekolah dan remaja tidak terbiasa sarapan, sedangkan orang dewasa terhitung sekitar 31,3%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 25% warga Indonesia masih belum menjadikan sarapan sebagai suatu kebutuhan. Padahal, segala aktivitas yang dimulai dari pagi membutuhkan “charger” tubuh seperti sarapan. Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010, 44,6% anak usia sekolah mengonsumsi sarapan sebanyak 15% gizi harian, padahal jumlah gizi yang harus dapat dipenuhi dari sarapan adalah 15% - 30%. Disamping itu, sebuah survei yang dilakukan di sebuah daerah, 46,3% anak selalu sarapan, 41,3% kadang-kadang sarapan dan sisanya 12,4% tidak pernah sarapan. Artinya asupan gizi yang dikonsumsi dari sarapan oleh masyarakat, terutama anak-anak di Indonesia masih tergolong rendah dan cukup memprihatinkan.
Data lain dari Dinas Kesehatan RI  juga menunjukkan prevalensi anak gizi kurang pada tahun 2000 setelah Indonesia mengalami krisis multi dimensi terjadi kenaikan yaitu 26,1% pada tahun 2001 menjadi 27,5% pada tahun 2003. Berdasarkan data tahun 2010, status gizi buruk di Indonesia mencapai 4,9% sementara gizi kurang mencapai 13%. Meskipun kasus gizi kurang dan gizi buruk mengalami penurunan jika dilihat dari data di atas, namun masalah status gizi masih merupakan masalah serius pada sebagian besar Kabupaten/Kota di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2004, menunjukkan masalah gizi terjadi di 77,3% kabupaten dan 56% kota di Indonesia. Data tersebut menunjukkan lemahnya asupan gizi anak di Indonesia. Padahal sarapan dapat meningkatkan asupan gizi karena sarapan cukup memiliki peran terhadap gizi dalam tubuh. Sehingga dengan sarapan, kemungkinan asupan gizi anak dapat membaik.
Melewatkan kegiatan sarapan dapat mengakibatkan berbaagai risiko dalam jangka waktu yang cepat atau lambat, terutama untuk kesehatan tubuh. Menurut ( Wiharyanti, 2006 ) Cadangan gula darah ( glukosa ) dalam tubuh seseorang hanya cukup untuk aktivitas dua sampai tiga jam di pagi hari. Tanpa sarapan seseorang akan mengalami hipoglikemia atau kadar glukosa di bawah normal. Kadar glukosa normal antara 70 hingga 110 mg/dl. Hipoglikemia mengakibatkan tubuh gemetaran, pusing dan sakit berkonsentras. Hal tersebut dikarenakan kekurangan glukosa yang merupakan sumber energi bagi otak. Anak yang tidak sarapan rentan terhadap Hipoglikemia. Sementara, sarapan yang tidak memadai masih memungkinkan terjadinya Hipoglikemia pada anak. Sehingga, untuk mencapai kondisi tubuh yang optimal di pagi hari, sarapan saja tidak cukup, diperlukan sarapan dengan menu lengkap, dalam arti harus mengandung karbohidrat, sayuran dan daging. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa menu sarapan pagi yang mengandung karbohidrat kompleks memberikan pengaruh positif bagi anak dalam mempertahankan kemampuan konsentrasi belajar dan mengingat di sekolah.
Permasalahan yang menjadikan seringnya masyarakat, terutama anak-anak melewatkan waktu sarapan adalah karena berbagai faktor, diantaranya adalah sulit untuk bangun pagi, kekhawatiran terlambat masuk kerja atau sekolah sehingga mengabaikan sarapan dan menundanya hingga waktu istirahat berikutnya, faktor ekonomi yang menyebabkan tertundanya sarapan karena tidak mampu menyiapkan makanan sarapan, tidak memahami pentingnya sarapan sehingga cenderung menunda dan meninggalkan makan pagi, bagi para ibu banyak yang disebabkan karena sulit mengajak anaknya untuk sarapan.
Jika dilihat sekilas, permasalahan ini tentu sangat sepele dan tidak menjadi masalah besar. Hanya tentang kebiasaan dan kebutuhan gizi di pagi hari. Namun, apabila terus dibiarkan dalam waktu yang lama tentu akan menyebabkan dampak serius terutama dalam hal kesehatan. Melewatkan sarapan dapat mendatangkan berbagai macam penyakit, terutama yang berhubungan dengan metabolisme yang merupakan proses penting bagi tubuh. Oleh karena itu diperlukan adanya penyuluhan untuk membiasakan masyarakat di Indonesia tidak melewatkan waktu beberapa menit di pagi hari untuk mengkonsumsi gizi untuk mempertahankan kesehatan tubuhnya sehingga tercipta masyarakat sehat dengan kebiasaan yang sehat pula.

 Sumber :

Arijanto, Andry dkk. 2008. Hubungan Antara Kebiasaan Sarapan dengan Prestasi Belajar yang Dicapai dalam Bidang Ipa, Ips, Olah Raga, Total Nilai dan Daya Ingat pada Siswa Kelas VI SDN Pranti Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Surabaya : Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Indraguna P, G N, dkk. 2013. Pemeriksaan Status Gizi dan Pengenalan Sarapan Sehat pada Siswa SDN No. 1 Tianyar Barat Kubu Karangasem. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas-Ilmu Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Judarwano, Widodo. 2006 . Perilaku Makan Anak Sekolah. Jakarta Pusat : Picky Eaters Clinic
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Jejaring Informasi Pangan dan Gizi vol. XVII no.2
Masa Depan Berawal dari Sarapan . koran-sindo.com terbit 2013, 9 desember. Diunduh pada Sabtu, 15 maret 2014 pk.19.06

 Wiharyanti, Rooslain. 2006. Anak yang Sarapan Daya Ingatnya Lebih Baik. www.bernas.co.id diunduh pada Sabtu, 15 maret 2014 pk. 19.30

Jumat, 26 Oktober 2012

Orang-Orang Hebat Di Sekitarku

Mereka adalah motivasi, yang memberi sebuah bahkan sejuta inspirasi untuk hidupku.

Firstly, my beloved dad of course, Ade Atmaja. Beliau adalah gambaran manusia tegas dan bijaksana. Makhluk yang Tuhan kirimkan untuk melindungi aku, mama, dan dua adik kecilku. Aku menjadi sosok yang tidak pernah mengenal lelah dan menyerah adalah karena beliau selalu mendorongku ketika aku berhenti berjalan, memapahku ketika aku terjatuh, dan menggendongku ketika aku benar-benar lumpuh. Beliau yang selalu meyakinkan aku bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik. Aku selalu percaya bahwa hidup ini tidak sia-sia karena beliau pernah berkata : “sitta, tidak ada manusia yang terlahir sia-sia”. Beliau orang hebat. Beliau benar-benar orang hebat dan aku nyaris tidak punya kata untuk menggambarkan betapa hebatnya beliau. Beliau yang selalu mengajarkan aku untuk sabar menghadapi segala ujian, berat atau ringan, yang aku terima hingga aku menjadi sosok yang tidak pernah mengeluhkan apapun yang menimpaku.

Secondly, mama yang aku sayangi, Rita Zahara Bachrat. Beliau adalah bentuk kasih sayang Tuhan untukku. Mama selalu mengajarkan aku untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki, bukan iri terhadap apa yang orang lain punya. Sosok cantik itu nyaris tidak pernah bersedih bahkan ketika beliau menghadapi saat-saat yang sangat menyedihkan, beliau masih menunjukkan raut bahagia, untuk anak-anaknya, untuk orang-orang disekitarnya, agar tidak ada lagi yang menangis selain hatinya. Beliau benar-benar peri kirimaan Tuhan yang luar biasa. Beliau adalah guru atas ketegaranku. Beliau membuatku selalu berani berada di tempat asing, sejauh manapun jarakku dari rumah, aku selalu bisa bertahan karena beliau mengajarkan aku untuk bisa beradaptasi dengan berbagai macam kondisi lingkungan sehingga aku tidak pernah takut. Beliau pernah bilang, “jangan pernah takut jauh dari mama, dari bapa, atau dari siapapun, dimanapun kamu, ada Allah disitu.”

and the next,

Dea Novi Rahmawati. Dia adikku. Adik yang juga teman terbaikku. Dia selalu menjadi penghibur dimanapun dia berada. Dia, sosok yang selalu ceria, nyaris tidak pernah merasa sedih. Aku kadang iri bagaimana bibir itu bisa terus menyunggingkan senyuman, bahkan ketika keadaan sedang mencekiknya.
Selalu ada pertengkaran kecil antara kami, tidak jarang aku menggertaknya, tapi sungguh, demi apapun aku menyayanginya.
Dia sosok ambisius, dia selalu berusaha untuk mencapai apa yg ingin ia dapatkan, apapun itu. Menjadi dancer, dia sudah menggenggamnya. Menjadi top model, dia juga dengan giat mengejarnya. Menjadi actress, dia berusaha mencapainya. Dia sosok yang tidak pernah menyerah untuk mimpinya. Dia selalu serius untuk ambisinya dan aku sangat salutkan itu.

Adik kecilku, Dea Syifa Az-zahra, yang akan selalu menjadi adik kecilku sampai kapanpun. Anak ini mengajarkan aku bagaimana menjadi pribadi teratur. Suatu ketika, dia pernah bercerita tentang cita-citanya, “nanti, ifa mau sekolah di jogja, terus kuliah di ugm ambil arsitek.” Aku hanya tersenyum saat itu sambil berkata “aamiin” dalam hati. Dia manja, sangaaaat manja, tapi mama pernah bilang bahwa dari ketiga anaknya, syifa yang paling baik merawat mama dan bapa ketika sakit dan syifa paling rapi membereskan kamar, bahkan ketika sosok tomboy itu dipoles make up, mama bilang, syifa paling cantik.

Usu, Siti Balkis Bachrat adalah wanita perkasa dan tangguh. Pribadinya yang tidak mudah menyerah selalu menginspirasiku untuk menjadi manusia yang tidak pernah menyerah juga. Dia tante yang juga sahabatku. Sosok yang penyabar dan penuh kasih membuat aku merasakan 'ibu' ketika aku jauh dari mama. Beliau yang mengajarkan aku untuk tidak mengeluh dan tidak mudah putus asa. Pernah dulu, ketika aku sedang berada di puncak emosiku, beliau berkata, "Menangislah, nangis itu wajar kok. Kadang masalah menjadi terasa sedikit ringan dengan menangis."

Sahabat-sahabatku,
Erna Hasnatul Hasanah. Dia benar-benar memberiku motivasi untuk lebih bersyukur menghadapi hidup ini. Sosok itu tegar sekali. Dia yang mengajarkan aku untuk selalu tersenyum menghadapi segala bentuk kesedihan. Banyak hal yang aku pelajari darinya, banyak sekali, tentang kesabaran, tentang ketegaran, dan tentang persahabatan. Dia membuat aku memahami bahwa Tuhan selalu berperan dalam lika-liku kehidupan manusia, maka dari itu aku selalu menyertakan Tuhan di setiap aktivitasku. Dia adalah kakak yang selalu menjagaku. Aku selalu merasa aman berada didekatnya.

Rizqa Anggraeni. Dia sahabat yang juga adikku. Pribadinya yang selalu disenangi membuat aku selalu iri. Sosoknya lembut, dia nyaris tidak pernah marah. Dia adalah sebuah motivasiku untuk selalu bangkit ketika jatuh. Dia adalah sahabat yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri.

Ilham Apriyanto. Orang ini memberiku banyaak sekali pelajaran mengenai hidup. Dia mengajarkan aku bahwa bahagia adalah ketika hati kita tersenyum, bahwa bahagia tidak harus karena materi. Dia membuat aku memahami arti sebuah perjuangan dan tujuan hidup. Dia yang membuat aku mengerti bahwa menjadi hebat tidak harus menjadi orang nomor satu atau memiliki segalanya, tapi cukup menjadi diri sendiri ketika orang lain berusaha mengubah hidupmu. Darinya aku bisa mengetahui karang yang perkasa itu pun bisa berubah jika cinta menyentuhnya.

Nurul janah. Dia anak kecil yang sudah sangat dewasa :D
Manusia yang membuat aku mengerti bahwa setetes keringat perjuangan adalah sebutir permata. Darinya aku tahu bahwa hidup memang sebuah perjalanan panjang yang disetiap persimpangannya selalu dihadapkan dengan pilihan. Dia yang membuat aku tak pernah lelah untuk berjuang, karena sepahit apapun perjuangan itu akan selalu berakhir manis. Dia tidak pernah merasa lelah walaupun sebenarnya ia sangat lelah. Dia luar biasa.

Herning Noviana, adalah seperti ayam goreng, mengenyangkan :D
Satu kalimat yang membuatku kenyang ketika aku sudah lelah menghadapi berbagai tes masuk perguruan tinggi, “ketuk semua pintu sit ! dari sekian banyak pintu yang kita ketuk, pasti ada salah satu yang terbuka.” Sosok ini luar biasa, dia selalu serius dalam mencapai ambisi nya. Aku selalu ingin seperti dia yang sangat mencintai Fisika. Tidak semua orang bisa mencintai fisika yang mengerikan itu, tapi dia bisa dan itu luar biasa. Selain itu, hal yang membuat aku iri adalah tangannya yang lihai menggambar. Aku selalu ingin bisa menggambar gadis cantik tapi hasilnya selalu menjadi gadis buruk rupa -_-

Rr. Renita Karina Dewi adalah sebuah gambaran manusia luar biasa. Dia selalu bisa tertawa dan membawa suasana ceria walaupun hatinya sedang menangis. Pernah suatu hari, dia menangis, benar-benar meluapkan emosi di depanku tanpa ada yang tahu. Ketika itu aku paham betapa dia berusaha keras menutupi air matanya dan tidak semua orang bisa melakukannya. Dia gadis yang kuat, yang selalu bisa menciptakan kebahagiaan bahkan ketika dia sendiri lelah atas hidupnya. Aku ingin seperti dia yang rendah hati dan tidak pernah rendah diri.
Annisa Kamilia Rachman. Gadis bungsu yang selalu menjadi kakak untukku dan untuk semua sahabatku. Dia adalah manusia bijak, mungkin Mario Teguh adalah muridnya :D
Dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mojang bandung ini sangat penyayang, juga penyabar. Seberat apapun rintangan di depannya, dia hadapi. Sosoknya telaten, rapi, dan selalu mengatur segalanya dengan sempurna. Dia adalah sahabat Kimia, seperti via yang mencintai fisika, dia juga mencintai Kimia dan aku selalu ingin menyerap ilmu kimia yang dia punya :D

Saras Widaningrum. Seorang hamba Allah yang benar-benar luar biasa. Gadis yang tidak pernah lepas dari rasa syukur. Darinya aku tahu bahwa segala yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan, dan apapun yang Tuhan berikan tidak semua orang memiliknya juga. Pribadi yang ulet, apapun ia kerjakan dengan baik dan tanpa keluhan.

Widi Pradheka adalah sosok sahabat yang juga kakak terbaik. Layaknya seorang kakak, dia melindungi, bahkan ketika dirinya sendiri dalam posisi tidak aman, dia akan tetap melindungi. Dia adalah orang pertama yang akan stres ketika sahabat2nya dalam sebuah pertengkaran. Aku selalu mempelajari semangatnya yang berkobar. Dia benar-benar istimewa.

At the last but not the least, semua sahabatku, semua guruku, bahkan semua orang yang membenciku yang tidak mungkin aku sebutkan satu-satu disini. Kalian luar biasa. Kalian hebat. Kalian adalah pribadi yang selalu membuatku termotivasi untuk membuat hidupku lebih hidup.

Selasa, 23 Oktober 2012

MIMPI MAYA

Bisakah aku sehari saja terbebas dari sebuah tuntutan ? Tuntutan orang tua terutama. Entahlah harus ku sebut apa aku ini. Anak durhaka kah ? atau justru anak penurut ?

Aku tahu mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku, tapi apakah mereka harus mempengaruhi cita-citaku juga ?
Sejak kecil, aku tidak terbiasa melawan mereka, tentu saja karena aku takut mendapat kutukan seperti malin kundang atau sejenisnya. Aku selalu menuruti apa yang mereka perintahkan karena aku tahu mereka pasti tahu yang terbaik untukku.
Sekarang, aku bergelar alumnus dari sebuah SMA dan mereka ‘memaksaku’ untuk melanjutkan pendidikanku ke dunia medis. Apa aku masih bisa menyebut bahwa mereka tahu yang terbaik ? Kurasa kali ini keyakinanku meleset. Aku lebih suka bergelut dengan dunia kepenulisan daripada harus mengenal berbagai jenis obat-obatan, dan lagi-lagi, sebagai seorang anak aku harus ‘rela’ mewujudkan mimpi mereka dan cita-citaku menjadi seorang penulis hanya sebuah mimpi maya, seperti namaku, Maya.
Papaku adalah seorang dokter spesialis organ dalam dan mamaku seorang apoteker. Mungkin itu sebabnya mereka menginginkan aku masuk ke dunia medis agar aku bisa memiliki satu tujuan yang sama, menyembuhkan orang sakit. Mendengar profesi mereka saja aroma obat-obatan segera merajai sistem pernafasanku dan membuatnya sesak, aneh, bukan ? Tuhaaan, aku bukan boneka susan yang bercita-cita menjadi dokter. Tidak adil sekali untukku. Apa mereka tidak melihat bakat anaknya sesungguhnya ? Ku rasa buku harian yang tumpukannya sudah setinggi badanku sudah cukup menjelaskan bahwa aku suka menulis.

***
Mengikuti segala jenis tes masuk perguruan tinggi adalah kegiatan yang sedang aku geluti saat ini. Melelahkan, sangat melelahkan. Apalagi untuk bersaing dengan para calon mahasiswa kedokteran itu tidak mudah dan harus berkemampuan ekstra, sedangkan aku tidak sepintar Jessica, juara umum SMA-ku dulu, aku hanya anak yang berkemampuan rata-rata. Ironisnya, orangtuaku terus saja mendorongku untuk bisa lolos di Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi ternama. Mereka memang memiliki antusiasme tinggi dalam hal obsesi dan aku sangat membenci itu karena pasti aku yang menjadi korban atas obsesi mereka. Kenapa bukan abangku ? Abang ? Dia terlalu cuek, bahkan sangat cuek. Abangku tergolong ke dalam kategori anak yang susah diatur, mungkin karena dia laki-laki. Dia terlalu sibuk dengan kuliah dan design projectnya. Dulu, abang juga disetir untuk menjadi seorang dokter, tapi dengan tegas ia menolak dan masuk ke dunia yang ia sukai, design grafis. Mama dan papa tidak bisa memaksanya karena abang adalah tipe orang yang nekad dan keras. Kenapa harus aku yang menggantikan posisi abang beberapa tahun lalu. Apa aku harus membantah juga ? Rasanya sangat tidak tega, tapi bagaimana pun aku tidak ingin terjun di dunia yang aku sendiri sama sekali tidak ingin mengenalnya.


***


“May, ada lomba menulis cerpen lho, ikutan nggak ? Cerpenmu kan sering dimuat di majalah,” kata Ninda, temanku yang saat itu kami sedang belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi tiga hari yang akan datang.
“Menulis cerpen ? Kapan ? Aku mau,” sontak aku menutup buku biologi yang sedang kubaca.
“Emm.. Masih ada waktu sekitar tiga minggu kok kayaknya. Hadiahnya lumayan lho, juara I delapan juta plus tropi,” ujar Ninda membelalakkan matanya sembari mengangkat delapan jari tangannya.
“Waaaah, boleh tuh, pampletnya mana ? Aku pinjem dong,” pintaku sambil meringis.
“Besok deh aku bawain,” jawab Ninda, aku mengangkan jempol tanganku tanda setuju.
***
Suasana hening di meja makan malam ini membuat sendok dan garpuku terdengar nyaring saat menyentuh permukaan piring. Sesekali aku mendehem, memecah keheningan. Mama, papa, dan abang menoleh sebentar kemudian melanjutkan makan lagi.
Gimana persiapan tesmu, May ?”  papa bertanya. Tentu saja pertanyaan yang tidak aku harapkan.
“Yah begitulah,” jawabku singkat sembari menyuap sesendok sayur ke dalam mulutku.
“Mama perhatikan, sepertinya kamu kurang serius. Jangan main-main May, ini demi masa depanmu. Sudah dua perguruan tinggi tidak menerimamu, apa kamu mau gagal untuk ketiga kalinya ?” mama angkat bicara sekaligus menghentikan gerak mulutku yang sedang asyik mengunyah.
Aku hanya diam. Demi masa depanku ? Omong kosong apa itu ? Apakah masa depan hanya punya satu jalan, menjadi dokter ?
Sialnya, bagaimana pun, aku tidak tega untuk membantah mereka, aku terlalu takut dan terlalu sayang pada mereka.
“Iya, kali ini aku serius,” kataku menunduk, “oh ya, ada lomba menulis cerpen tiga minggu lagi, aku mau ikut, hadiahnya delapan juta plus tropi,” sambungku semangat, membelalak meniru gaya Ninda.
“Untuk apa ikut lomba-lomba semacam itu ? Delapan juta, mama bisa kasih kalau kamu masuk kedokteran. Lagi pula menjadi penulis tidak menjamin masa depanmu menjadi baik. Fokus untuk tesmu dulu,” jawab mama sekaligus mengubah ekspresi wajahku menjadi sangat kecut.
Menjadi penulis tidak menjamin masa depan ? Apa maksudnya ? Banyak penulis yang lebih kaya dari para dokter.
***

Hari ini tiba, saat yang paling ditunggu, bukan olehku tapi oleh orangtuaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka, persiapanku kali ini sudah matang, ku rasa.
Apa memakai jas putih berkalungkan stetoskop dan berjalan di koridor rumah sakit adalah suatu kebanggaan ? Lalu bagaimana dengan profesi lain, penulis misalnya. Apa mereka masih kurang membanggakan ? Entahlah, semacam ada ketertarikan tersendiri dalam jiwa para orang tua agar anaknya menjadi seorang dokter. Apa mereka pikir anak-anaknya adalah boneka susan yang bercita-cita menyembuhkan orang sakit ? Apa mereka pikir dalam kehidupan ini hanya ada orang sakit ?

Gedung tes sudah ramai saat aku tiba disana tapi aku merasa sangat sendiri. Menulis puluhan lembar cerita ku kira lebih mudah daripada mengerjakan 10 soal tes, tapi bagaimana pun aku harus siap karena bekal ilmuku sudah ku cukupi sejak beberapa hari bahkan bulan yang lalu.
Aku duduk bersandar di sebuah kursi panjang yang sudah ditempati beberapa peserta tes, disana aku memulai kebiasaanku, menulis. Buku kecil yang aku bawa atau secarik kertas yang ada di tanganku atau dimanapun ada media yang kosong tanganku reflek menari, menyusun kata kemudian menjadi kalimat, entahlah mengapa kegiatan itu ku rasa sangat menyenangkan.
Tepat di sebelahku seorang anak laki-laki sedang serius mencorat-coret lembar demi lembar dari sebuah buku yang ia bawa. Buku itu  mirip koleksi gambar. Aku terbelalak melihat tangannya yang begitu lihai memainkan pensilnya dan membentuk gambar yang cantik. “Kenapa anak yang jago menggambar bisa ikut tes kedokteran ? Kenapa dia nggak masuk ke jurusan yang sesuai, seni rupa misalnya,” bathinku, “mungkin dia bernasib sama sepertiku,” tebakku.
“Waah keren banget, kamu emang hobi menggambar ya ?” tanyaku membuka pembicaraan.
Anak itu menoleh kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa nggak masuk ke jurusan yang berbau seni ?" tanyaku lagi, anak itu tetap diam sambil mengayunkan pensilnya ke permukaan kertas.
"Apa hubungannya Kedokteran dengan menggambar ?” kataku penasaran.
“Mungkin aku bisa menggambar organ manusia nantinya,” jawabnya sedikit bercanda, aku spontan tertawa mendengar jawabannya.
“Apa kamu dipaksa orang tuamu untuk masuk kedokteran juga ?” tanyaku serius.
“Juga ? Kamu dipaksa orangtuamu ?” ujarnya balik bertanya.
“Bisa dibilang seperti itu,” jawabku menunduk.
“Nasib kita mungkin sama, aku sebenarnya ingin menjadi pelukis ternama seperti Pablo Picasso misalnya, tapi orangtuaku bilang menjadi pelukis belum tentu hidup kita terjamin,” ia mengehembuskan nafas, wajahnya mulai serius, “belum tentu terjamin ? Apa menjadi dokter hidup kita akan terjamin ?Gimana kalau malah stres di tengah jalan ? Entahlah, tapi aku coba jalani semua, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mereka, mereka pasti tahu yang terbaik, bukan ? Menjadi seorang dokter yang juga pelukis, tidak buruk ku rasa,” katanya tersenyum. Aku terdiam sejenak, benar juga apa yang anak ini bilang, menjadi seorang dokter yang juga penulis, tidak begitu buruk, pikirku.
“By the way, aku Fahreza, Fahreza Adhiputra, panggil saja Eza,” sambungnya mengulurkan tangan.
“Maya, Rizmaya Azalea,” jawabku menerima uluran tangannya.
***
Hari ini tepat satu minggu setelah tes, aku masih berpikir tentang lomba menulis cerpen beberapa minggu yang akan datang. Sebenarnya aku ingin diam-diam mengirimkan cerpenku, tapi sudahlah, aku bisa mengikuti lomba-lomba sejenis di kesempatan berikutnya.
Minggu berikutnya dan berikutnya, aku masih bergalau-ria menunggu hasil tes beberapa waktu lalu dan ketika tiba waktunya, seperti yang mama dan papa harapkan, aku lolos, aku masuk ke fakultas kedokteran. Tentu saja aku senang jika mereka senang, ku rasa memasuki dunia yang asing tidak begitu buruk jika dijalani, maka aku akan berusaha menjalaninya.
Mataku memperhatikan satu persatu peserta yang lolos, kemudian terhenti di satu nama yang tak asing, Fahreza Adhiputra, dia lolos juga. Aku merasa keputusan ini semakin tidak buruk karena ada anak yang senasib yang juga lolos bersamaku. Dokter yang juga pelukis, dokter yang juga penulis, apa boleh ? Hatiku tertawa memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Ninda datang, langsung menuju kamarku dan berteriak, “Selamat ya May, kamu kereeeen banget.”
“Ini anak, baru nongol langsung berisik. Menurutmu lolos tes itu hal yang keren ?” kataku heran.
“Bukan, ini lho, lihat,” katanya lagi sembari menunjukan print out Pemenang Lomba Menulis Cerpen Nasional.
“Juara I, Rizmaya Azalea,” aku membacanya, “ini aku ? Ini namaku ? Aku juara I ??” kataku berteriak tak percaya, “tapi, siapa yang ngirim cerpenku ?” sambungku dengan wajah sedikit heran.
“Abangmu ?” jawab Ninda tersenyum.
“Abangku ? Gimana bisa ?” tanyaku semakin heran.
“Iya, abangmu. Beberapa waktu lalu dia menghubungiku dan minta informasi tentang lomba menulis cerpen itu. Dia bilang akan memasukkanmu sebagai peserta lomba dan mengirim karyamu, tapi aku dilarang bilang sampai pengumuman tiba, gitu,” Ninda menjelaskan.
“Abaaaaaaaaang !!!” Teriakku senang dan masih tak percaya.
Menjadi dokter yang juga penulis, ku rasa itu benar-benar tidak buruk. Aku bisa mewujudkan obsesi mama papa dan tetap bisa mempertahankan hobiku.



Senin, 01 Oktober 2012

Rasa dan Asa


It’s extremely hurt, God. But it seems that he dont ever care about that. Really tearfull.
But what can i do ? I can’t do anything except allowing him to keep on that.”


Jika mengagumimu adalah hal terbodoh yang aku lakukan, maka biarkanlah.
Aku cukup menikmatinya. Aku menikmati perasaan yang sebenarnya menyiksaku perlahan.
Bisakah kamu menyadari sedikit saja bahwa aku selalu memperhatikanmu walaupun hanya mampu memandangmu sedetik dua detik saja. Sampai kapan kamu membiarkan aku merasa tidak nyaman seperti ini?
Memang salahku yang tak pernah berani menunjukkan rasaku. Konyol sekali.
Sayangnya aku hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu.
Aku terlalu tertutup untuk mengungkapkan perasaanku, aku terlalu diam.
Ada di dekatmu adalah hal termanis walaupun kita tidak berdekatan tapi aku bisa mendengar hatiku berbisik “Tuhan terimakasih”, walaupun kamu sama sekali tak melihatku tapi aku bisa merasakan bola mataku mengarah selalu  kepadamu.
Aku paham, cinta memang tak bisa dipaksakan tapi apakah rasaku ini memaksaksamu untuk harus merasakan hal yang sama seperti aku ? Sama sekali tidak ! Aku hanya ingin cinta memberiku waktu untuk tetap bisa mengagumimu, itu saja.

Rabu, 06 Juni 2012

Mama Ada Dimana ??

“Adek kenapa belum bobo ?” tanya kak Rena yang memergokiku masih terjaga. Aku cuma diam, nggak tahu harus jawab apa karena setiap malam jawabanku tetap sama, aku menunggu mama.
“Kak”  panggilku dengan suara setengah berbisik.
“Hm” kak Rena menyahut sambil tersenyum.
“Kenapa mama nggak pernah nemenin aku setiap sebelum tidur kayak dulu. Mama dimana sih ?” tanyaku. Kak Rena seperti bingung, mungkin pertanyaanku mengganggunya.
“Mama masih sibuk di kantor. Kamu bobo ya, sebentar lagi mama pulang kok.” Jawabnya.
Aku tahu kak Rena bohong, matanya yang bilang, tapi aku pura-pura percaya. Aku menuruti perintah kakak untuk tidur karena besok aku harus sekolah.
Kak Rena adalah mama keduaku, bagaimana tidak, semua pekerjaan mama mulai dari membangunkan aku, menyiapkan sarapan, mengantarkan aku sekolah, menyiapkan makan siang, dan menemaniku tidur, kak Rena yang melakukannya. Dulu, saat Papa masih ada, mama yang melakukan semua itu tapi sekarang setelah dua tahun yang lalu Papa dipanggil Tuhan mama berubah, mama jarang ada di rumah, mama sering memarahi aku dan kak Rena, nggak tahu kenapa. Mungkin mama marah pada Tuhan karena mengambil Papa sehingga beliau meninggalkan tugasnya, mungkin mama sebel sama aku karena sering lupa mengerjakan PR sehingga sering meninggalkan aku, atau mungkin mama memang sedang sibuk jadi sering meninggalkan rumah. Entahlah, aku cuma bisa mengira-ngira.
Aku sering memergoki kak Rena nangis, setiap ku tanya kenapa ia selalu menjawab “nggak apa-apa kok, mata kakak cuma kepedesan karena ngiris ngiris bawang.”
Huh, kak Rena pasti bohong lagi. Aku heran kenapa orang-orang di rumah ini sering banget bohongin aku mentang-mentang aku masih 14 tahun.
Mama ada di rumah dan kak Rena nggak kuliah hanya setiap hari minggu. Walaupun Papa nggak ada, aku tetap bisa merasakan keberadaannya. Satu hal yang aku sayangkan adalah aku, mama, dan kak Rena hanya saling diam melewati hari minggu yang menurutku indah ini.
“Tuhan, bolehkan aku protes untuk hal ini ? aku ingin mereka tahu bahwa aku ingin seperti dulu saat kak Rena dan mama masih sering bercanda dan menghiburku, saat tawaku masih mudah sekali aku dapatkan.” Bathinku.
Aku mencoba memberanikan diri bertanya pada mama yang sedang membaca koran sambil merokok, beberapa bulan ini mama merokok padahal dulu mama sering memarahi Papa dan bilang “merokok itu kebiasaan yang nggak sehat” tapi kenapa sekarang mama merokok. Mana mama ku yang dulu ?
“Ma..” kataku sedikit takut.
“Hm..” jawab mama sambil tetap membaca korannya.
“Aku boleh tanya ?” kataku lagi.
“Apa ?” mama menjawab dengan mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Kenapa mama berubah ? Kenapa mama merokok ? Kenapa mama nggak pake jilbab kayak kak Rena ? Kenapa...” belum selesai aku menanyakan hal-hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan, mama langsung membanting korannya dan mematikan rokoknya.
“Siapa yang ngajari kamu nanya-nanya kayak gitu ? Kakakmu ?” kata mama teriak.
Tentu saja aku kaget, “nggak ma, aku cuma pengen tahu.”
Kemudian mama langsung keluar membawa tasnya dan menyalakan mobil. Aku membuntuti beliau dengan terus bertanya “Kenapa mama selalu pergi dan nggak bilang ?”
Mobil hitam mama melaju dengan kecepatan tinggi, aku melihatnya sampai mobil itu menghilang dari pandanganku. Aku lari menuju kamarku dan menangis. Aku nggak bisa membenci mama karena aku sayang mama tapi mama selalu pergi. Mama ada dimana sekarang aku nggak tahu.
Satu jam setelah aku manangis, kak Rena memburu-buru mengajakku ke rumah sakit. Tentu saja aku bingung dan ketakutan.
“Mama kecelakaan dek,”  jawab kak Rena setelah aku bertanya ada apa.
Dengan cepat jantungku berdetak, semoga nggak ada hal buruk terjadi.
Tiba di kamar tempat mama dirawat, aku menangis lagi melihat mama terbaring dengan selang dan infus di bagian tubuhnya.
“Maafin mama ya Bella,” kata mama dengan suara sedikit bergetar.
“Mama nggak pernah salah kok.” Kataku sembari terus menangis dan seketika itu mama tersenyum.
“Rena, maafin mama ya, jaga adikmu,” mama berujar sambil kemudian mengucap istighfar berkali-kali. Kak Rena hanya mengangguk dan menangis.
“Mama mau nyusul papa, kalian yang akur ya.” Kata mama lagi dengan sedikit menangis.
“Mama nggak boleh kemana-mana lagi,” aku melarang tapi mama malah tersenyum dan membaca dua kalimat syahadat kemudian terpejam. Beliau pergi, menemui Tuhan dan menyusul papa. Tangisku meledak di situ sambil terus memanggil mama.
Beberapa hari setelah kepergian mama. Setiap malam kak Rena tidur di kamarku. Aku selalu bertanya, “sekarang mama dimana ya kak ? Lagi ngapain ?”
“Mama di atas sana, mungkin lagi ngobrol sama papa,” jawab kak Rena tersenyum kemudian ia tertidur.
Aku membuka jendela kamarku dan melihat ke langit, “bintang yang paling terang itu, engkau kah mama ?” bathinku.


Dimuat di Koran Bernas pada September 2011
Oleh Dede Sitta Fajarwati

Untuk A, B, C, D, E, ....., Z


Ini hanya tentang sepenggal kisah cintaku yang sebenarnya gaje pake banget.
Aku tidak seperti mereka yang mudah jatuh cinta kemudian pacaran kemudian putus kemudian jatuh cinta lagi. Aku sangat berbeda. Dan aku membenci perbedaan itu. Aku terlalu penakut untuk mengambil risiko karena pasti hanya akan ada dua kemungkinan, disakiti atau menyakiti.
Anyway, i wanna say something for somebody who’s ever fill my mind.

Untuk A, terimakasih sudah menjadi cinta pertamaku walaupun aku belum dan tidak akan sempat mengatakan rasa sukaku, bahkan sampai hari ini. Saat itu masa yang cukup memberi kenangan indah di masa merah putihku. Memang sangat sulit dipercaya anak berusia 11 tahun sudah bisa menamai rasa itu cinta. Entahlah, dari manapun aku paham itu cinta, yang pasti saat itu aku merasakan ada energi yang bergetar disekitar hatiku, ada semangat yang bangkit di jiwaku, dan apapun tentangmu membuatku senang. Sayangnya, sebelum aku membagi rasaku dan menceritakan perasaanku, salah satu temanku menyukaimu, hal menyebalkan lainnya adalah dia cantik, tentu saja dia lebih cantik, dan ku pikir kau akan lebih menyukainya. Ketika itu pula aku mundur. Anak yang malang. Walaupun beberapa waktu aku sempat ingin menghidupkan rasaku lagi karena tingkahmu yang membuat aku GR. 

Untuk B, entah harus ku sebut apa rasa ini karena awalnya aku hanya mengagumimu saja tapi siapa yang tahu ternyata kagum ini menjadi rasa suka. Tahun pertama SMP adalah awal yang baik untuk melupakan A dan aku menemukanmu. Bulan pertama memang belum ada tanda apapun tapi bulan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, sepertinya ada sesuatu terjadi pada hatimu, dari wajahmu menunjukkan seperti ada sebuah rasa semacam cinta untukku. Aku tidak begitu menghiraukannya karena aku takut itu hanya perasaanku saja. Tapi ternyata cinta itu memang ada untukku, tenyata kamu sudah menungguku sampai tahun terakhir masa putih biru dulu. Sayangnya, kita hanya bisa bersahabat saja. Sebenarnya hanya masalah waktu, kau mengungkapkan semua itu  setelah ada orang lain memiliku. Lalu apa yang harus aku lakukan ? Meninggalkannya untukmu ? Tentu saja tidak, aku akan menjadi orang jahat jika itu terjadi, lagipula salahmu yang terlalu mengulur waktu. Dan yang mengejutkan adalah, kau malah mendekati sahabatku hanya agar tetap bisa menemuiku. Hal lain yang mengejutkan adalah sampai hari ini pun kau masih saja mencoba memunculkan dirimu, kau bilang bahwa kau masih mengagumiku dan lain-lain. Lucu sekali. Sebenarnya aku sudah tidak begitu menghiraukannya karena selain kau sendiri sudah ada yang punya, akupun sudah tidak ada rasa seperti 5 tahun yang lalu. Tapi terimakasih telah menjadi orang pertama yang memberiku cokelat dan menciptakan lagu untukku.

Untuk C, seminggu pelatihan di Puslitbang Gizi Bogor benar-benar menyimpan kenangan indah dan lolos olimpiade MIPA adalah anugrah terindah buatku. Disana kita dipertemukan walaupun aku sama sekali tidak bisa mendekatimu, aku terlalu malu. Senyummu terlalu manis, wajahmu terlalu indah, pasti banyak yang menyukaimu juga saat itu. Maaf, saat itu aku selalu memperhatikanmu, berusaha melihatmu tanpa kamu ketahui. Cinta petak umpet ini sangat aku nikmati walaupun kadang nyesek melihatmu dekat dengan teman lain.

Untuk D, terimakasih sudah menjadi sahabatku walaupun ternyata kamu menyimpan rasa yang seharusnya nggak ada. Aku masih sangat mengingat kejadian-kejadian 4 atau 3 tahun lalu bersamamu. Maaf aku tidak bisa membalas rasamu, selain karena saat itu aku sudah bersama ‘dia’ ada alasan2 lain yang membuatku tidak bisa mencintaimu. Ada sedikit kelegaan setelah aku memperkenalkan sahabatku saat itu dan kamu menyukainya. Sedikit merasa bersalah, tapi sepertinya kalian bahagia, aku pun bahagia, demi Tuhan aku bahagia, walaupun sedikit nyesek.

Untuk E, kakak kelas yang pernah aku sukai, maaf aku tidak pernah bisa bilang ‘i love u’ karena selain aku cewek, aku takut kamu sama sekali tidak menyukaiku. Tapi mungkin rasaku saat itu itu bukan cinta, hanya rasa kagum saja. Entahlah, yang pasti saat itu aku selalu bersemangat mengikuti kegiatan yang ‘ada kamunya’ haha..  Aku aktif di OSIS, semangat lomba, ikut tim baris-berbaris, dan masuk kelas lewat kelasmu, itu semua hanya agar aku bisa melihatmu dan agar kamu juga melihat bahwa aku ada. Sayangnya, rasa itu hilang setelah kamu lulus, aku pun pupus.

Untuk F, apapun tentangmu tentu saja terlalu panjang jika aku ceritakan disini, tapi bagaimanapun terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Walaupun aku tahu, dulu, banyak sekali tantangan yg harus kamu hadapi saat menyandang status sebagai ‘pacarku’. Aku tahu banyak yang tidak menyukai hubungan kita saat itu, selain B, D, dan yang lainnya, juga karena faktor x, y, z yang aku pun bingung kenapa bisa seperti itu. Terimakasih sudah pernah membahagiakan aku, memberi warna-warna berbeda untuk hidupku, terutama di tahun terakhir putih biru dulu. Kenangan bersamamu terlalu banyak, tapi aku harus melupakannya karena sekarang aku dan kamu sudah tidak satu lagi.

Untuk G, ini lebih cocok ku sebut dengan ‘cinta selewatan’. Aku hanya sebatas menyukaimu untuk beberapa hari saja, itu pun karena saat itu kita berada dalam satu kegiatan yang sama. Lucu memang. Tapi bagaimanapun, terima kasih telah meningkatkan hormon adrenalinku walaupun hanya untuk beberapa hari.

Untuk H, terima kasih sudah menjadi kakakku, atau mungkin lebih dari kakak, aku tidak tahu. Yang jelas saat itu kamu sempat memalingkan sebentar perasaanku terhadap yang lain, saat itu kamu bisa membuat aku sedikit melupakan rasaku yang pernah ada untuk A, B, C, D, E, dan lainnya. Sayangnya tentang aku dan kamu hanya menggantung begitu saja, seperti tidak ada kepastian untuk terbang atau jatuh. Kamu samar-samar di otakku, membuat pertanyaan apakah akan muncul atau menghilang, apakah serius atau bermain-main. Entahlah. Intinya, aku ingin mengatakan “senang bertemu denganmu” pada saat sebelum kamu menghilang dari kehidupanku. Sialnya, kalimat itu tidak pernah terucapkan karena kita sudah sama-sama saling menjauh karena faktor x, y, z, atau apalah. Yang pasti, aku sudah cukup senang mengenalmu.

Untuk I, maaf sudah sedikit mempermainkanmu, tapi aku sama sekali tidak punya maksud untuk itu. Sebenarnya aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun, tapi saat itu aku memang salah mengambil tindakan, aku memang selalu salah, bukan ? Aku tahu aku pasti sudah menjadi peran antagonis di hidupmu, tapi apapun yang kamu pikirkan tentang aku, aku hanya ingin mengatakan MAAF sudah menyakitimu dan TERIMA KASIH sudah pernah menjadikan aku pacarmu.

Untuk J, yang menjadi salah satu alasanku selalu ceria di awal tahun putih abu-abuku. Walaupun sudah hampir 3 tahun aku mengagumi semua hal tentangmu, tapi sampai detik ini aku belum berani berkata apapun tentang itu, bahkan kepada teman terdekatku sekalipun. Menjadi teman sekelasmu adalah anugrah dan sesuatu banget untukku. Maafkan aku yang sudah menjadi pengagum rahasiamu dah bahkan sudah menyayangimu sampai hari ini. Aku sendiri tidak tahu kapan ini akan berakhir, bahkan setelah pelulusan kemarin yang seharusnya menjadi akhir masa SMAku pun aku belum mendapati tanda-tanda rasa itu akan hilang. Melupakanmu tentu saja bukan hal yang mudah. Tapi aku berjanji akan secepatnya membuang semua tentangmu. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk tetap bisa menyukaimu walaupun aku tahu kamu sama sekali tidak tahu tentang rasa ini. Aku berharap kamu memang tidak pernah mengetahuinya. Walaupun mungkin ada segelintir orang saja yang tahuntentang ini, tapi sudahlah, aku sudah benar-benar akan melupakan semua tentangmu.