Ketika hitam memudar, biarkanlah putih tetap putih. Ketika hitam
menjadi semakin gelap, biarkanlah putih tetap menjadi putih.
Ketika suara angin yg lembut berubah menjadi topan yang ribut,
biarkanlah hujan tetap merdu suaranya.
Karena warna apapun tetap hitam di mata si buta. Karena suara apapun
tetap sunyi di telinga si tuli.
Bagaimanapun keadaannya, tetaplah menjadi dirimu. Merah atau hijau
kamu, tetaplah seperti itu. Jangan berusaha menjadi bunglon di hadapan si buta.
Apapun yg ingin kamu dapatkan, tetaplah menjadi dirimu.
Jangan pernah sedikitpun mencoba menjadi orang lain hanya karena ingin
menjadi yg terbaik.
Tuhan membenci itu. Semua orang membenci itu.
Percayalah, dirimu adalah terbaik jika kamu tetap menjadi dirimu.
Pagi ini
matahari terlihat murung, sinarnya bahkan tidak menembus jendela kamar Dinda.
Bertolak belakang sekali dengan semangat Dinda hari ini yang bersinar terang.
Ini tahun ketiga
Dinda berseragam putih abu-abu. Artinya tahun depan, jika lulus, ia akan
berstatus mahasiswa. Hari ini hari pertama Masuk sekolah. Semester ganjil baru
saja berakhir seiring dengan berakhirnya liburan yang ia rasa paling melelahkan
dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan lelah karena traveling, tapi
karena setiap hari berhadapan dengan soal-soal latihan Ujian Nasional.
Tidak munafik,
belajar memang hal yang membosankan dan melelahkan, tapi kesuksesan membutuhkan
pengorbanan, bukan ? Maka mengorbankan diri bergelut dalam kebosanan dan
kelelahan bukan hal yang buruk jika kesuksesan menunggu. Semua orang harus
belajar. Tidak hanya matematika, fisika, ekonomi, dan kawan-kawannya tapi juga
belajar bersosialisasi dan berbudaya. Bahkan sampai sebelum nyawa kembali
kepada sang Pencipta pun, proses belajar itu tetap ada.
“Mamaaaa aku berangkat,”
teriaknya sembari membawa segelas susu cokelat kemudian meneguknya dan berlari
menemui mama di dapur yang sedang asyik dengan pisau dan sayurannya. Mama
mengulurkan tangan untuk disalami.
“Mama kan sudah
sering bilang jangan minum sambil berlari seperti itu !” kata mama sedikit
memarahi.
“Hehe iya
Maaa... “
***
Sama sekali
tidak ada yang berubah di sekolah. Cat temboknya masih berwarna hijau segar
dengan ditempeli peringatan-peringatan : “Buanglah sampah pada tempatnya”,
“Budayakan Senyum, Salam, Sapa”, dan lain-lain. Gerbangnya masih berdiri kokoh
dengan dijaga dua orang satpam perkasa. Kantinnya masih menjadi tempat favorit
kedua setelah taman sekolah. Dan Dinda masih sering terlambat datang ke sekolah
sehingga ia harus terlibat debat dengan guru piket sebelum masuk kelas,
untungnya Dinda termasuk anak berprestasi sehingga ia terselamatkan.
“Oleh-olehnya
mana ?” adalah pertanyaan yang tidak berubah sejak pertama kali ia
menjadi siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta. Disana memang selalu seperti itu,
bertukar oleh-oleh setiap hari pertama masuk sekolah setelah libur sekolah
karena sebagian besar siswa bukan penduduk pribumi. Yogyakarta memang istimewa.
Untuk pertanyaan
kali ini Dinda hanya menjawab : “I stay in Jogja.”
Suasana kelas
berubah 180 derajat di semester terakhir ini. Sudah tidak ada banyak waktu lagi
untuk bermain-main seperti tahun lalu. Setiap saat semua siswa bercumbu
dengan soal-soal ujian. Menghadapi Ujian Praktik dan Ujian Akhir Sekolah,
mengikuti beberapa try out intern atau ekstern, dan mengambil beberapa les
tambahan cukup membuat penat dan mengancam kesehatan. Melelahkan sekali menjadi
siswa kelas XII. Dinda dan kawan-kawannya tetap berusaha menyisihkan waktu
untuk berkumpul bersama. Sekadar minum di kantin sembari membicarakan beberapa
cerita lucu cukup meringankan kepala dari rumus-rumus fisika atau
matematika yang menari-nari di otak mereka.
“Eh iya, katanya
oknum-oknum penjual kunci jawaban UAN sudah mulai beraksi lho,” Bella membuka
pembicaraan sambil membuka bungkus lolipop kemudian memakannya.
“Dari tahun ke
tahun selalu kayak gitu. Gimana Indonesia mau menyaingi negara
lain kalau nilai UAN aja bukan hasil murni siswa,” Rista berujar serius.
“Sudahlah.
Biarkan mereka seperti itu. Biarkan mereka yang mendapat batunya nanti. Yang
penting kita jujur. O iya, les hari ini mulai jam berapa ?” kata Rere sekaligus
mengganti topik pembicaraan.
***
Hampir 50% jam
mata pelajaran Bu Indy terisi oleh ceramah dan pemberian motivasi untuk siswa
kelas XII. Sepertinya bu Indy dan guru-guru lain sudah mulai mencium
ketidakjujuran di sekolah itu.
Istirahat
sekolah, Dion, salah satu teman sekelas Dinda mengumpulkan anak-anak satu
kelas. Ia menawarkan kunci jawaban UAN yang akan dikirim via sms saat ujian
berlangsung. Dinda terkejut mendengar ajakan Dion yang jelas melanggar aturan
itu tapi beberapa teman lainnya malah tertarik untuk bergabung. Dinda hanya
mematung, mendengarkan ajakan sesat Dion tanpa berkata sedikitpun. Tak ada
gunanya memperingatkan orang tuli, bukan ? Karena tak ada yang bisa mereka
dengar.
Sepulang
sekolah, kebetulan sekali Dinda berpapasan dengan Dion. Dinda langsung
menyergap Dion. “Kamu sadar nggak sih kalau ajakan kamu itu salah ?”
“Hey, what’s
up ? Apa yang salah ?” Dion balik bertanya.
“Kenapa kamu
menghasut teman-teman lain untuk curang ?”
“Hellow
Dinda. Aku malah membantu mereka. Kamu pikir seberapa pintar mereka untuk bisa
lulus UAN dengan nilai baik ? Sepintar kamu ?” Dion mulai emosi, ia kemudian
berjalan menuju parkiran sembari mengeluarkan kunci motornya. Dinda terus
membuntutinya.
“Caramu malah
menjerumuskan mereka, Dion. Apa yang bisa kamu banggakan dari nilai tinggi yang
palsu itu ?” Dinda terus menghujani Dion dengan pernyataan dan pertanyaan yang
tentu saja sangat mengganggu Dion.
Dion menghentikan
langkahnya, mengambil helm dari atas motornya, kemudian berujar “Aku cuma butuh
nilainya bukan kejujuran atau apalah, nggak penting,” kemudian memasang
helmnya dan menyalakan mesin motornya.
“Satu lagi.
Jangan menyesal jika karena kejujuranmu, kamu malah tidak lulus.” Dion pergi,
Dinda tetap mematung di sana.
9 AprilBagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.Ya Tuhan..Apa jujur itu salah ?
Bulan Maret
berakhir. Ujian Nasional hanya tinggal beberapa hari lagi. Ada beberapa
kekhawatiran yang bermunculan ketika itu.
Pertanyaan–pertanyan
itu kerap mengelilingi otaknya dan membumbui hari-harinya. Dinda hanya sedikit
trauma dengan ketakutan yang pernah ia rasakan tiga tahun lalu saat menghadapi
Ujian Nasional SMP. Ia yang sudah berusaha sangat maksimal harus rela menerima
hasil yang tidak lebih baik dari teman-temannya yang curang. Sejak saat itulah
ia sangat membenci ketidakjujuran. Sayangnya praktik curang dalam Ujian
Nasional di Negara ini masih sering terjadi, malah sudah menjadi tradisi yang
dimaklumi. Ironis sekali.
***
Wajah Dinda dan
semua siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta terlihat sangat tegang. Hari ini hari
pertama Ujian Nasional. Sampai bel tanda berakhir di bunyikan pun, tidak ada
hal buruk terjadi. Itu artinya para siswa sukses mengahadapi UAN pertama mereka
termasuk para pelaku curang yang berhasil dengan ketidakjujurannya hari ini.
“Eh anak mama
udah pulang. Gimana ujiannya, nak ?”
Mama menyambutnya sembari tersenyum hangat ketika Dinda tiba di rumah,
sayangnya Dinda tidak menyambut senyum itu.
“Ini nggak adil Ma !” Katanya sambil
melangkah dengan cepat ke kamarnya. Mama menyusul.
“Ada apa
?” tanya mama lembut, “apa yang nggak adil ?”
“Semua Ma.
Kenapa sih harus gini lagi ?” katanya diiringi air yang keluar
dari matanya.
“Aku selalu
berharap kejadian tiga tahun lalu nggak terulang lagi, tapi Tuhan nggak
menjawab harapanku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Apapun aku
korbankan. Tapi kenapa mereka dengan mudahnya bisa mengerjakan soal
ujian tanpa mikir. Sebebas itukah dokumen negara ini sampai semua orang
bisa memilikinya ? Aku bukan takut nggak lulus ma, aku cuma pengen
teman-teman sadar bahwa nilai bukan segalanya.” Dinda berujar dengan terus
meneteskan air mata. Mama hanya menjadi pendengar yang baik dengan tidak
berkomentar apapun.
“Pantas saja
Indonesia nggak maju-maju, Ujian Nasional yang seharusnya menjadi media
untuk mendongkrak kemampuan pelajar malah sangat mudah dilewati dengan bantuan
uang. Kenapa peraturan bisa dibeli Ma ? Kenapa uang selalu menguasai ? Kenapa
sangat sedikit orang jujur di negeri ini ?” Katanya dengan masih terus menangis.
Mama kemudian memeluknya.
“Dinda
ingat teman-teman SMP Dinda yang curang tiga tahun lalu ?”
Mendengar
pertanyaan mama, Dinda sedikit menghentikan tangisnya.
“Maksud Mama ?
Kenapa Mama bertanya seperti itu ?” Dinda melepas pelukan mama, memandang wajah
mama heran.
“Dinda tahu
kabar mereka sekarang ? Dinda tahu akan seperti apa mereka nanti ? Dinda pernah
mendengar tentang prestasi mereka di SMA setelah lulus SMP ?”
Dinda menggeleng
sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mama itu. Mama tersenyum, menghapus
air mata Dinda yang masih sedikit membanjiri pipinya.
“Bukan salah
negara ini atau siapapun yang terlibat di dalam kecurangan itu. Mereka seperti
itu karena itu pilihan mereka. Suatu saat mereka akan sadar bahwa apa yang
mereka pilih adalah salah. Tuhan tidak pernah tidur Dinda. Paham ?” kata mama
lembut.
Dinda tersenyum
kemudian mengangguk. Ia menghembuskan napasnya, merasa sedikit lega.
“Sekarang kita
makan ya. Mama masak capcay rebus favoritmu.”
Dinda beranjak
dari kamarnya dengan mengusap matanya untuk memastikan tidak ada air mata
tersisa di sana.
16 AprilAku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.
Malam ini
seperti malam kemarin, Dinda mempersiapkan diri untuk ujiannya besok. Ia
membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan otaknya yang akan ia jadikan senjata
besok pagi. Tapi pikirannya masih saja berkeliaran liar, ia tidak dapat
memejamkan matanya dengan tenang.
“greeet”
Dinda membuka pintu kamar Mama.
“Mama sudah
tidur ?” tanyanya sedikit berbisik.
“Hampir. Kenapa
nak ?”
“Aku boleh tidur
di sini ? Kamarku dingin,” pintanya.
Mama hanya
tersenyum sembari merapikan tempat tidur sebagai jawaban iya. Dinda menjatuhkan
diri kemudian meletakkan kepalanya yang cukup berat hari ini di atas bantal
empuk yang mama siapkan untuknya.
“Tidurlah.
Jangan memikirkan hal yang tidak perlu untuk dipikirkan,” mama berujar sambil
memejamkan matanya.
Angin malam
berkeliaran, detak jam semakin jelas terdengar di tengah sepinya malam yang
semakin pekat, Dinda terpejam dan mulai tertidur.
***
Dinda bangun
lebih pagi dari kak Reno hari ini, kekhawatiran yang membangunkannya. Ia
menggeret kakinya menuju kamarnya sembari menguap dan mengucek matanya.
Kemudian ia menyalakan handphone yang semalaman dinonaktifkan.
Saat itu juga satu pesan ia terima “Papa selalu berdoa untuk Dinda. Apapun yang
terjadi, jangan putus asa. Allah bersama orang yang sabar dan tawakkal. Jangan nangis
lagi yaa anak papa yang cantik.”
Dinda tersenyum
membaca pesan singkat itu “Dari mana papa tahu kalau aku nangis. Pasti
mama,” batinnya. Jari-jarinya mulai menari diantara keypad handponenya.
Mama sibuk
menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya sementara Dinda bersiap-siap untuk
berangkat menempuh ujiannya yang kedua. Beberapa menit kemudian mama, Dinda,
dan kak Reno sudah ada di ruang makan untuk sarapan.
“Tadi papa
menghubungiku lewat sms,” Dinda berujar dengan makanan dimulutnya.
“Habiskan dulu
makananmu, dik,” Tegur kak Reno yang sedang mengoleskan selai kacang ke atas
rotinya.
Dinda tersipu
kemudian melanjutkan ceritanya “Tapi dari mana papa tahu kalau aku nangis
ya ma ?”
“Kemarin
sore mama menelpon papa dan menceritakan semua. Iya kan ma ?” ujar kak Reno
sembari meneguk susu vanillanya.
“Habiskan dulu
minumanmu, kak Reno,” Dinda mengejek.
“Sudah ku
habiskan kok,” kak Reno membela diri.
“O iya, omong-omong
kapan papa pulang ?” wajah Dinda menjadi sedikit serius.
“Sepertinya tiga
atau empat hari dari sekarang,” jawab mama lembut. Dinda dan kak Reno saling
menatap dan tersenyum, pertanda mereka senang dengan jawaban mama.
“Oke, aku
siap berangkat. Sukses untuk ujianmu Dinda jelek,” kak Reno beranjak sembari
mengacak-acak rambut Dinda kemudian menyalami mama.
***
Gerbang sekolah terlihat lebih menyeramkan tapi ia
merasa lebih siap hari ini. Dinda merasa sangat bergairah untuk mengerjakan
mata ujian hari ini, ia seperti mendapat energi tambahan untuk berani.
Langkah kaki dengan penuh ketidakraguan itu
kemudian terhenti saat berpapasan dengan Dion.
“Merasa lebih baik, Dinda ?” ujar Dion dengan
senyum sinis. Dion masih sangat mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat
Dinda memperingatkannya untuk tidak curang. Entah kenapa anak itu terlihat
sangat membenci Dinda.
“Sangat baik,” Dinda melanjutkan langkahnya.
Satu, dua, tiga jam terlewati. Dua mata
ujianpun berhasil ia taklukkan. Dinda duduk bersama sahabat-sahabatnya,
menunggu jemputan masing-masing. Tiba-tiba Rina muncul dengan mata sedikit
memerah. Riak tawa Dinda dan kawan-kawannya pun terhenti, semua mata menatap
Rina.
“Ada apa, Rin ?” tanya Rere lembut.
Rina kemudian memeluk teman-temannya dan
berkata, “Aku gagal, maafkan aku,” sambil terus menangis.
“Maksudmu ?” Bella menatap Rina semakin
heran.
“Ini karena aku nggak percaya diri.
Aku gagal,” penjelasan Rina semakin membuat teman-temannya kebingungan.
“Ceritalah. Kami semua temanmu,” Rere mencoba
menenangkan.
“Aku bersama beberapa teman sekelas kita
membeli kunci jawaban UAN. Nggak ada masalah pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia kemarin tapi Server tidak mengirimkan jawaban untuk mata
pelajaran Fisika tadi, hampir semua anak yang terlibat jual beli kunci jawaban
tidak mendapat jawaban dan hanya beberapa soal yang bisa aku selesaikan.” Rina
menjelaskan diiringi senggukan-senggukan kecil.
“Bagaimana kamu mendapat jawaban soal UAN itu
?” tanya Bella penasaran.
“Server akan mengirimkan jawaban via
sms,” jawab Rina singkat.
“Jadi, kamu membawa handphonemu ke ruang
ujian ?” Rista membelalakkan matanya, tanda terkejut. Rina hanya mengangguk.
“Berarti Dion juga,” batin Dinda.
“Kalian janji nggak akan membeberkan
apa yang aku ceritakan, kan ? Mungkin hanya ada sebagian kecil yang jujur,
kalian diantaranya. Aku sudah berjanji pada diriku untuk percaya diri dan
menghadapi UAN dengan kemampuanku. Walaupun sudah terlambat untuk menyadari
kesalahanku. Setidaknya masih ada tiga mata pelajaran yang harus aku tempuh,” katanya
tersenyum sedikit terharu. Rina kemudian pamit pulang.
Dalam beberapa menit sekolah sudah sepi,
hanya ada beberapa anak yang masih menunggu jemputan, Dinda salah satunya.
Dinda menatap kosong, mengedipkan matanya sesekali. Ia merasa sedikit terharu
sekaligus prihatin dengan apa yang terjadi di sekolahnya. Bahkan tidak hanya
teman-teman sekolahnya yang berpredikat pelaku kecurangan UAN tapi sekolah lain
pun begitu, menyeramkan sekali. Setidaknya orang jujur bertambah hari ini,
walaupun hanya satu orang. Nasib Indonesia di masa depan sangat
mengkhawatirkan. Itulah alasan kenapa Dinda ingin sekali menjadi seorang guru,
ia ingin menanamkan kejujuran dan sikap optimis agar siswanya percaya pada
dirinya sendiri dan menjadi manusia yang benar-benar berguna dalam hidupnya.
Sulit sekali memang, tapi itulah cita-cita, sesulit apapun akan menjadi mudah
jika bersungguh-sungguh.
Di tengah lamunan Dinda, Dion berjalan santai
di hadapannya.
“Merasa lebih baik, Dion ?” Dinda mengulang
pertanyaan Dion tadi pagi. Dion tidak menanggapi dan berlalu begitu saja.
Ketika itu pula kak Reno tiba. “Dinda, ayo.”
“Iya kak,” katanya kemudian menghampiri kak
Reno.
***
Ujian Nasional sudah berlalu sejak beberapa
hari yang lalu. Dinda mengisi kekosongannya dengan menulis, ia memang sangat
suka menulis. Menjadi penulis juga merupakan salah satu cita-citanya. Tak heran
diantara buku-buku pelajaran sekolahnya terselip beberapa buku hasil tulisannya
serta setumpuk buku harian yang menjadi teman curhatnya.
Hari keempat UNAS beberapa waktu lalu adalah
hari yang ia rasa menjadi hari terakhir bercumbu bersama sahabat-sahabatnya.
Terasa sangat berat sekali menjauh dari rutinitas kelas yang tiga tahun ini
menjadi bagian dari hidupnya. Setelah pengumuman minggu depan, sudah tidak ada
lagi bel sekolah untuknya, sudah tidak ada lagi PR dan tugas-tugas SMA yang
memenuhi pikirannya. Menjadi orang dewasa pasti lebih sulit daripada menghadapi
konflik yang ia hadapi beberapa waktu ini.
Papa sudah kembali dari dinas luar kotanya
sejak beberapa minggu yang lalu. Selama vakum dari kegiatan sekolah, selain
menulis, Dinda juga banyak menghabiskan waktunya bersama mama, papa, dan kak
Reno. Sesekali ia mengajak mereka keluar rumah untuk sekedar minum kopi atau
makan pasta.
“Apa saat Mama dan Papa SMA dulu, ada
kecurangan Ujian Nasional seperti sekarang ini ?" Dinda membuka
pembicaraan saat bersantap malam di sebuah resto, kali ini membuat mama dan
papa saling tatap sembari tersenyum.
“Dulu, UAN nggak menjadi patokan,
bagaimana kami berproses dan nilai-nilai sekolah pun menjadi penentu kelulusan.
Sekarang semua memang sudah berubah. Entah faktor apa yang membuat UAN menjadi
momok menyeramkan bagi anak-anak kelas tiga. Seharusnya mereka sudah sangat
siap menghadapinya dengan bekal ilmu yang mereka kantongi selama tiga tahun.
Iya kan, Dinda ?” papa menjelaskan.
“Mungkin mereka terlalu takut nggak
lulus atau belum siap menahan malu jika nilainya nanti lebih rendah dari
teman-teman yang lain, makanya mereka mengambil jalan curang,” sambung mama.
“Aku bersyukur menjadi anak mama dan papa.
Saat aku tua dan meninggal pun, nggak akan ada yang aku sesali karena
aku sudah sangat beruntung di dunia,” Dinda tersenyum dan melanjutkan makannya.
***
Dinda bersiap ke sekolah, pengumuman
kelulusan tiba. Ia berpamitan kemudian melangkah sedikit ragu. Ia takut ada hal
buruk terjadi padanya.
“Optimis Dinda,” mama berujar. Sedikit
membuat Dinda semangat saat itu.
Sekolah sudah ramai dipenuhi anak-anak
berseragam putih abu-abu. Sesaat setelah Dinda tiba, bel berbunyi, sebagai
perintah agar semua siswa masuk ke aula.
Pak Harto menyampaikan beberapa pesan setelah
semua siswa duduk rapi di ruangan luas itu, kemudian beliau dibantu oleh
guru-guru lain memanggil satu per satu siswa untuk menerima amplop berwarna
cokelat muda. Isinya tentu saja keputusan lulus atau tidaknya siswa.
“Adinda Aprilia !” pak Darmin memanggil
Dinda. Amplop berwarna cokelat muda ada di tangannya sekarang. Ia buka perlahan
benda keramat itu, mengeluarkan kertas di dalamnya, kemudian melihat isinya
dengan menyipitkan kedua matanya.
“LULUS !” teriaknya. Reflek kakinya
melompat-lompat. Ia bergabung bersama teman-teman lainnya yang juga lulus.
Tepat seperti apa yang ia bayangkan beberapa
waktu lalu, nilainya tidak sebagus teman-temannya, juga tidak lebih bagus dari
Dion yang mendapat rata-rata 9. Ia hanya dapat mengantongi nilai 8 untuk semua
mata pelajaran dengan satu nilai 7 pada mata pelajaran fisika.
Sedikit sesak menerimanya, namun itulah yang
terjadi. Setidaknya ia lega karena nilai yang ia dapatkan adalah jawaban dari
peluhnya selama ini, bukan karena bantuan uang.
Ada pesta kecil yang diadakan di rumah salah
satu temannya sebagai wujud rasa syukur atas kelulusan yang mereka terima hari
ini. Dinda dan semua yang ada dalam pesta kecil itu berbahagia, meluapkan
kepenatan dan kegelisahan yang menggerayangi pikiran mereka.
Saat itu Dion menghampiri Dinda, ia
mengulurkan tangan dan Dinda menyambutnya.
“Selamat ya Nda, kamu hebat,” ujar Dion
mengungkapkan salutnya, padahal nilai Dion jauh lebih tinggi. Dinda hanya
tersipu, Dinda tahu yang dimaksud Dion adalah “Selamat ya, kamu jujur.”
Matahari sudah merebahkan diri, sepertinya ia
kelelahan, sama seperti Dinda hari ini. Mama sudah menyiapkan susu cokelat
hangat dan beberapa makanan favoritnya di meja makan, mama tahu Dinda lelah.
Dinda kemudian muncul dari arah kamarnya, siap untuk bersantap malam.
“Anak papa hebat,” papa dan kak Reno bertepuk
tangan. Mama tertawa geli.
Setelah selesai makan, Dinda pamit untuk
tidur, ia benar-benar kelelahan. Seperti biasa ia sedikit bercerita pada buku
kecilnya baru kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ada kepuasan
yang ia rasakan hari ini.
***
“Dinda, bangun nak,” perintah mama lembut, “sudah
siang.”
Namun Dinda tak bereaksi sedikit pun. Mama
terus membangunkannya.
“Dinda... Sayang, bangun nak.”
Tubuh mungil itu tetap diam. Mama meletakkan
jarinya di sekitar hidung Dinda, tak ada udara yang berhembus di situ. Mama
merasai denyut nadi di pergelangan tangannya, juga tak ada getaran di situ.
“PAPAAA.. RENOOO..” mama berteriak sembari
meneteskan air mata. Mama terus berteriak memanggil papa dan kak Reno tapi
mereka belum juga muncul.
Mama membuka buku kecil yang masih Dinda
letakkan di atas meja belajarnya.
24 DesemberLiburan kali ini melelahkan dan membosankan. Tapi tetap semangat, aku pasti bisa.3 JanuariHari pertama masuk sekolah. Tradisi tukar oleh-oleh harus dihentikan sementara karena sebagian besar siswa tetap di Jogja untuk BELAJAAAAR..9 JanuariAku sudah mulai tidak punya banyak waktu untuk menulis karena terlalu sibuk mengerjakan soal-soal fisika. Menyebalkan sekali tapi aku menikmatinya.20 JanuariAku lelah28 JanuariAku lelah16 FebruariAku sangat sangat lelah28 FebruariUjian Praktek, Try Out UNAS empat kali putaran, les tambahan, kemudian apa lagi ? Menjadi siswa kelas tiga benar-benar melelahkan. Semangat Dindaaaaaa...9 AprilBagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.Ya Tuhan..Apa jujur itu salah ?16 AprilAku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.20 AprilAku sayang mama, papa, dan kak Reno, semoga aku tidak mengecewakan mereka.23 AprilTerima kasih Tuhan, aku senang hari ini. Jaga selalu mama, papa, dan kak Reno untukku.1 MeiBulan Mei tiba, aku sedikit gelisah untuk menerima hasil UAN.26 MeiAKU LULUS. Senaaaaang sekali rasanya. Terima kasih Tuhan. Semoga mama, papa, dan kak Reno bahagia walaupun aku hanya mendapat nilai 8 dan 7 untuk Fisika.Ada sedikit rasa tidak rela melihat teman-temanku mendapat nilai sangat bagus. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Setidaknya masih ada orang-orang seperti Bella, Rere, Rista, dan Rina yang jujur di Negara tidak jujur ini. Dan aku bangga memiliki mereka.Semoga di tahun berikutnya, tidak ada lagi kecurangan yang merugikan para siswa yang jujur. Walaupun kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi aku tahu Tuhan, Kau akan selalu memberi yang terbaik untuk makhluk-Mu...
Mama masih terus menangis, tidak mempercayai
kepergian anak bungsunya yang tanpa tanda-tanda itu. Papa dan kak Reno
menghampiri mama dan langsung memahami apa yang terjadi.
“Tuhan terlalu sayang pada Dinda, hingga Dia
sangat cepat memanggil Dinda untuk kembali pada-Nya,” papa mencoba menenangkan
mama. Kak Reno mulai berkaca melihat adik kecilnya terbaring tak bernyawa.

