Jumat, 18 November 2011

Dulu, Sekarang, dan Selamanya

Namamu terlukis begitu indah disini, di dasar hati ini.
Nafasmu terikat begitu erat disini, di sekitar paru-paru ini.
Darahmu mengalir begitu deras disini, diantara nadi ini.
Ketahuilah bahwa kamu menguasai sebagian besar fungsi organku, mengambil alih kerja otakku, dan memenuhi sisa memoryku.
Sadarilah bahwa kamu menghancurkan mimpi buruk ditiap tidurku, menghapuskan tangis dari mataku, dan menciptakan senyum dibibirku.

Bintang yang pernah kita tunjuk dulu, rumput yang pernah kita injak dulu, angin yang kita terpa dulu, jalan yang kita susuri dulu, hujan yang kita rasakan dulu, kisah yang kita lalui dulu, mata indah yang dulu, senyum manis yang dulu, cinta hangat yg dulu, tangan lembut yang dulu, bolehkah aku tetap memilikinya ? Tidak hanya dulu tapi juga sekarang dan selamanya :')

Terlalu rumit untuk dijabarkan kata per kata dan terlalu sulit untuk diterjemahkan dari bahasa hati. Intinya cuma ada satu kalimat dari ribuan lembar yang aku tulis tentang kamu, that's I LOVE YOU.
Aku terlalu banyak merekam semua tentang kamu, sampai aku sendiri lupa berapa gigabytes memory otak yg aku habiskan untuk itu, padahal cuma tentang satu kisah, that's I LOVE YOU.
Walaupun aku tahu dunia pasti tertawa. Ini konyol, ini bodoh, ini gila, bahkan lebih dari itu, whatever, tetap I LOVE YOU.

Bener apa yang Mama bilang, anak muda nggak ada yang waras kalau udah kena virus pink kembangkembang itu :)
Bener apa yang Bapa bilang, semua jadi indah kalo dapet sentuhan cinta. Awan mendung jadi keliatan cerah :)

I'm not a child anymore.
Tujuhbelas tahun kurasa waktu yang cukup untuk mengenal arti lambang daun eceng gondok itu.

Lemme tell you once more that's I LOVE YOU

Bahwa Tuhan Selalu Ada

Untuk Tuhanku, Allah..
"aku Sitta, satu dari makhluk-Mu yang lemah.
Aku yakin Kau mendengarku, aku yakin Kau melihat tetesan air dari mata bathinku.

Tuhan yang maha baik, lapangkan dadaku untuk menerima semua yang Kau beri.
Aku bahkan tak pernah berani memprotes hidup yang Kau anugrahkan, karena itu hadiah terindah yang pernah aku dapatkan.
Terimakasih masih mendetakkan jantungku, terimakasih masih mengizinkan udara masuk ke paru-paruku.
Dan bolehkah aku minta sesuatu Tuhan ?
Hanya satu dari ribuan permintaanku, beri aku hati yang slalu merasa tenang.
Tempat ini terlalu penat untukku Tuhan, tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk tidak pernah mengeluh.
Maka, jika ketenangan yang nyata itu hanya disisi-Mu, jemput aku, aku akan sangat ikhlas menerima uluran tangan malaikat-Mu."

Teman, apa yg akan kamu lakukan ketika hidup mengucilkanmu, ketika dunia menjauhimu ?
pasti rasanya ingin (sekarang juga) menyerahkan nyawa yang dipinjamkan Tuhan ini kembali kepada-Nya.
Sialnya, aku yang sedang ada dalam posisi itu.

Untuk kesekian kalinya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa Tuhan sedang mengujiku, bukan menghukumku.

Untuk kesekian kalinya juga aku menangis.
Bukan karena aku menyerah, tapi menangis adalah caraku untuk berkata pada Tuhan bahwa aku ingin beristirahat sebentar saja dari ujian ini.
Jika menangis adalah haram hukumnya, maafkan aku Tuhan, aku melanggarnya.
Aku nggak sengaja nangis lagi, bukan karena aku lemah tapi karena aku bosan berpura-pura tersenyum untuk hal yang sebenarnya ingin aku tangisi.
Aku sangat percaya Tuhan menyembunyikan tawaku dibalik airmata ini karena Tuhan tidak pernah pergi dariku, dari makhluk-Nya.
Dia menyaksikan semua. Menyaksikan apa yang aku lakukan dan apa yang aku takutkan.
Dan apapun yang terjadi, Tuhanku akan ada, selalu ada dan pasti ada.

Kamis, 18 Agustus 2011

Tuhan, biarkan beliau tetap tersenyum


“Bapak” begitu aku memanggilnya. Dalam darahku ada darahnya.
Sosoknya berwibawa, rambutnya masih hitam pekat dan hiasan wajah paling khas adalah kumis yang berjejer rapi di atas bibirnya.
Aku senang ketika bapak tersenyum, kumisnya terangkat sedikit dan bapak makin terlihat imut dengan keadaan seperti itu.
Beliau tak memiliki janggut, baguslah, batinku, karena bapak akan menjadi jelek dengan janggut lebat di dagunya. Cukup kumis saja sudah membuatnya terlihat manis, “pantas mama suka” pikirku.
Beliau lebih suka bekerja dalam diam, menurutnya banyak bicara hanya akan membuat pekerjaan semakin lama terselesaikan tapi jangan mengira bapak orang yang pendiam. Beliau bisa berubah menjadi gila bahkan lebih dari orang gila tergila di dunia ketika beliau menemukan sesuatu yang bisa menjadi bahan lawakanya.
Salah satu yang aku salutkan adalah beliau seorang yang cerdas. Beliau sastrawan yang saat ini mengabdi di sebuah sekolah dan menjadi seorang guru Bahasa Indonesia di situ. Selain itu beliau menggeluti berbagai profesi dari berkebun, merancang rumah kami, orang penting dimanapun beliau berada, fotografer sampai movies dokumentator, beliau juga salah satu anak teater ketika masih menjadi mahasiswa dan pernah menjuarai lomba baca puisi. Aku sendiri bingung, harus ku sebut apa beliau ? Guru kah ? Arsitek kah ? Petani kah ?  Fotografer kah ? Aktor kah? Atau apa ?
Satu lagi, beliau suka menulis. Seperti yang aku bilang, beliau sastrawan. Walaupun bukan sastrawan terkenal seperti W.S. Rendra, Chairil Anwar atau Marah Roesli tapi beliau hebat di mata dan hatiku. Sebuah kalimat yang sangat aku sukai dan bahkan selalu aku ingat tulisan pendek beliau tanah tempat kami tinggal adalah : “Ini tanahku, ini istanaku. Hanya ada satu permaisuri, tiga bidadari dan aku rajanya. Di sini aku lahir dan kelak disini pula aku mati.”
Beliau adalah bapak terbaik yang aku punya (karena aku memang hanya punya satu bapak haha,,,).
Aku tahu beliau selalu berusaha memberi yang terbaik, sama seperti mama, hanya saja (kadang) caranya tidak sesuai dengan apa yang aku dan adik-adikku inginkan sehingga seringkali kami mengira bahwa hanya mama yang bisa “diajak kompromi”. Aku paham kenapa karena aku bisa membaca bahasa hati bapak. Adik-adikku hanya kurang dewasa saja, bathinku, suatu saat mereka mengerti bahwa bapak menyayangi mereka sebesar rasa sayang mama pada mereka.
Aku selalu menitipkan beliau kepada Tuhan setiap aku berdo’a agar beliau selalu tersenyum, agar kumisnya selalu terangkat.
Kelak, jika aku sempat menempuh masa tuaku, harapanku hanya satu : aku ingin seberuntung mama yang mendapat jodoh seperti bapak dan mendapat anak seperti aku :)