Jumat, 26 Oktober 2012

Orang-Orang Hebat Di Sekitarku

Mereka adalah motivasi, yang memberi sebuah bahkan sejuta inspirasi untuk hidupku.

Firstly, my beloved dad of course, Ade Atmaja. Beliau adalah gambaran manusia tegas dan bijaksana. Makhluk yang Tuhan kirimkan untuk melindungi aku, mama, dan dua adik kecilku. Aku menjadi sosok yang tidak pernah mengenal lelah dan menyerah adalah karena beliau selalu mendorongku ketika aku berhenti berjalan, memapahku ketika aku terjatuh, dan menggendongku ketika aku benar-benar lumpuh. Beliau yang selalu meyakinkan aku bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik. Aku selalu percaya bahwa hidup ini tidak sia-sia karena beliau pernah berkata : “sitta, tidak ada manusia yang terlahir sia-sia”. Beliau orang hebat. Beliau benar-benar orang hebat dan aku nyaris tidak punya kata untuk menggambarkan betapa hebatnya beliau. Beliau yang selalu mengajarkan aku untuk sabar menghadapi segala ujian, berat atau ringan, yang aku terima hingga aku menjadi sosok yang tidak pernah mengeluhkan apapun yang menimpaku.

Secondly, mama yang aku sayangi, Rita Zahara Bachrat. Beliau adalah bentuk kasih sayang Tuhan untukku. Mama selalu mengajarkan aku untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki, bukan iri terhadap apa yang orang lain punya. Sosok cantik itu nyaris tidak pernah bersedih bahkan ketika beliau menghadapi saat-saat yang sangat menyedihkan, beliau masih menunjukkan raut bahagia, untuk anak-anaknya, untuk orang-orang disekitarnya, agar tidak ada lagi yang menangis selain hatinya. Beliau benar-benar peri kirimaan Tuhan yang luar biasa. Beliau adalah guru atas ketegaranku. Beliau membuatku selalu berani berada di tempat asing, sejauh manapun jarakku dari rumah, aku selalu bisa bertahan karena beliau mengajarkan aku untuk bisa beradaptasi dengan berbagai macam kondisi lingkungan sehingga aku tidak pernah takut. Beliau pernah bilang, “jangan pernah takut jauh dari mama, dari bapa, atau dari siapapun, dimanapun kamu, ada Allah disitu.”

and the next,

Dea Novi Rahmawati. Dia adikku. Adik yang juga teman terbaikku. Dia selalu menjadi penghibur dimanapun dia berada. Dia, sosok yang selalu ceria, nyaris tidak pernah merasa sedih. Aku kadang iri bagaimana bibir itu bisa terus menyunggingkan senyuman, bahkan ketika keadaan sedang mencekiknya.
Selalu ada pertengkaran kecil antara kami, tidak jarang aku menggertaknya, tapi sungguh, demi apapun aku menyayanginya.
Dia sosok ambisius, dia selalu berusaha untuk mencapai apa yg ingin ia dapatkan, apapun itu. Menjadi dancer, dia sudah menggenggamnya. Menjadi top model, dia juga dengan giat mengejarnya. Menjadi actress, dia berusaha mencapainya. Dia sosok yang tidak pernah menyerah untuk mimpinya. Dia selalu serius untuk ambisinya dan aku sangat salutkan itu.

Adik kecilku, Dea Syifa Az-zahra, yang akan selalu menjadi adik kecilku sampai kapanpun. Anak ini mengajarkan aku bagaimana menjadi pribadi teratur. Suatu ketika, dia pernah bercerita tentang cita-citanya, “nanti, ifa mau sekolah di jogja, terus kuliah di ugm ambil arsitek.” Aku hanya tersenyum saat itu sambil berkata “aamiin” dalam hati. Dia manja, sangaaaat manja, tapi mama pernah bilang bahwa dari ketiga anaknya, syifa yang paling baik merawat mama dan bapa ketika sakit dan syifa paling rapi membereskan kamar, bahkan ketika sosok tomboy itu dipoles make up, mama bilang, syifa paling cantik.

Usu, Siti Balkis Bachrat adalah wanita perkasa dan tangguh. Pribadinya yang tidak mudah menyerah selalu menginspirasiku untuk menjadi manusia yang tidak pernah menyerah juga. Dia tante yang juga sahabatku. Sosok yang penyabar dan penuh kasih membuat aku merasakan 'ibu' ketika aku jauh dari mama. Beliau yang mengajarkan aku untuk tidak mengeluh dan tidak mudah putus asa. Pernah dulu, ketika aku sedang berada di puncak emosiku, beliau berkata, "Menangislah, nangis itu wajar kok. Kadang masalah menjadi terasa sedikit ringan dengan menangis."

Sahabat-sahabatku,
Erna Hasnatul Hasanah. Dia benar-benar memberiku motivasi untuk lebih bersyukur menghadapi hidup ini. Sosok itu tegar sekali. Dia yang mengajarkan aku untuk selalu tersenyum menghadapi segala bentuk kesedihan. Banyak hal yang aku pelajari darinya, banyak sekali, tentang kesabaran, tentang ketegaran, dan tentang persahabatan. Dia membuat aku memahami bahwa Tuhan selalu berperan dalam lika-liku kehidupan manusia, maka dari itu aku selalu menyertakan Tuhan di setiap aktivitasku. Dia adalah kakak yang selalu menjagaku. Aku selalu merasa aman berada didekatnya.

Rizqa Anggraeni. Dia sahabat yang juga adikku. Pribadinya yang selalu disenangi membuat aku selalu iri. Sosoknya lembut, dia nyaris tidak pernah marah. Dia adalah sebuah motivasiku untuk selalu bangkit ketika jatuh. Dia adalah sahabat yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri.

Ilham Apriyanto. Orang ini memberiku banyaak sekali pelajaran mengenai hidup. Dia mengajarkan aku bahwa bahagia adalah ketika hati kita tersenyum, bahwa bahagia tidak harus karena materi. Dia membuat aku memahami arti sebuah perjuangan dan tujuan hidup. Dia yang membuat aku mengerti bahwa menjadi hebat tidak harus menjadi orang nomor satu atau memiliki segalanya, tapi cukup menjadi diri sendiri ketika orang lain berusaha mengubah hidupmu. Darinya aku bisa mengetahui karang yang perkasa itu pun bisa berubah jika cinta menyentuhnya.

Nurul janah. Dia anak kecil yang sudah sangat dewasa :D
Manusia yang membuat aku mengerti bahwa setetes keringat perjuangan adalah sebutir permata. Darinya aku tahu bahwa hidup memang sebuah perjalanan panjang yang disetiap persimpangannya selalu dihadapkan dengan pilihan. Dia yang membuat aku tak pernah lelah untuk berjuang, karena sepahit apapun perjuangan itu akan selalu berakhir manis. Dia tidak pernah merasa lelah walaupun sebenarnya ia sangat lelah. Dia luar biasa.

Herning Noviana, adalah seperti ayam goreng, mengenyangkan :D
Satu kalimat yang membuatku kenyang ketika aku sudah lelah menghadapi berbagai tes masuk perguruan tinggi, “ketuk semua pintu sit ! dari sekian banyak pintu yang kita ketuk, pasti ada salah satu yang terbuka.” Sosok ini luar biasa, dia selalu serius dalam mencapai ambisi nya. Aku selalu ingin seperti dia yang sangat mencintai Fisika. Tidak semua orang bisa mencintai fisika yang mengerikan itu, tapi dia bisa dan itu luar biasa. Selain itu, hal yang membuat aku iri adalah tangannya yang lihai menggambar. Aku selalu ingin bisa menggambar gadis cantik tapi hasilnya selalu menjadi gadis buruk rupa -_-

Rr. Renita Karina Dewi adalah sebuah gambaran manusia luar biasa. Dia selalu bisa tertawa dan membawa suasana ceria walaupun hatinya sedang menangis. Pernah suatu hari, dia menangis, benar-benar meluapkan emosi di depanku tanpa ada yang tahu. Ketika itu aku paham betapa dia berusaha keras menutupi air matanya dan tidak semua orang bisa melakukannya. Dia gadis yang kuat, yang selalu bisa menciptakan kebahagiaan bahkan ketika dia sendiri lelah atas hidupnya. Aku ingin seperti dia yang rendah hati dan tidak pernah rendah diri.
Annisa Kamilia Rachman. Gadis bungsu yang selalu menjadi kakak untukku dan untuk semua sahabatku. Dia adalah manusia bijak, mungkin Mario Teguh adalah muridnya :D
Dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mojang bandung ini sangat penyayang, juga penyabar. Seberat apapun rintangan di depannya, dia hadapi. Sosoknya telaten, rapi, dan selalu mengatur segalanya dengan sempurna. Dia adalah sahabat Kimia, seperti via yang mencintai fisika, dia juga mencintai Kimia dan aku selalu ingin menyerap ilmu kimia yang dia punya :D

Saras Widaningrum. Seorang hamba Allah yang benar-benar luar biasa. Gadis yang tidak pernah lepas dari rasa syukur. Darinya aku tahu bahwa segala yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan, dan apapun yang Tuhan berikan tidak semua orang memiliknya juga. Pribadi yang ulet, apapun ia kerjakan dengan baik dan tanpa keluhan.

Widi Pradheka adalah sosok sahabat yang juga kakak terbaik. Layaknya seorang kakak, dia melindungi, bahkan ketika dirinya sendiri dalam posisi tidak aman, dia akan tetap melindungi. Dia adalah orang pertama yang akan stres ketika sahabat2nya dalam sebuah pertengkaran. Aku selalu mempelajari semangatnya yang berkobar. Dia benar-benar istimewa.

At the last but not the least, semua sahabatku, semua guruku, bahkan semua orang yang membenciku yang tidak mungkin aku sebutkan satu-satu disini. Kalian luar biasa. Kalian hebat. Kalian adalah pribadi yang selalu membuatku termotivasi untuk membuat hidupku lebih hidup.

Selasa, 23 Oktober 2012

MIMPI MAYA

Bisakah aku sehari saja terbebas dari sebuah tuntutan ? Tuntutan orang tua terutama. Entahlah harus ku sebut apa aku ini. Anak durhaka kah ? atau justru anak penurut ?

Aku tahu mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku, tapi apakah mereka harus mempengaruhi cita-citaku juga ?
Sejak kecil, aku tidak terbiasa melawan mereka, tentu saja karena aku takut mendapat kutukan seperti malin kundang atau sejenisnya. Aku selalu menuruti apa yang mereka perintahkan karena aku tahu mereka pasti tahu yang terbaik untukku.
Sekarang, aku bergelar alumnus dari sebuah SMA dan mereka ‘memaksaku’ untuk melanjutkan pendidikanku ke dunia medis. Apa aku masih bisa menyebut bahwa mereka tahu yang terbaik ? Kurasa kali ini keyakinanku meleset. Aku lebih suka bergelut dengan dunia kepenulisan daripada harus mengenal berbagai jenis obat-obatan, dan lagi-lagi, sebagai seorang anak aku harus ‘rela’ mewujudkan mimpi mereka dan cita-citaku menjadi seorang penulis hanya sebuah mimpi maya, seperti namaku, Maya.
Papaku adalah seorang dokter spesialis organ dalam dan mamaku seorang apoteker. Mungkin itu sebabnya mereka menginginkan aku masuk ke dunia medis agar aku bisa memiliki satu tujuan yang sama, menyembuhkan orang sakit. Mendengar profesi mereka saja aroma obat-obatan segera merajai sistem pernafasanku dan membuatnya sesak, aneh, bukan ? Tuhaaan, aku bukan boneka susan yang bercita-cita menjadi dokter. Tidak adil sekali untukku. Apa mereka tidak melihat bakat anaknya sesungguhnya ? Ku rasa buku harian yang tumpukannya sudah setinggi badanku sudah cukup menjelaskan bahwa aku suka menulis.

***
Mengikuti segala jenis tes masuk perguruan tinggi adalah kegiatan yang sedang aku geluti saat ini. Melelahkan, sangat melelahkan. Apalagi untuk bersaing dengan para calon mahasiswa kedokteran itu tidak mudah dan harus berkemampuan ekstra, sedangkan aku tidak sepintar Jessica, juara umum SMA-ku dulu, aku hanya anak yang berkemampuan rata-rata. Ironisnya, orangtuaku terus saja mendorongku untuk bisa lolos di Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi ternama. Mereka memang memiliki antusiasme tinggi dalam hal obsesi dan aku sangat membenci itu karena pasti aku yang menjadi korban atas obsesi mereka. Kenapa bukan abangku ? Abang ? Dia terlalu cuek, bahkan sangat cuek. Abangku tergolong ke dalam kategori anak yang susah diatur, mungkin karena dia laki-laki. Dia terlalu sibuk dengan kuliah dan design projectnya. Dulu, abang juga disetir untuk menjadi seorang dokter, tapi dengan tegas ia menolak dan masuk ke dunia yang ia sukai, design grafis. Mama dan papa tidak bisa memaksanya karena abang adalah tipe orang yang nekad dan keras. Kenapa harus aku yang menggantikan posisi abang beberapa tahun lalu. Apa aku harus membantah juga ? Rasanya sangat tidak tega, tapi bagaimana pun aku tidak ingin terjun di dunia yang aku sendiri sama sekali tidak ingin mengenalnya.


***


“May, ada lomba menulis cerpen lho, ikutan nggak ? Cerpenmu kan sering dimuat di majalah,” kata Ninda, temanku yang saat itu kami sedang belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi tiga hari yang akan datang.
“Menulis cerpen ? Kapan ? Aku mau,” sontak aku menutup buku biologi yang sedang kubaca.
“Emm.. Masih ada waktu sekitar tiga minggu kok kayaknya. Hadiahnya lumayan lho, juara I delapan juta plus tropi,” ujar Ninda membelalakkan matanya sembari mengangkat delapan jari tangannya.
“Waaaah, boleh tuh, pampletnya mana ? Aku pinjem dong,” pintaku sambil meringis.
“Besok deh aku bawain,” jawab Ninda, aku mengangkan jempol tanganku tanda setuju.
***
Suasana hening di meja makan malam ini membuat sendok dan garpuku terdengar nyaring saat menyentuh permukaan piring. Sesekali aku mendehem, memecah keheningan. Mama, papa, dan abang menoleh sebentar kemudian melanjutkan makan lagi.
Gimana persiapan tesmu, May ?”  papa bertanya. Tentu saja pertanyaan yang tidak aku harapkan.
“Yah begitulah,” jawabku singkat sembari menyuap sesendok sayur ke dalam mulutku.
“Mama perhatikan, sepertinya kamu kurang serius. Jangan main-main May, ini demi masa depanmu. Sudah dua perguruan tinggi tidak menerimamu, apa kamu mau gagal untuk ketiga kalinya ?” mama angkat bicara sekaligus menghentikan gerak mulutku yang sedang asyik mengunyah.
Aku hanya diam. Demi masa depanku ? Omong kosong apa itu ? Apakah masa depan hanya punya satu jalan, menjadi dokter ?
Sialnya, bagaimana pun, aku tidak tega untuk membantah mereka, aku terlalu takut dan terlalu sayang pada mereka.
“Iya, kali ini aku serius,” kataku menunduk, “oh ya, ada lomba menulis cerpen tiga minggu lagi, aku mau ikut, hadiahnya delapan juta plus tropi,” sambungku semangat, membelalak meniru gaya Ninda.
“Untuk apa ikut lomba-lomba semacam itu ? Delapan juta, mama bisa kasih kalau kamu masuk kedokteran. Lagi pula menjadi penulis tidak menjamin masa depanmu menjadi baik. Fokus untuk tesmu dulu,” jawab mama sekaligus mengubah ekspresi wajahku menjadi sangat kecut.
Menjadi penulis tidak menjamin masa depan ? Apa maksudnya ? Banyak penulis yang lebih kaya dari para dokter.
***

Hari ini tiba, saat yang paling ditunggu, bukan olehku tapi oleh orangtuaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka, persiapanku kali ini sudah matang, ku rasa.
Apa memakai jas putih berkalungkan stetoskop dan berjalan di koridor rumah sakit adalah suatu kebanggaan ? Lalu bagaimana dengan profesi lain, penulis misalnya. Apa mereka masih kurang membanggakan ? Entahlah, semacam ada ketertarikan tersendiri dalam jiwa para orang tua agar anaknya menjadi seorang dokter. Apa mereka pikir anak-anaknya adalah boneka susan yang bercita-cita menyembuhkan orang sakit ? Apa mereka pikir dalam kehidupan ini hanya ada orang sakit ?

Gedung tes sudah ramai saat aku tiba disana tapi aku merasa sangat sendiri. Menulis puluhan lembar cerita ku kira lebih mudah daripada mengerjakan 10 soal tes, tapi bagaimana pun aku harus siap karena bekal ilmuku sudah ku cukupi sejak beberapa hari bahkan bulan yang lalu.
Aku duduk bersandar di sebuah kursi panjang yang sudah ditempati beberapa peserta tes, disana aku memulai kebiasaanku, menulis. Buku kecil yang aku bawa atau secarik kertas yang ada di tanganku atau dimanapun ada media yang kosong tanganku reflek menari, menyusun kata kemudian menjadi kalimat, entahlah mengapa kegiatan itu ku rasa sangat menyenangkan.
Tepat di sebelahku seorang anak laki-laki sedang serius mencorat-coret lembar demi lembar dari sebuah buku yang ia bawa. Buku itu  mirip koleksi gambar. Aku terbelalak melihat tangannya yang begitu lihai memainkan pensilnya dan membentuk gambar yang cantik. “Kenapa anak yang jago menggambar bisa ikut tes kedokteran ? Kenapa dia nggak masuk ke jurusan yang sesuai, seni rupa misalnya,” bathinku, “mungkin dia bernasib sama sepertiku,” tebakku.
“Waah keren banget, kamu emang hobi menggambar ya ?” tanyaku membuka pembicaraan.
Anak itu menoleh kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa nggak masuk ke jurusan yang berbau seni ?" tanyaku lagi, anak itu tetap diam sambil mengayunkan pensilnya ke permukaan kertas.
"Apa hubungannya Kedokteran dengan menggambar ?” kataku penasaran.
“Mungkin aku bisa menggambar organ manusia nantinya,” jawabnya sedikit bercanda, aku spontan tertawa mendengar jawabannya.
“Apa kamu dipaksa orang tuamu untuk masuk kedokteran juga ?” tanyaku serius.
“Juga ? Kamu dipaksa orangtuamu ?” ujarnya balik bertanya.
“Bisa dibilang seperti itu,” jawabku menunduk.
“Nasib kita mungkin sama, aku sebenarnya ingin menjadi pelukis ternama seperti Pablo Picasso misalnya, tapi orangtuaku bilang menjadi pelukis belum tentu hidup kita terjamin,” ia mengehembuskan nafas, wajahnya mulai serius, “belum tentu terjamin ? Apa menjadi dokter hidup kita akan terjamin ?Gimana kalau malah stres di tengah jalan ? Entahlah, tapi aku coba jalani semua, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mereka, mereka pasti tahu yang terbaik, bukan ? Menjadi seorang dokter yang juga pelukis, tidak buruk ku rasa,” katanya tersenyum. Aku terdiam sejenak, benar juga apa yang anak ini bilang, menjadi seorang dokter yang juga penulis, tidak begitu buruk, pikirku.
“By the way, aku Fahreza, Fahreza Adhiputra, panggil saja Eza,” sambungnya mengulurkan tangan.
“Maya, Rizmaya Azalea,” jawabku menerima uluran tangannya.
***
Hari ini tepat satu minggu setelah tes, aku masih berpikir tentang lomba menulis cerpen beberapa minggu yang akan datang. Sebenarnya aku ingin diam-diam mengirimkan cerpenku, tapi sudahlah, aku bisa mengikuti lomba-lomba sejenis di kesempatan berikutnya.
Minggu berikutnya dan berikutnya, aku masih bergalau-ria menunggu hasil tes beberapa waktu lalu dan ketika tiba waktunya, seperti yang mama dan papa harapkan, aku lolos, aku masuk ke fakultas kedokteran. Tentu saja aku senang jika mereka senang, ku rasa memasuki dunia yang asing tidak begitu buruk jika dijalani, maka aku akan berusaha menjalaninya.
Mataku memperhatikan satu persatu peserta yang lolos, kemudian terhenti di satu nama yang tak asing, Fahreza Adhiputra, dia lolos juga. Aku merasa keputusan ini semakin tidak buruk karena ada anak yang senasib yang juga lolos bersamaku. Dokter yang juga pelukis, dokter yang juga penulis, apa boleh ? Hatiku tertawa memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Ninda datang, langsung menuju kamarku dan berteriak, “Selamat ya May, kamu kereeeen banget.”
“Ini anak, baru nongol langsung berisik. Menurutmu lolos tes itu hal yang keren ?” kataku heran.
“Bukan, ini lho, lihat,” katanya lagi sembari menunjukan print out Pemenang Lomba Menulis Cerpen Nasional.
“Juara I, Rizmaya Azalea,” aku membacanya, “ini aku ? Ini namaku ? Aku juara I ??” kataku berteriak tak percaya, “tapi, siapa yang ngirim cerpenku ?” sambungku dengan wajah sedikit heran.
“Abangmu ?” jawab Ninda tersenyum.
“Abangku ? Gimana bisa ?” tanyaku semakin heran.
“Iya, abangmu. Beberapa waktu lalu dia menghubungiku dan minta informasi tentang lomba menulis cerpen itu. Dia bilang akan memasukkanmu sebagai peserta lomba dan mengirim karyamu, tapi aku dilarang bilang sampai pengumuman tiba, gitu,” Ninda menjelaskan.
“Abaaaaaaaaang !!!” Teriakku senang dan masih tak percaya.
Menjadi dokter yang juga penulis, ku rasa itu benar-benar tidak buruk. Aku bisa mewujudkan obsesi mama papa dan tetap bisa mempertahankan hobiku.



Senin, 01 Oktober 2012

Rasa dan Asa


It’s extremely hurt, God. But it seems that he dont ever care about that. Really tearfull.
But what can i do ? I can’t do anything except allowing him to keep on that.”


Jika mengagumimu adalah hal terbodoh yang aku lakukan, maka biarkanlah.
Aku cukup menikmatinya. Aku menikmati perasaan yang sebenarnya menyiksaku perlahan.
Bisakah kamu menyadari sedikit saja bahwa aku selalu memperhatikanmu walaupun hanya mampu memandangmu sedetik dua detik saja. Sampai kapan kamu membiarkan aku merasa tidak nyaman seperti ini?
Memang salahku yang tak pernah berani menunjukkan rasaku. Konyol sekali.
Sayangnya aku hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu.
Aku terlalu tertutup untuk mengungkapkan perasaanku, aku terlalu diam.
Ada di dekatmu adalah hal termanis walaupun kita tidak berdekatan tapi aku bisa mendengar hatiku berbisik “Tuhan terimakasih”, walaupun kamu sama sekali tak melihatku tapi aku bisa merasakan bola mataku mengarah selalu  kepadamu.
Aku paham, cinta memang tak bisa dipaksakan tapi apakah rasaku ini memaksaksamu untuk harus merasakan hal yang sama seperti aku ? Sama sekali tidak ! Aku hanya ingin cinta memberiku waktu untuk tetap bisa mengagumimu, itu saja.