“Adek kenapa belum bobo
?” tanya kak Rena yang memergokiku masih terjaga. Aku cuma diam, nggak tahu
harus jawab apa karena setiap malam jawabanku tetap sama, aku menunggu mama.
“Kak” panggilku
dengan suara setengah berbisik.
“Hm” kak Rena menyahut
sambil tersenyum.
“Kenapa mama nggak
pernah nemenin aku setiap sebelum tidur kayak dulu. Mama dimana sih ?” tanyaku.
Kak Rena seperti bingung, mungkin pertanyaanku mengganggunya.
“Mama masih sibuk di
kantor. Kamu bobo ya, sebentar lagi mama pulang kok.” Jawabnya.
Aku tahu kak Rena
bohong, matanya yang bilang, tapi aku pura-pura percaya. Aku menuruti perintah
kakak untuk tidur karena besok aku harus sekolah.
Kak
Rena adalah mama keduaku, bagaimana tidak, semua pekerjaan mama mulai dari membangunkan
aku, menyiapkan sarapan, mengantarkan aku sekolah, menyiapkan makan siang, dan
menemaniku tidur, kak Rena yang melakukannya. Dulu, saat Papa masih ada, mama
yang melakukan semua itu tapi sekarang setelah dua tahun yang lalu Papa
dipanggil Tuhan mama berubah, mama jarang ada di rumah, mama sering memarahi
aku dan kak Rena, nggak tahu kenapa. Mungkin mama marah pada Tuhan karena
mengambil Papa sehingga beliau meninggalkan tugasnya, mungkin mama sebel sama
aku karena sering lupa mengerjakan PR sehingga sering meninggalkan aku, atau
mungkin mama memang sedang sibuk jadi sering meninggalkan rumah. Entahlah, aku
cuma bisa mengira-ngira.
Aku
sering memergoki kak Rena nangis, setiap ku tanya kenapa ia selalu menjawab
“nggak apa-apa kok, mata kakak cuma kepedesan karena ngiris ngiris bawang.”
Huh, kak Rena pasti
bohong lagi. Aku heran kenapa orang-orang di rumah ini sering banget bohongin
aku mentang-mentang aku masih 14 tahun.
Mama ada di rumah dan
kak Rena nggak kuliah hanya setiap hari minggu. Walaupun Papa nggak ada, aku
tetap bisa merasakan keberadaannya. Satu hal yang aku sayangkan adalah aku,
mama, dan kak Rena hanya saling diam melewati hari minggu yang menurutku indah
ini.
“Tuhan, bolehkan aku
protes untuk hal ini ? aku ingin mereka tahu bahwa aku ingin seperti dulu saat
kak Rena dan mama masih sering bercanda dan menghiburku, saat tawaku masih
mudah sekali aku dapatkan.” Bathinku.
Aku
mencoba memberanikan diri bertanya pada mama yang sedang membaca koran sambil
merokok, beberapa bulan ini mama merokok padahal dulu mama sering memarahi Papa
dan bilang “merokok itu kebiasaan yang nggak sehat” tapi kenapa sekarang mama
merokok. Mana mama ku yang dulu ?
“Ma..” kataku sedikit
takut.
“Hm..” jawab mama sambil
tetap membaca korannya.
“Aku boleh tanya ?” kataku
lagi.
“Apa ?” mama menjawab
dengan mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Kenapa mama berubah ?
Kenapa mama merokok ? Kenapa mama nggak pake jilbab kayak kak Rena ? Kenapa...”
belum selesai aku menanyakan hal-hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan, mama
langsung membanting korannya dan mematikan rokoknya.
“Siapa yang ngajari kamu
nanya-nanya kayak gitu ? Kakakmu ?” kata mama teriak.
Tentu saja aku kaget,
“nggak ma, aku cuma pengen tahu.”
Kemudian mama langsung
keluar membawa tasnya dan menyalakan mobil. Aku membuntuti beliau dengan terus
bertanya “Kenapa mama selalu pergi dan nggak bilang ?”
Mobil hitam mama melaju
dengan kecepatan tinggi, aku melihatnya sampai mobil itu menghilang dari
pandanganku. Aku lari menuju kamarku dan menangis. Aku nggak bisa membenci mama
karena aku sayang mama tapi mama selalu pergi. Mama ada dimana sekarang aku
nggak tahu.
Satu
jam setelah aku manangis, kak Rena memburu-buru mengajakku ke rumah sakit.
Tentu saja aku bingung dan ketakutan.
“Mama kecelakaan
dek,” jawab kak Rena setelah aku bertanya ada apa.
Dengan cepat jantungku
berdetak, semoga nggak ada hal buruk terjadi.
Tiba di kamar tempat
mama dirawat, aku menangis lagi melihat mama terbaring dengan selang dan infus
di bagian tubuhnya.
“Maafin mama ya Bella,”
kata mama dengan suara sedikit bergetar.
“Mama nggak pernah salah
kok.” Kataku sembari terus menangis dan seketika itu mama tersenyum.
“Rena, maafin mama ya,
jaga adikmu,” mama berujar sambil kemudian mengucap istighfar berkali-kali. Kak
Rena hanya mengangguk dan menangis.
“Mama mau nyusul papa,
kalian yang akur ya.” Kata mama lagi dengan sedikit menangis.
“Mama nggak boleh
kemana-mana lagi,” aku melarang tapi mama malah tersenyum dan membaca dua
kalimat syahadat kemudian terpejam. Beliau pergi, menemui Tuhan dan menyusul
papa. Tangisku meledak di situ sambil terus memanggil mama.
Beberapa hari setelah
kepergian mama. Setiap malam kak Rena tidur di kamarku. Aku selalu bertanya,
“sekarang mama dimana ya kak ? Lagi ngapain ?”
“Mama di atas sana,
mungkin lagi ngobrol sama papa,” jawab kak Rena tersenyum kemudian ia tertidur.
Aku membuka jendela
kamarku dan melihat ke langit, “bintang yang paling terang itu, engkau kah mama
?” bathinku.
Dimuat di Koran Bernas pada September 2011
Oleh Dede Sitta Fajarwati