Rabu, 06 Juni 2012

Mama Ada Dimana ??

“Adek kenapa belum bobo ?” tanya kak Rena yang memergokiku masih terjaga. Aku cuma diam, nggak tahu harus jawab apa karena setiap malam jawabanku tetap sama, aku menunggu mama.
“Kak”  panggilku dengan suara setengah berbisik.
“Hm” kak Rena menyahut sambil tersenyum.
“Kenapa mama nggak pernah nemenin aku setiap sebelum tidur kayak dulu. Mama dimana sih ?” tanyaku. Kak Rena seperti bingung, mungkin pertanyaanku mengganggunya.
“Mama masih sibuk di kantor. Kamu bobo ya, sebentar lagi mama pulang kok.” Jawabnya.
Aku tahu kak Rena bohong, matanya yang bilang, tapi aku pura-pura percaya. Aku menuruti perintah kakak untuk tidur karena besok aku harus sekolah.
Kak Rena adalah mama keduaku, bagaimana tidak, semua pekerjaan mama mulai dari membangunkan aku, menyiapkan sarapan, mengantarkan aku sekolah, menyiapkan makan siang, dan menemaniku tidur, kak Rena yang melakukannya. Dulu, saat Papa masih ada, mama yang melakukan semua itu tapi sekarang setelah dua tahun yang lalu Papa dipanggil Tuhan mama berubah, mama jarang ada di rumah, mama sering memarahi aku dan kak Rena, nggak tahu kenapa. Mungkin mama marah pada Tuhan karena mengambil Papa sehingga beliau meninggalkan tugasnya, mungkin mama sebel sama aku karena sering lupa mengerjakan PR sehingga sering meninggalkan aku, atau mungkin mama memang sedang sibuk jadi sering meninggalkan rumah. Entahlah, aku cuma bisa mengira-ngira.
Aku sering memergoki kak Rena nangis, setiap ku tanya kenapa ia selalu menjawab “nggak apa-apa kok, mata kakak cuma kepedesan karena ngiris ngiris bawang.”
Huh, kak Rena pasti bohong lagi. Aku heran kenapa orang-orang di rumah ini sering banget bohongin aku mentang-mentang aku masih 14 tahun.
Mama ada di rumah dan kak Rena nggak kuliah hanya setiap hari minggu. Walaupun Papa nggak ada, aku tetap bisa merasakan keberadaannya. Satu hal yang aku sayangkan adalah aku, mama, dan kak Rena hanya saling diam melewati hari minggu yang menurutku indah ini.
“Tuhan, bolehkan aku protes untuk hal ini ? aku ingin mereka tahu bahwa aku ingin seperti dulu saat kak Rena dan mama masih sering bercanda dan menghiburku, saat tawaku masih mudah sekali aku dapatkan.” Bathinku.
Aku mencoba memberanikan diri bertanya pada mama yang sedang membaca koran sambil merokok, beberapa bulan ini mama merokok padahal dulu mama sering memarahi Papa dan bilang “merokok itu kebiasaan yang nggak sehat” tapi kenapa sekarang mama merokok. Mana mama ku yang dulu ?
“Ma..” kataku sedikit takut.
“Hm..” jawab mama sambil tetap membaca korannya.
“Aku boleh tanya ?” kataku lagi.
“Apa ?” mama menjawab dengan mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Kenapa mama berubah ? Kenapa mama merokok ? Kenapa mama nggak pake jilbab kayak kak Rena ? Kenapa...” belum selesai aku menanyakan hal-hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan, mama langsung membanting korannya dan mematikan rokoknya.
“Siapa yang ngajari kamu nanya-nanya kayak gitu ? Kakakmu ?” kata mama teriak.
Tentu saja aku kaget, “nggak ma, aku cuma pengen tahu.”
Kemudian mama langsung keluar membawa tasnya dan menyalakan mobil. Aku membuntuti beliau dengan terus bertanya “Kenapa mama selalu pergi dan nggak bilang ?”
Mobil hitam mama melaju dengan kecepatan tinggi, aku melihatnya sampai mobil itu menghilang dari pandanganku. Aku lari menuju kamarku dan menangis. Aku nggak bisa membenci mama karena aku sayang mama tapi mama selalu pergi. Mama ada dimana sekarang aku nggak tahu.
Satu jam setelah aku manangis, kak Rena memburu-buru mengajakku ke rumah sakit. Tentu saja aku bingung dan ketakutan.
“Mama kecelakaan dek,”  jawab kak Rena setelah aku bertanya ada apa.
Dengan cepat jantungku berdetak, semoga nggak ada hal buruk terjadi.
Tiba di kamar tempat mama dirawat, aku menangis lagi melihat mama terbaring dengan selang dan infus di bagian tubuhnya.
“Maafin mama ya Bella,” kata mama dengan suara sedikit bergetar.
“Mama nggak pernah salah kok.” Kataku sembari terus menangis dan seketika itu mama tersenyum.
“Rena, maafin mama ya, jaga adikmu,” mama berujar sambil kemudian mengucap istighfar berkali-kali. Kak Rena hanya mengangguk dan menangis.
“Mama mau nyusul papa, kalian yang akur ya.” Kata mama lagi dengan sedikit menangis.
“Mama nggak boleh kemana-mana lagi,” aku melarang tapi mama malah tersenyum dan membaca dua kalimat syahadat kemudian terpejam. Beliau pergi, menemui Tuhan dan menyusul papa. Tangisku meledak di situ sambil terus memanggil mama.
Beberapa hari setelah kepergian mama. Setiap malam kak Rena tidur di kamarku. Aku selalu bertanya, “sekarang mama dimana ya kak ? Lagi ngapain ?”
“Mama di atas sana, mungkin lagi ngobrol sama papa,” jawab kak Rena tersenyum kemudian ia tertidur.
Aku membuka jendela kamarku dan melihat ke langit, “bintang yang paling terang itu, engkau kah mama ?” bathinku.


Dimuat di Koran Bernas pada September 2011
Oleh Dede Sitta Fajarwati

Untuk A, B, C, D, E, ....., Z


Ini hanya tentang sepenggal kisah cintaku yang sebenarnya gaje pake banget.
Aku tidak seperti mereka yang mudah jatuh cinta kemudian pacaran kemudian putus kemudian jatuh cinta lagi. Aku sangat berbeda. Dan aku membenci perbedaan itu. Aku terlalu penakut untuk mengambil risiko karena pasti hanya akan ada dua kemungkinan, disakiti atau menyakiti.
Anyway, i wanna say something for somebody who’s ever fill my mind.

Untuk A, terimakasih sudah menjadi cinta pertamaku walaupun aku belum dan tidak akan sempat mengatakan rasa sukaku, bahkan sampai hari ini. Saat itu masa yang cukup memberi kenangan indah di masa merah putihku. Memang sangat sulit dipercaya anak berusia 11 tahun sudah bisa menamai rasa itu cinta. Entahlah, dari manapun aku paham itu cinta, yang pasti saat itu aku merasakan ada energi yang bergetar disekitar hatiku, ada semangat yang bangkit di jiwaku, dan apapun tentangmu membuatku senang. Sayangnya, sebelum aku membagi rasaku dan menceritakan perasaanku, salah satu temanku menyukaimu, hal menyebalkan lainnya adalah dia cantik, tentu saja dia lebih cantik, dan ku pikir kau akan lebih menyukainya. Ketika itu pula aku mundur. Anak yang malang. Walaupun beberapa waktu aku sempat ingin menghidupkan rasaku lagi karena tingkahmu yang membuat aku GR. 

Untuk B, entah harus ku sebut apa rasa ini karena awalnya aku hanya mengagumimu saja tapi siapa yang tahu ternyata kagum ini menjadi rasa suka. Tahun pertama SMP adalah awal yang baik untuk melupakan A dan aku menemukanmu. Bulan pertama memang belum ada tanda apapun tapi bulan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, sepertinya ada sesuatu terjadi pada hatimu, dari wajahmu menunjukkan seperti ada sebuah rasa semacam cinta untukku. Aku tidak begitu menghiraukannya karena aku takut itu hanya perasaanku saja. Tapi ternyata cinta itu memang ada untukku, tenyata kamu sudah menungguku sampai tahun terakhir masa putih biru dulu. Sayangnya, kita hanya bisa bersahabat saja. Sebenarnya hanya masalah waktu, kau mengungkapkan semua itu  setelah ada orang lain memiliku. Lalu apa yang harus aku lakukan ? Meninggalkannya untukmu ? Tentu saja tidak, aku akan menjadi orang jahat jika itu terjadi, lagipula salahmu yang terlalu mengulur waktu. Dan yang mengejutkan adalah, kau malah mendekati sahabatku hanya agar tetap bisa menemuiku. Hal lain yang mengejutkan adalah sampai hari ini pun kau masih saja mencoba memunculkan dirimu, kau bilang bahwa kau masih mengagumiku dan lain-lain. Lucu sekali. Sebenarnya aku sudah tidak begitu menghiraukannya karena selain kau sendiri sudah ada yang punya, akupun sudah tidak ada rasa seperti 5 tahun yang lalu. Tapi terimakasih telah menjadi orang pertama yang memberiku cokelat dan menciptakan lagu untukku.

Untuk C, seminggu pelatihan di Puslitbang Gizi Bogor benar-benar menyimpan kenangan indah dan lolos olimpiade MIPA adalah anugrah terindah buatku. Disana kita dipertemukan walaupun aku sama sekali tidak bisa mendekatimu, aku terlalu malu. Senyummu terlalu manis, wajahmu terlalu indah, pasti banyak yang menyukaimu juga saat itu. Maaf, saat itu aku selalu memperhatikanmu, berusaha melihatmu tanpa kamu ketahui. Cinta petak umpet ini sangat aku nikmati walaupun kadang nyesek melihatmu dekat dengan teman lain.

Untuk D, terimakasih sudah menjadi sahabatku walaupun ternyata kamu menyimpan rasa yang seharusnya nggak ada. Aku masih sangat mengingat kejadian-kejadian 4 atau 3 tahun lalu bersamamu. Maaf aku tidak bisa membalas rasamu, selain karena saat itu aku sudah bersama ‘dia’ ada alasan2 lain yang membuatku tidak bisa mencintaimu. Ada sedikit kelegaan setelah aku memperkenalkan sahabatku saat itu dan kamu menyukainya. Sedikit merasa bersalah, tapi sepertinya kalian bahagia, aku pun bahagia, demi Tuhan aku bahagia, walaupun sedikit nyesek.

Untuk E, kakak kelas yang pernah aku sukai, maaf aku tidak pernah bisa bilang ‘i love u’ karena selain aku cewek, aku takut kamu sama sekali tidak menyukaiku. Tapi mungkin rasaku saat itu itu bukan cinta, hanya rasa kagum saja. Entahlah, yang pasti saat itu aku selalu bersemangat mengikuti kegiatan yang ‘ada kamunya’ haha..  Aku aktif di OSIS, semangat lomba, ikut tim baris-berbaris, dan masuk kelas lewat kelasmu, itu semua hanya agar aku bisa melihatmu dan agar kamu juga melihat bahwa aku ada. Sayangnya, rasa itu hilang setelah kamu lulus, aku pun pupus.

Untuk F, apapun tentangmu tentu saja terlalu panjang jika aku ceritakan disini, tapi bagaimanapun terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Walaupun aku tahu, dulu, banyak sekali tantangan yg harus kamu hadapi saat menyandang status sebagai ‘pacarku’. Aku tahu banyak yang tidak menyukai hubungan kita saat itu, selain B, D, dan yang lainnya, juga karena faktor x, y, z yang aku pun bingung kenapa bisa seperti itu. Terimakasih sudah pernah membahagiakan aku, memberi warna-warna berbeda untuk hidupku, terutama di tahun terakhir putih biru dulu. Kenangan bersamamu terlalu banyak, tapi aku harus melupakannya karena sekarang aku dan kamu sudah tidak satu lagi.

Untuk G, ini lebih cocok ku sebut dengan ‘cinta selewatan’. Aku hanya sebatas menyukaimu untuk beberapa hari saja, itu pun karena saat itu kita berada dalam satu kegiatan yang sama. Lucu memang. Tapi bagaimanapun, terima kasih telah meningkatkan hormon adrenalinku walaupun hanya untuk beberapa hari.

Untuk H, terima kasih sudah menjadi kakakku, atau mungkin lebih dari kakak, aku tidak tahu. Yang jelas saat itu kamu sempat memalingkan sebentar perasaanku terhadap yang lain, saat itu kamu bisa membuat aku sedikit melupakan rasaku yang pernah ada untuk A, B, C, D, E, dan lainnya. Sayangnya tentang aku dan kamu hanya menggantung begitu saja, seperti tidak ada kepastian untuk terbang atau jatuh. Kamu samar-samar di otakku, membuat pertanyaan apakah akan muncul atau menghilang, apakah serius atau bermain-main. Entahlah. Intinya, aku ingin mengatakan “senang bertemu denganmu” pada saat sebelum kamu menghilang dari kehidupanku. Sialnya, kalimat itu tidak pernah terucapkan karena kita sudah sama-sama saling menjauh karena faktor x, y, z, atau apalah. Yang pasti, aku sudah cukup senang mengenalmu.

Untuk I, maaf sudah sedikit mempermainkanmu, tapi aku sama sekali tidak punya maksud untuk itu. Sebenarnya aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun, tapi saat itu aku memang salah mengambil tindakan, aku memang selalu salah, bukan ? Aku tahu aku pasti sudah menjadi peran antagonis di hidupmu, tapi apapun yang kamu pikirkan tentang aku, aku hanya ingin mengatakan MAAF sudah menyakitimu dan TERIMA KASIH sudah pernah menjadikan aku pacarmu.

Untuk J, yang menjadi salah satu alasanku selalu ceria di awal tahun putih abu-abuku. Walaupun sudah hampir 3 tahun aku mengagumi semua hal tentangmu, tapi sampai detik ini aku belum berani berkata apapun tentang itu, bahkan kepada teman terdekatku sekalipun. Menjadi teman sekelasmu adalah anugrah dan sesuatu banget untukku. Maafkan aku yang sudah menjadi pengagum rahasiamu dah bahkan sudah menyayangimu sampai hari ini. Aku sendiri tidak tahu kapan ini akan berakhir, bahkan setelah pelulusan kemarin yang seharusnya menjadi akhir masa SMAku pun aku belum mendapati tanda-tanda rasa itu akan hilang. Melupakanmu tentu saja bukan hal yang mudah. Tapi aku berjanji akan secepatnya membuang semua tentangmu. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk tetap bisa menyukaimu walaupun aku tahu kamu sama sekali tidak tahu tentang rasa ini. Aku berharap kamu memang tidak pernah mengetahuinya. Walaupun mungkin ada segelintir orang saja yang tahuntentang ini, tapi sudahlah, aku sudah benar-benar akan melupakan semua tentangmu.