Minggu, 16 Maret 2014

SARAPAN, KEGIATAN PENTING YANG SERING TERLEWATKAN


Oleh : Dede Sitta Fajarwati

Semua orang tahu apa itu sarapan, namun tidak semua mengetahui seberapa penting sarapan dan manfaatnya bagi kesehatan. Sarapan merupakan kegiatan makan di pagi hari sebelum seseorang memulai aktivitas dan rutinitas hariannya. Kegiatan sarapan sangat penting bagi kesehatan, terutama bagi orang-orang yang mengerti dan peduli akan kesehatan tubuhnya. Sarapan dapat meningkatkan energi tubuh seseorang untuk beraktivitas dan merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan penambahan nutrisi selain dari makan siang dan makan malam. Dengan tercukupinya gizi, metabolisme tubuh menjadi baik, maka akan tercipta kualitas hidup atau Sumber Daya Manusia yang baik. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa sarapan sangat penting sebagai asupan energi yang kemudian akan digunakan seharian, walaupun sangat dibantu oleh kegiatan makan pada waktu lain (makan siang, makan malam, dan makan selingan). Selama sekitar 8 jam metabolisme tubuh melemah ketika seseorang tidur, sehingga sarapan membantu metabolisme tubuh kembali lancar. Sarapan dapat memenuhi sekitar 15%- 30% kebutuhan gizi harian pada anak-anak yang merupakan sebagian dari gizi seimbang untuk mewujudkan hidup sehat, bugar, aktif, dan cerdas.
Menurut ( BPPN, 2007 ), sarapan pagi akan menyumbangkan gizi sekitar 25% dan ini merupakan jumlah yang cukup signifikan. Apabila kecukupan energi adalah sekitar 2000 kalori dan protein 50 gram sehari untuk orang dewasa, maka sarapan pagi menyumbangkan 500 kalori dan 12,5 gram protein. Sisa kebutuhan energi dan protein lainnya dipenuhi oleh makan siang, makan malam dan makanan selingan diantara dua waktu makan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, dari sebuah surat kabar Kementrian Kesehatan RI menyebutkan bahwa sarapan pagi merupakan makanan khusus untuk otak, hal ini didukung dari sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sarapan berhubungan erat dengan kecerdasan mental. Sarapan memberikan nilai positif terhadap aktivitas otak, sehingga otak menjadi lebih cerdas, peka dan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Dengan sarapan tentu kebutuhan tubuh akan energi terpenuhi sehingga tubuh menjadi lebih bugas dan aktif bekerja. Sarapan juga dapat menjadi mood booster yang menentukan produktivitas seseorang menjalani rutinitasnya setiap hari.

Menurut ( Judarwanto, 2006 ), sarapan pagi sangatlah penting, terutama bagi anak usia sekolah, karena waktu sekolah adalah waktu aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Energi yang diberikan dari sarapan pagi harus memenuhi sebanyak ¼ kalori sehari. Sarapan atau kegiatan makan yang benar juga tentu dilihat dari berbagai aspek, seperti ekonomi, sosial, budaya, agama, disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi, selaras dan seimbang. Serasi artinya sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak. Selaras adalah sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial budaya serta agama dari keluarga. Sedangkan seimbang artinya nilai gizinya harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia dan jenis bahan makanan seperti kabohidrat, protein dan lemak.
Sarapan itu sendiri memiliki banyak peran yang penting, beberapa diantaranya adalah meningkatkan energi, makan di pagi hari dapat memberikan energi untuk beraktivitas. Selain itu, sarapan dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Pada saat tidur, metabolisme menurun sehingga bangun pagi dan sarapan akan mengembalikan peningkatan metabolisme. Peningkatan metabolisme tersebut dapat dengan baik membakar kalori tubuh, sehingga orang yang terbiasa sarapan memiliki berat badan yang cenderung normal.  Berikut beberapa manfaat sarapan dari sebuah jurnal dan sumber lain :

1.      Meningkatkan Energi
Energi diperoleh dari asupan nutrisi yang dikonsumsi tubuh. Ketika tidur, tubuh mengalami kekurangan energi yang cukup tinggi, sehingga dengan sarapan energi yang hilang tersebut akan tergantikan. Meningkatnya energi dapat dimanfaatkan untuk rutinitas harian yang membutuhkan banyak energi, sehingga aktivitas yang dilakukan sejak pagi akan optimal dengan energi yang maksimal.

2.      Memberi energi otak
Konsumsi glukosa yang merupakan monomer karbohidrat akan membantu meningkatkan kemampuan otak untuk fokus dan bekerja sehingga lebih mudah berkonsentrasi. Karbohidrat itu sendiri memiliki fungsi sebagai bahan bakar dari sistem syaraf pusat, sehingga merupakan asupan nutrisi untuk otak.

3.      Memperbaiki memori / daya ingat
Penelitian terakhir membuktikan bahwa tidur semalaman membuat otak kita kelaparan. Jika kita tidak mendapat glukosa yang cukup pada saat sarapan, maka fungsi otak atau memori dapat terganggu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Suzan E. Bagwel tahun 2008 ( Loyola University New Orleans ) pada dua kelompok populasi dengan kebiasaan sarapan yang rutin pada satu kelompok dan kebiasaan sarapan yang tidak rutin pada kelompok lainnya, menggunakan Tes Daya Ingat yaitu dengan cara memberikan 8 (delapan) kata-kata yang sering ditemui oleh kedua kelompok tersebut untuk dihafal selama lima menit, kemudian menuliskannya kembali dalam waktu satu menit. Hasil dari tes tersebut didapatkan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kelompok dengan kebiasaan sarapan rutin dibandingkan dengan kelompok yang kebiasaan sarapannya tidak rutin. Oleh karena itu sarapan berpengaruh pada daya ingat seseorang, sehingga asupan nutrisi untuk otak yang dilakukan dengan cara sarapan sangat penting dan sayang apabila terlewatkan.

4.      Meningkatkan daya tahan terhadap stress
Dari sebuah survei, anak-anak dan remaja yang sarapan memiliki performa lebih, mampu mencurahkan perhatian pada pelajaran, berperilaku positif, ceria, kooperatif, gampang berteman dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Sedangkan anak yang tidak sarapan, tidak dapat berpikir dengan baik dan selalu kelihatan malas. Dengan sarapan, asupan gizi untuk otot dan otak terpenuhi, otot dan otak yang mendapatkan asupan baik akan bekerja baik pula, sehingga konsentrasi dan perfoma tubuh menjadi lebih baik.

5.      Mencegah naiknya berat badan
Saat ini remaja banyak mengeluhkan berat badan yang kurang ideal sehingga banyak program diet dilakukan. Namun, masih banyak remaja bahkan orang dewasa melakukan diet yang salah dengan membatasi makanan dan tidak melakukan sarapan. Melewatkan sarapan justru dapat memicu naiknya berat badan, karena dengan tidak sarapan dapat mendorong tubuh untuk menyimpan kalori. Selain itu, metabolisme tubuh menjadi tidak seimbang. Oleh karena itu, orang yang sarapan berat badannya cenderung stabil dan normal.

Hal-hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya kegiatan sarapan itu. Kegiatan sederhana dan cenderung sepele itu justru memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan dan kesehatan. Namun, sayangnya kegiatan sarapan masih tergolong awam dan belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Masih banyak masyarakat, terutama di Indonesia yang menyepelekan kegiatan sarapan karena berbagai alasan. Dari sebuah sumber menyebutkan bahwa sekitar 16,9% - 59% anak sekolah dan remaja tidak terbiasa sarapan, sedangkan orang dewasa terhitung sekitar 31,3%. Persentase tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 25% warga Indonesia masih belum menjadikan sarapan sebagai suatu kebutuhan. Padahal, segala aktivitas yang dimulai dari pagi membutuhkan “charger” tubuh seperti sarapan. Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010, 44,6% anak usia sekolah mengonsumsi sarapan sebanyak 15% gizi harian, padahal jumlah gizi yang harus dapat dipenuhi dari sarapan adalah 15% - 30%. Disamping itu, sebuah survei yang dilakukan di sebuah daerah, 46,3% anak selalu sarapan, 41,3% kadang-kadang sarapan dan sisanya 12,4% tidak pernah sarapan. Artinya asupan gizi yang dikonsumsi dari sarapan oleh masyarakat, terutama anak-anak di Indonesia masih tergolong rendah dan cukup memprihatinkan.
Data lain dari Dinas Kesehatan RI  juga menunjukkan prevalensi anak gizi kurang pada tahun 2000 setelah Indonesia mengalami krisis multi dimensi terjadi kenaikan yaitu 26,1% pada tahun 2001 menjadi 27,5% pada tahun 2003. Berdasarkan data tahun 2010, status gizi buruk di Indonesia mencapai 4,9% sementara gizi kurang mencapai 13%. Meskipun kasus gizi kurang dan gizi buruk mengalami penurunan jika dilihat dari data di atas, namun masalah status gizi masih merupakan masalah serius pada sebagian besar Kabupaten/Kota di Indonesia. Berdasarkan data tahun 2004, menunjukkan masalah gizi terjadi di 77,3% kabupaten dan 56% kota di Indonesia. Data tersebut menunjukkan lemahnya asupan gizi anak di Indonesia. Padahal sarapan dapat meningkatkan asupan gizi karena sarapan cukup memiliki peran terhadap gizi dalam tubuh. Sehingga dengan sarapan, kemungkinan asupan gizi anak dapat membaik.
Melewatkan kegiatan sarapan dapat mengakibatkan berbaagai risiko dalam jangka waktu yang cepat atau lambat, terutama untuk kesehatan tubuh. Menurut ( Wiharyanti, 2006 ) Cadangan gula darah ( glukosa ) dalam tubuh seseorang hanya cukup untuk aktivitas dua sampai tiga jam di pagi hari. Tanpa sarapan seseorang akan mengalami hipoglikemia atau kadar glukosa di bawah normal. Kadar glukosa normal antara 70 hingga 110 mg/dl. Hipoglikemia mengakibatkan tubuh gemetaran, pusing dan sakit berkonsentras. Hal tersebut dikarenakan kekurangan glukosa yang merupakan sumber energi bagi otak. Anak yang tidak sarapan rentan terhadap Hipoglikemia. Sementara, sarapan yang tidak memadai masih memungkinkan terjadinya Hipoglikemia pada anak. Sehingga, untuk mencapai kondisi tubuh yang optimal di pagi hari, sarapan saja tidak cukup, diperlukan sarapan dengan menu lengkap, dalam arti harus mengandung karbohidrat, sayuran dan daging. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa menu sarapan pagi yang mengandung karbohidrat kompleks memberikan pengaruh positif bagi anak dalam mempertahankan kemampuan konsentrasi belajar dan mengingat di sekolah.
Permasalahan yang menjadikan seringnya masyarakat, terutama anak-anak melewatkan waktu sarapan adalah karena berbagai faktor, diantaranya adalah sulit untuk bangun pagi, kekhawatiran terlambat masuk kerja atau sekolah sehingga mengabaikan sarapan dan menundanya hingga waktu istirahat berikutnya, faktor ekonomi yang menyebabkan tertundanya sarapan karena tidak mampu menyiapkan makanan sarapan, tidak memahami pentingnya sarapan sehingga cenderung menunda dan meninggalkan makan pagi, bagi para ibu banyak yang disebabkan karena sulit mengajak anaknya untuk sarapan.
Jika dilihat sekilas, permasalahan ini tentu sangat sepele dan tidak menjadi masalah besar. Hanya tentang kebiasaan dan kebutuhan gizi di pagi hari. Namun, apabila terus dibiarkan dalam waktu yang lama tentu akan menyebabkan dampak serius terutama dalam hal kesehatan. Melewatkan sarapan dapat mendatangkan berbagai macam penyakit, terutama yang berhubungan dengan metabolisme yang merupakan proses penting bagi tubuh. Oleh karena itu diperlukan adanya penyuluhan untuk membiasakan masyarakat di Indonesia tidak melewatkan waktu beberapa menit di pagi hari untuk mengkonsumsi gizi untuk mempertahankan kesehatan tubuhnya sehingga tercipta masyarakat sehat dengan kebiasaan yang sehat pula.

 Sumber :

Arijanto, Andry dkk. 2008. Hubungan Antara Kebiasaan Sarapan dengan Prestasi Belajar yang Dicapai dalam Bidang Ipa, Ips, Olah Raga, Total Nilai dan Daya Ingat pada Siswa Kelas VI SDN Pranti Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Surabaya : Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Indraguna P, G N, dkk. 2013. Pemeriksaan Status Gizi dan Pengenalan Sarapan Sehat pada Siswa SDN No. 1 Tianyar Barat Kubu Karangasem. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas-Ilmu Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
Judarwano, Widodo. 2006 . Perilaku Makan Anak Sekolah. Jakarta Pusat : Picky Eaters Clinic
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Jejaring Informasi Pangan dan Gizi vol. XVII no.2
Masa Depan Berawal dari Sarapan . koran-sindo.com terbit 2013, 9 desember. Diunduh pada Sabtu, 15 maret 2014 pk.19.06

 Wiharyanti, Rooslain. 2006. Anak yang Sarapan Daya Ingatnya Lebih Baik. www.bernas.co.id diunduh pada Sabtu, 15 maret 2014 pk. 19.30