Jumat, 26 Oktober 2012

Orang-Orang Hebat Di Sekitarku

Mereka adalah motivasi, yang memberi sebuah bahkan sejuta inspirasi untuk hidupku.

Firstly, my beloved dad of course, Ade Atmaja. Beliau adalah gambaran manusia tegas dan bijaksana. Makhluk yang Tuhan kirimkan untuk melindungi aku, mama, dan dua adik kecilku. Aku menjadi sosok yang tidak pernah mengenal lelah dan menyerah adalah karena beliau selalu mendorongku ketika aku berhenti berjalan, memapahku ketika aku terjatuh, dan menggendongku ketika aku benar-benar lumpuh. Beliau yang selalu meyakinkan aku bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik. Aku selalu percaya bahwa hidup ini tidak sia-sia karena beliau pernah berkata : “sitta, tidak ada manusia yang terlahir sia-sia”. Beliau orang hebat. Beliau benar-benar orang hebat dan aku nyaris tidak punya kata untuk menggambarkan betapa hebatnya beliau. Beliau yang selalu mengajarkan aku untuk sabar menghadapi segala ujian, berat atau ringan, yang aku terima hingga aku menjadi sosok yang tidak pernah mengeluhkan apapun yang menimpaku.

Secondly, mama yang aku sayangi, Rita Zahara Bachrat. Beliau adalah bentuk kasih sayang Tuhan untukku. Mama selalu mengajarkan aku untuk selalu bersyukur atas apa yang aku miliki, bukan iri terhadap apa yang orang lain punya. Sosok cantik itu nyaris tidak pernah bersedih bahkan ketika beliau menghadapi saat-saat yang sangat menyedihkan, beliau masih menunjukkan raut bahagia, untuk anak-anaknya, untuk orang-orang disekitarnya, agar tidak ada lagi yang menangis selain hatinya. Beliau benar-benar peri kirimaan Tuhan yang luar biasa. Beliau adalah guru atas ketegaranku. Beliau membuatku selalu berani berada di tempat asing, sejauh manapun jarakku dari rumah, aku selalu bisa bertahan karena beliau mengajarkan aku untuk bisa beradaptasi dengan berbagai macam kondisi lingkungan sehingga aku tidak pernah takut. Beliau pernah bilang, “jangan pernah takut jauh dari mama, dari bapa, atau dari siapapun, dimanapun kamu, ada Allah disitu.”

and the next,

Dea Novi Rahmawati. Dia adikku. Adik yang juga teman terbaikku. Dia selalu menjadi penghibur dimanapun dia berada. Dia, sosok yang selalu ceria, nyaris tidak pernah merasa sedih. Aku kadang iri bagaimana bibir itu bisa terus menyunggingkan senyuman, bahkan ketika keadaan sedang mencekiknya.
Selalu ada pertengkaran kecil antara kami, tidak jarang aku menggertaknya, tapi sungguh, demi apapun aku menyayanginya.
Dia sosok ambisius, dia selalu berusaha untuk mencapai apa yg ingin ia dapatkan, apapun itu. Menjadi dancer, dia sudah menggenggamnya. Menjadi top model, dia juga dengan giat mengejarnya. Menjadi actress, dia berusaha mencapainya. Dia sosok yang tidak pernah menyerah untuk mimpinya. Dia selalu serius untuk ambisinya dan aku sangat salutkan itu.

Adik kecilku, Dea Syifa Az-zahra, yang akan selalu menjadi adik kecilku sampai kapanpun. Anak ini mengajarkan aku bagaimana menjadi pribadi teratur. Suatu ketika, dia pernah bercerita tentang cita-citanya, “nanti, ifa mau sekolah di jogja, terus kuliah di ugm ambil arsitek.” Aku hanya tersenyum saat itu sambil berkata “aamiin” dalam hati. Dia manja, sangaaaat manja, tapi mama pernah bilang bahwa dari ketiga anaknya, syifa yang paling baik merawat mama dan bapa ketika sakit dan syifa paling rapi membereskan kamar, bahkan ketika sosok tomboy itu dipoles make up, mama bilang, syifa paling cantik.

Usu, Siti Balkis Bachrat adalah wanita perkasa dan tangguh. Pribadinya yang tidak mudah menyerah selalu menginspirasiku untuk menjadi manusia yang tidak pernah menyerah juga. Dia tante yang juga sahabatku. Sosok yang penyabar dan penuh kasih membuat aku merasakan 'ibu' ketika aku jauh dari mama. Beliau yang mengajarkan aku untuk tidak mengeluh dan tidak mudah putus asa. Pernah dulu, ketika aku sedang berada di puncak emosiku, beliau berkata, "Menangislah, nangis itu wajar kok. Kadang masalah menjadi terasa sedikit ringan dengan menangis."

Sahabat-sahabatku,
Erna Hasnatul Hasanah. Dia benar-benar memberiku motivasi untuk lebih bersyukur menghadapi hidup ini. Sosok itu tegar sekali. Dia yang mengajarkan aku untuk selalu tersenyum menghadapi segala bentuk kesedihan. Banyak hal yang aku pelajari darinya, banyak sekali, tentang kesabaran, tentang ketegaran, dan tentang persahabatan. Dia membuat aku memahami bahwa Tuhan selalu berperan dalam lika-liku kehidupan manusia, maka dari itu aku selalu menyertakan Tuhan di setiap aktivitasku. Dia adalah kakak yang selalu menjagaku. Aku selalu merasa aman berada didekatnya.

Rizqa Anggraeni. Dia sahabat yang juga adikku. Pribadinya yang selalu disenangi membuat aku selalu iri. Sosoknya lembut, dia nyaris tidak pernah marah. Dia adalah sebuah motivasiku untuk selalu bangkit ketika jatuh. Dia adalah sahabat yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri.

Ilham Apriyanto. Orang ini memberiku banyaak sekali pelajaran mengenai hidup. Dia mengajarkan aku bahwa bahagia adalah ketika hati kita tersenyum, bahwa bahagia tidak harus karena materi. Dia membuat aku memahami arti sebuah perjuangan dan tujuan hidup. Dia yang membuat aku mengerti bahwa menjadi hebat tidak harus menjadi orang nomor satu atau memiliki segalanya, tapi cukup menjadi diri sendiri ketika orang lain berusaha mengubah hidupmu. Darinya aku bisa mengetahui karang yang perkasa itu pun bisa berubah jika cinta menyentuhnya.

Nurul janah. Dia anak kecil yang sudah sangat dewasa :D
Manusia yang membuat aku mengerti bahwa setetes keringat perjuangan adalah sebutir permata. Darinya aku tahu bahwa hidup memang sebuah perjalanan panjang yang disetiap persimpangannya selalu dihadapkan dengan pilihan. Dia yang membuat aku tak pernah lelah untuk berjuang, karena sepahit apapun perjuangan itu akan selalu berakhir manis. Dia tidak pernah merasa lelah walaupun sebenarnya ia sangat lelah. Dia luar biasa.

Herning Noviana, adalah seperti ayam goreng, mengenyangkan :D
Satu kalimat yang membuatku kenyang ketika aku sudah lelah menghadapi berbagai tes masuk perguruan tinggi, “ketuk semua pintu sit ! dari sekian banyak pintu yang kita ketuk, pasti ada salah satu yang terbuka.” Sosok ini luar biasa, dia selalu serius dalam mencapai ambisi nya. Aku selalu ingin seperti dia yang sangat mencintai Fisika. Tidak semua orang bisa mencintai fisika yang mengerikan itu, tapi dia bisa dan itu luar biasa. Selain itu, hal yang membuat aku iri adalah tangannya yang lihai menggambar. Aku selalu ingin bisa menggambar gadis cantik tapi hasilnya selalu menjadi gadis buruk rupa -_-

Rr. Renita Karina Dewi adalah sebuah gambaran manusia luar biasa. Dia selalu bisa tertawa dan membawa suasana ceria walaupun hatinya sedang menangis. Pernah suatu hari, dia menangis, benar-benar meluapkan emosi di depanku tanpa ada yang tahu. Ketika itu aku paham betapa dia berusaha keras menutupi air matanya dan tidak semua orang bisa melakukannya. Dia gadis yang kuat, yang selalu bisa menciptakan kebahagiaan bahkan ketika dia sendiri lelah atas hidupnya. Aku ingin seperti dia yang rendah hati dan tidak pernah rendah diri.
Annisa Kamilia Rachman. Gadis bungsu yang selalu menjadi kakak untukku dan untuk semua sahabatku. Dia adalah manusia bijak, mungkin Mario Teguh adalah muridnya :D
Dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mojang bandung ini sangat penyayang, juga penyabar. Seberat apapun rintangan di depannya, dia hadapi. Sosoknya telaten, rapi, dan selalu mengatur segalanya dengan sempurna. Dia adalah sahabat Kimia, seperti via yang mencintai fisika, dia juga mencintai Kimia dan aku selalu ingin menyerap ilmu kimia yang dia punya :D

Saras Widaningrum. Seorang hamba Allah yang benar-benar luar biasa. Gadis yang tidak pernah lepas dari rasa syukur. Darinya aku tahu bahwa segala yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik yang Tuhan berikan, dan apapun yang Tuhan berikan tidak semua orang memiliknya juga. Pribadi yang ulet, apapun ia kerjakan dengan baik dan tanpa keluhan.

Widi Pradheka adalah sosok sahabat yang juga kakak terbaik. Layaknya seorang kakak, dia melindungi, bahkan ketika dirinya sendiri dalam posisi tidak aman, dia akan tetap melindungi. Dia adalah orang pertama yang akan stres ketika sahabat2nya dalam sebuah pertengkaran. Aku selalu mempelajari semangatnya yang berkobar. Dia benar-benar istimewa.

At the last but not the least, semua sahabatku, semua guruku, bahkan semua orang yang membenciku yang tidak mungkin aku sebutkan satu-satu disini. Kalian luar biasa. Kalian hebat. Kalian adalah pribadi yang selalu membuatku termotivasi untuk membuat hidupku lebih hidup.

Selasa, 23 Oktober 2012

MIMPI MAYA

Bisakah aku sehari saja terbebas dari sebuah tuntutan ? Tuntutan orang tua terutama. Entahlah harus ku sebut apa aku ini. Anak durhaka kah ? atau justru anak penurut ?

Aku tahu mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku, tapi apakah mereka harus mempengaruhi cita-citaku juga ?
Sejak kecil, aku tidak terbiasa melawan mereka, tentu saja karena aku takut mendapat kutukan seperti malin kundang atau sejenisnya. Aku selalu menuruti apa yang mereka perintahkan karena aku tahu mereka pasti tahu yang terbaik untukku.
Sekarang, aku bergelar alumnus dari sebuah SMA dan mereka ‘memaksaku’ untuk melanjutkan pendidikanku ke dunia medis. Apa aku masih bisa menyebut bahwa mereka tahu yang terbaik ? Kurasa kali ini keyakinanku meleset. Aku lebih suka bergelut dengan dunia kepenulisan daripada harus mengenal berbagai jenis obat-obatan, dan lagi-lagi, sebagai seorang anak aku harus ‘rela’ mewujudkan mimpi mereka dan cita-citaku menjadi seorang penulis hanya sebuah mimpi maya, seperti namaku, Maya.
Papaku adalah seorang dokter spesialis organ dalam dan mamaku seorang apoteker. Mungkin itu sebabnya mereka menginginkan aku masuk ke dunia medis agar aku bisa memiliki satu tujuan yang sama, menyembuhkan orang sakit. Mendengar profesi mereka saja aroma obat-obatan segera merajai sistem pernafasanku dan membuatnya sesak, aneh, bukan ? Tuhaaan, aku bukan boneka susan yang bercita-cita menjadi dokter. Tidak adil sekali untukku. Apa mereka tidak melihat bakat anaknya sesungguhnya ? Ku rasa buku harian yang tumpukannya sudah setinggi badanku sudah cukup menjelaskan bahwa aku suka menulis.

***
Mengikuti segala jenis tes masuk perguruan tinggi adalah kegiatan yang sedang aku geluti saat ini. Melelahkan, sangat melelahkan. Apalagi untuk bersaing dengan para calon mahasiswa kedokteran itu tidak mudah dan harus berkemampuan ekstra, sedangkan aku tidak sepintar Jessica, juara umum SMA-ku dulu, aku hanya anak yang berkemampuan rata-rata. Ironisnya, orangtuaku terus saja mendorongku untuk bisa lolos di Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi ternama. Mereka memang memiliki antusiasme tinggi dalam hal obsesi dan aku sangat membenci itu karena pasti aku yang menjadi korban atas obsesi mereka. Kenapa bukan abangku ? Abang ? Dia terlalu cuek, bahkan sangat cuek. Abangku tergolong ke dalam kategori anak yang susah diatur, mungkin karena dia laki-laki. Dia terlalu sibuk dengan kuliah dan design projectnya. Dulu, abang juga disetir untuk menjadi seorang dokter, tapi dengan tegas ia menolak dan masuk ke dunia yang ia sukai, design grafis. Mama dan papa tidak bisa memaksanya karena abang adalah tipe orang yang nekad dan keras. Kenapa harus aku yang menggantikan posisi abang beberapa tahun lalu. Apa aku harus membantah juga ? Rasanya sangat tidak tega, tapi bagaimana pun aku tidak ingin terjun di dunia yang aku sendiri sama sekali tidak ingin mengenalnya.


***


“May, ada lomba menulis cerpen lho, ikutan nggak ? Cerpenmu kan sering dimuat di majalah,” kata Ninda, temanku yang saat itu kami sedang belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi tiga hari yang akan datang.
“Menulis cerpen ? Kapan ? Aku mau,” sontak aku menutup buku biologi yang sedang kubaca.
“Emm.. Masih ada waktu sekitar tiga minggu kok kayaknya. Hadiahnya lumayan lho, juara I delapan juta plus tropi,” ujar Ninda membelalakkan matanya sembari mengangkat delapan jari tangannya.
“Waaaah, boleh tuh, pampletnya mana ? Aku pinjem dong,” pintaku sambil meringis.
“Besok deh aku bawain,” jawab Ninda, aku mengangkan jempol tanganku tanda setuju.
***
Suasana hening di meja makan malam ini membuat sendok dan garpuku terdengar nyaring saat menyentuh permukaan piring. Sesekali aku mendehem, memecah keheningan. Mama, papa, dan abang menoleh sebentar kemudian melanjutkan makan lagi.
Gimana persiapan tesmu, May ?”  papa bertanya. Tentu saja pertanyaan yang tidak aku harapkan.
“Yah begitulah,” jawabku singkat sembari menyuap sesendok sayur ke dalam mulutku.
“Mama perhatikan, sepertinya kamu kurang serius. Jangan main-main May, ini demi masa depanmu. Sudah dua perguruan tinggi tidak menerimamu, apa kamu mau gagal untuk ketiga kalinya ?” mama angkat bicara sekaligus menghentikan gerak mulutku yang sedang asyik mengunyah.
Aku hanya diam. Demi masa depanku ? Omong kosong apa itu ? Apakah masa depan hanya punya satu jalan, menjadi dokter ?
Sialnya, bagaimana pun, aku tidak tega untuk membantah mereka, aku terlalu takut dan terlalu sayang pada mereka.
“Iya, kali ini aku serius,” kataku menunduk, “oh ya, ada lomba menulis cerpen tiga minggu lagi, aku mau ikut, hadiahnya delapan juta plus tropi,” sambungku semangat, membelalak meniru gaya Ninda.
“Untuk apa ikut lomba-lomba semacam itu ? Delapan juta, mama bisa kasih kalau kamu masuk kedokteran. Lagi pula menjadi penulis tidak menjamin masa depanmu menjadi baik. Fokus untuk tesmu dulu,” jawab mama sekaligus mengubah ekspresi wajahku menjadi sangat kecut.
Menjadi penulis tidak menjamin masa depan ? Apa maksudnya ? Banyak penulis yang lebih kaya dari para dokter.
***

Hari ini tiba, saat yang paling ditunggu, bukan olehku tapi oleh orangtuaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka, persiapanku kali ini sudah matang, ku rasa.
Apa memakai jas putih berkalungkan stetoskop dan berjalan di koridor rumah sakit adalah suatu kebanggaan ? Lalu bagaimana dengan profesi lain, penulis misalnya. Apa mereka masih kurang membanggakan ? Entahlah, semacam ada ketertarikan tersendiri dalam jiwa para orang tua agar anaknya menjadi seorang dokter. Apa mereka pikir anak-anaknya adalah boneka susan yang bercita-cita menyembuhkan orang sakit ? Apa mereka pikir dalam kehidupan ini hanya ada orang sakit ?

Gedung tes sudah ramai saat aku tiba disana tapi aku merasa sangat sendiri. Menulis puluhan lembar cerita ku kira lebih mudah daripada mengerjakan 10 soal tes, tapi bagaimana pun aku harus siap karena bekal ilmuku sudah ku cukupi sejak beberapa hari bahkan bulan yang lalu.
Aku duduk bersandar di sebuah kursi panjang yang sudah ditempati beberapa peserta tes, disana aku memulai kebiasaanku, menulis. Buku kecil yang aku bawa atau secarik kertas yang ada di tanganku atau dimanapun ada media yang kosong tanganku reflek menari, menyusun kata kemudian menjadi kalimat, entahlah mengapa kegiatan itu ku rasa sangat menyenangkan.
Tepat di sebelahku seorang anak laki-laki sedang serius mencorat-coret lembar demi lembar dari sebuah buku yang ia bawa. Buku itu  mirip koleksi gambar. Aku terbelalak melihat tangannya yang begitu lihai memainkan pensilnya dan membentuk gambar yang cantik. “Kenapa anak yang jago menggambar bisa ikut tes kedokteran ? Kenapa dia nggak masuk ke jurusan yang sesuai, seni rupa misalnya,” bathinku, “mungkin dia bernasib sama sepertiku,” tebakku.
“Waah keren banget, kamu emang hobi menggambar ya ?” tanyaku membuka pembicaraan.
Anak itu menoleh kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa nggak masuk ke jurusan yang berbau seni ?" tanyaku lagi, anak itu tetap diam sambil mengayunkan pensilnya ke permukaan kertas.
"Apa hubungannya Kedokteran dengan menggambar ?” kataku penasaran.
“Mungkin aku bisa menggambar organ manusia nantinya,” jawabnya sedikit bercanda, aku spontan tertawa mendengar jawabannya.
“Apa kamu dipaksa orang tuamu untuk masuk kedokteran juga ?” tanyaku serius.
“Juga ? Kamu dipaksa orangtuamu ?” ujarnya balik bertanya.
“Bisa dibilang seperti itu,” jawabku menunduk.
“Nasib kita mungkin sama, aku sebenarnya ingin menjadi pelukis ternama seperti Pablo Picasso misalnya, tapi orangtuaku bilang menjadi pelukis belum tentu hidup kita terjamin,” ia mengehembuskan nafas, wajahnya mulai serius, “belum tentu terjamin ? Apa menjadi dokter hidup kita akan terjamin ?Gimana kalau malah stres di tengah jalan ? Entahlah, tapi aku coba jalani semua, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mereka, mereka pasti tahu yang terbaik, bukan ? Menjadi seorang dokter yang juga pelukis, tidak buruk ku rasa,” katanya tersenyum. Aku terdiam sejenak, benar juga apa yang anak ini bilang, menjadi seorang dokter yang juga penulis, tidak begitu buruk, pikirku.
“By the way, aku Fahreza, Fahreza Adhiputra, panggil saja Eza,” sambungnya mengulurkan tangan.
“Maya, Rizmaya Azalea,” jawabku menerima uluran tangannya.
***
Hari ini tepat satu minggu setelah tes, aku masih berpikir tentang lomba menulis cerpen beberapa minggu yang akan datang. Sebenarnya aku ingin diam-diam mengirimkan cerpenku, tapi sudahlah, aku bisa mengikuti lomba-lomba sejenis di kesempatan berikutnya.
Minggu berikutnya dan berikutnya, aku masih bergalau-ria menunggu hasil tes beberapa waktu lalu dan ketika tiba waktunya, seperti yang mama dan papa harapkan, aku lolos, aku masuk ke fakultas kedokteran. Tentu saja aku senang jika mereka senang, ku rasa memasuki dunia yang asing tidak begitu buruk jika dijalani, maka aku akan berusaha menjalaninya.
Mataku memperhatikan satu persatu peserta yang lolos, kemudian terhenti di satu nama yang tak asing, Fahreza Adhiputra, dia lolos juga. Aku merasa keputusan ini semakin tidak buruk karena ada anak yang senasib yang juga lolos bersamaku. Dokter yang juga pelukis, dokter yang juga penulis, apa boleh ? Hatiku tertawa memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Ninda datang, langsung menuju kamarku dan berteriak, “Selamat ya May, kamu kereeeen banget.”
“Ini anak, baru nongol langsung berisik. Menurutmu lolos tes itu hal yang keren ?” kataku heran.
“Bukan, ini lho, lihat,” katanya lagi sembari menunjukan print out Pemenang Lomba Menulis Cerpen Nasional.
“Juara I, Rizmaya Azalea,” aku membacanya, “ini aku ? Ini namaku ? Aku juara I ??” kataku berteriak tak percaya, “tapi, siapa yang ngirim cerpenku ?” sambungku dengan wajah sedikit heran.
“Abangmu ?” jawab Ninda tersenyum.
“Abangku ? Gimana bisa ?” tanyaku semakin heran.
“Iya, abangmu. Beberapa waktu lalu dia menghubungiku dan minta informasi tentang lomba menulis cerpen itu. Dia bilang akan memasukkanmu sebagai peserta lomba dan mengirim karyamu, tapi aku dilarang bilang sampai pengumuman tiba, gitu,” Ninda menjelaskan.
“Abaaaaaaaaang !!!” Teriakku senang dan masih tak percaya.
Menjadi dokter yang juga penulis, ku rasa itu benar-benar tidak buruk. Aku bisa mewujudkan obsesi mama papa dan tetap bisa mempertahankan hobiku.



Senin, 01 Oktober 2012

Rasa dan Asa


It’s extremely hurt, God. But it seems that he dont ever care about that. Really tearfull.
But what can i do ? I can’t do anything except allowing him to keep on that.”


Jika mengagumimu adalah hal terbodoh yang aku lakukan, maka biarkanlah.
Aku cukup menikmatinya. Aku menikmati perasaan yang sebenarnya menyiksaku perlahan.
Bisakah kamu menyadari sedikit saja bahwa aku selalu memperhatikanmu walaupun hanya mampu memandangmu sedetik dua detik saja. Sampai kapan kamu membiarkan aku merasa tidak nyaman seperti ini?
Memang salahku yang tak pernah berani menunjukkan rasaku. Konyol sekali.
Sayangnya aku hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu.
Aku terlalu tertutup untuk mengungkapkan perasaanku, aku terlalu diam.
Ada di dekatmu adalah hal termanis walaupun kita tidak berdekatan tapi aku bisa mendengar hatiku berbisik “Tuhan terimakasih”, walaupun kamu sama sekali tak melihatku tapi aku bisa merasakan bola mataku mengarah selalu  kepadamu.
Aku paham, cinta memang tak bisa dipaksakan tapi apakah rasaku ini memaksaksamu untuk harus merasakan hal yang sama seperti aku ? Sama sekali tidak ! Aku hanya ingin cinta memberiku waktu untuk tetap bisa mengagumimu, itu saja.

Rabu, 06 Juni 2012

Mama Ada Dimana ??

“Adek kenapa belum bobo ?” tanya kak Rena yang memergokiku masih terjaga. Aku cuma diam, nggak tahu harus jawab apa karena setiap malam jawabanku tetap sama, aku menunggu mama.
“Kak”  panggilku dengan suara setengah berbisik.
“Hm” kak Rena menyahut sambil tersenyum.
“Kenapa mama nggak pernah nemenin aku setiap sebelum tidur kayak dulu. Mama dimana sih ?” tanyaku. Kak Rena seperti bingung, mungkin pertanyaanku mengganggunya.
“Mama masih sibuk di kantor. Kamu bobo ya, sebentar lagi mama pulang kok.” Jawabnya.
Aku tahu kak Rena bohong, matanya yang bilang, tapi aku pura-pura percaya. Aku menuruti perintah kakak untuk tidur karena besok aku harus sekolah.
Kak Rena adalah mama keduaku, bagaimana tidak, semua pekerjaan mama mulai dari membangunkan aku, menyiapkan sarapan, mengantarkan aku sekolah, menyiapkan makan siang, dan menemaniku tidur, kak Rena yang melakukannya. Dulu, saat Papa masih ada, mama yang melakukan semua itu tapi sekarang setelah dua tahun yang lalu Papa dipanggil Tuhan mama berubah, mama jarang ada di rumah, mama sering memarahi aku dan kak Rena, nggak tahu kenapa. Mungkin mama marah pada Tuhan karena mengambil Papa sehingga beliau meninggalkan tugasnya, mungkin mama sebel sama aku karena sering lupa mengerjakan PR sehingga sering meninggalkan aku, atau mungkin mama memang sedang sibuk jadi sering meninggalkan rumah. Entahlah, aku cuma bisa mengira-ngira.
Aku sering memergoki kak Rena nangis, setiap ku tanya kenapa ia selalu menjawab “nggak apa-apa kok, mata kakak cuma kepedesan karena ngiris ngiris bawang.”
Huh, kak Rena pasti bohong lagi. Aku heran kenapa orang-orang di rumah ini sering banget bohongin aku mentang-mentang aku masih 14 tahun.
Mama ada di rumah dan kak Rena nggak kuliah hanya setiap hari minggu. Walaupun Papa nggak ada, aku tetap bisa merasakan keberadaannya. Satu hal yang aku sayangkan adalah aku, mama, dan kak Rena hanya saling diam melewati hari minggu yang menurutku indah ini.
“Tuhan, bolehkan aku protes untuk hal ini ? aku ingin mereka tahu bahwa aku ingin seperti dulu saat kak Rena dan mama masih sering bercanda dan menghiburku, saat tawaku masih mudah sekali aku dapatkan.” Bathinku.
Aku mencoba memberanikan diri bertanya pada mama yang sedang membaca koran sambil merokok, beberapa bulan ini mama merokok padahal dulu mama sering memarahi Papa dan bilang “merokok itu kebiasaan yang nggak sehat” tapi kenapa sekarang mama merokok. Mana mama ku yang dulu ?
“Ma..” kataku sedikit takut.
“Hm..” jawab mama sambil tetap membaca korannya.
“Aku boleh tanya ?” kataku lagi.
“Apa ?” mama menjawab dengan mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Kenapa mama berubah ? Kenapa mama merokok ? Kenapa mama nggak pake jilbab kayak kak Rena ? Kenapa...” belum selesai aku menanyakan hal-hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan, mama langsung membanting korannya dan mematikan rokoknya.
“Siapa yang ngajari kamu nanya-nanya kayak gitu ? Kakakmu ?” kata mama teriak.
Tentu saja aku kaget, “nggak ma, aku cuma pengen tahu.”
Kemudian mama langsung keluar membawa tasnya dan menyalakan mobil. Aku membuntuti beliau dengan terus bertanya “Kenapa mama selalu pergi dan nggak bilang ?”
Mobil hitam mama melaju dengan kecepatan tinggi, aku melihatnya sampai mobil itu menghilang dari pandanganku. Aku lari menuju kamarku dan menangis. Aku nggak bisa membenci mama karena aku sayang mama tapi mama selalu pergi. Mama ada dimana sekarang aku nggak tahu.
Satu jam setelah aku manangis, kak Rena memburu-buru mengajakku ke rumah sakit. Tentu saja aku bingung dan ketakutan.
“Mama kecelakaan dek,”  jawab kak Rena setelah aku bertanya ada apa.
Dengan cepat jantungku berdetak, semoga nggak ada hal buruk terjadi.
Tiba di kamar tempat mama dirawat, aku menangis lagi melihat mama terbaring dengan selang dan infus di bagian tubuhnya.
“Maafin mama ya Bella,” kata mama dengan suara sedikit bergetar.
“Mama nggak pernah salah kok.” Kataku sembari terus menangis dan seketika itu mama tersenyum.
“Rena, maafin mama ya, jaga adikmu,” mama berujar sambil kemudian mengucap istighfar berkali-kali. Kak Rena hanya mengangguk dan menangis.
“Mama mau nyusul papa, kalian yang akur ya.” Kata mama lagi dengan sedikit menangis.
“Mama nggak boleh kemana-mana lagi,” aku melarang tapi mama malah tersenyum dan membaca dua kalimat syahadat kemudian terpejam. Beliau pergi, menemui Tuhan dan menyusul papa. Tangisku meledak di situ sambil terus memanggil mama.
Beberapa hari setelah kepergian mama. Setiap malam kak Rena tidur di kamarku. Aku selalu bertanya, “sekarang mama dimana ya kak ? Lagi ngapain ?”
“Mama di atas sana, mungkin lagi ngobrol sama papa,” jawab kak Rena tersenyum kemudian ia tertidur.
Aku membuka jendela kamarku dan melihat ke langit, “bintang yang paling terang itu, engkau kah mama ?” bathinku.


Dimuat di Koran Bernas pada September 2011
Oleh Dede Sitta Fajarwati

Untuk A, B, C, D, E, ....., Z


Ini hanya tentang sepenggal kisah cintaku yang sebenarnya gaje pake banget.
Aku tidak seperti mereka yang mudah jatuh cinta kemudian pacaran kemudian putus kemudian jatuh cinta lagi. Aku sangat berbeda. Dan aku membenci perbedaan itu. Aku terlalu penakut untuk mengambil risiko karena pasti hanya akan ada dua kemungkinan, disakiti atau menyakiti.
Anyway, i wanna say something for somebody who’s ever fill my mind.

Untuk A, terimakasih sudah menjadi cinta pertamaku walaupun aku belum dan tidak akan sempat mengatakan rasa sukaku, bahkan sampai hari ini. Saat itu masa yang cukup memberi kenangan indah di masa merah putihku. Memang sangat sulit dipercaya anak berusia 11 tahun sudah bisa menamai rasa itu cinta. Entahlah, dari manapun aku paham itu cinta, yang pasti saat itu aku merasakan ada energi yang bergetar disekitar hatiku, ada semangat yang bangkit di jiwaku, dan apapun tentangmu membuatku senang. Sayangnya, sebelum aku membagi rasaku dan menceritakan perasaanku, salah satu temanku menyukaimu, hal menyebalkan lainnya adalah dia cantik, tentu saja dia lebih cantik, dan ku pikir kau akan lebih menyukainya. Ketika itu pula aku mundur. Anak yang malang. Walaupun beberapa waktu aku sempat ingin menghidupkan rasaku lagi karena tingkahmu yang membuat aku GR. 

Untuk B, entah harus ku sebut apa rasa ini karena awalnya aku hanya mengagumimu saja tapi siapa yang tahu ternyata kagum ini menjadi rasa suka. Tahun pertama SMP adalah awal yang baik untuk melupakan A dan aku menemukanmu. Bulan pertama memang belum ada tanda apapun tapi bulan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, sepertinya ada sesuatu terjadi pada hatimu, dari wajahmu menunjukkan seperti ada sebuah rasa semacam cinta untukku. Aku tidak begitu menghiraukannya karena aku takut itu hanya perasaanku saja. Tapi ternyata cinta itu memang ada untukku, tenyata kamu sudah menungguku sampai tahun terakhir masa putih biru dulu. Sayangnya, kita hanya bisa bersahabat saja. Sebenarnya hanya masalah waktu, kau mengungkapkan semua itu  setelah ada orang lain memiliku. Lalu apa yang harus aku lakukan ? Meninggalkannya untukmu ? Tentu saja tidak, aku akan menjadi orang jahat jika itu terjadi, lagipula salahmu yang terlalu mengulur waktu. Dan yang mengejutkan adalah, kau malah mendekati sahabatku hanya agar tetap bisa menemuiku. Hal lain yang mengejutkan adalah sampai hari ini pun kau masih saja mencoba memunculkan dirimu, kau bilang bahwa kau masih mengagumiku dan lain-lain. Lucu sekali. Sebenarnya aku sudah tidak begitu menghiraukannya karena selain kau sendiri sudah ada yang punya, akupun sudah tidak ada rasa seperti 5 tahun yang lalu. Tapi terimakasih telah menjadi orang pertama yang memberiku cokelat dan menciptakan lagu untukku.

Untuk C, seminggu pelatihan di Puslitbang Gizi Bogor benar-benar menyimpan kenangan indah dan lolos olimpiade MIPA adalah anugrah terindah buatku. Disana kita dipertemukan walaupun aku sama sekali tidak bisa mendekatimu, aku terlalu malu. Senyummu terlalu manis, wajahmu terlalu indah, pasti banyak yang menyukaimu juga saat itu. Maaf, saat itu aku selalu memperhatikanmu, berusaha melihatmu tanpa kamu ketahui. Cinta petak umpet ini sangat aku nikmati walaupun kadang nyesek melihatmu dekat dengan teman lain.

Untuk D, terimakasih sudah menjadi sahabatku walaupun ternyata kamu menyimpan rasa yang seharusnya nggak ada. Aku masih sangat mengingat kejadian-kejadian 4 atau 3 tahun lalu bersamamu. Maaf aku tidak bisa membalas rasamu, selain karena saat itu aku sudah bersama ‘dia’ ada alasan2 lain yang membuatku tidak bisa mencintaimu. Ada sedikit kelegaan setelah aku memperkenalkan sahabatku saat itu dan kamu menyukainya. Sedikit merasa bersalah, tapi sepertinya kalian bahagia, aku pun bahagia, demi Tuhan aku bahagia, walaupun sedikit nyesek.

Untuk E, kakak kelas yang pernah aku sukai, maaf aku tidak pernah bisa bilang ‘i love u’ karena selain aku cewek, aku takut kamu sama sekali tidak menyukaiku. Tapi mungkin rasaku saat itu itu bukan cinta, hanya rasa kagum saja. Entahlah, yang pasti saat itu aku selalu bersemangat mengikuti kegiatan yang ‘ada kamunya’ haha..  Aku aktif di OSIS, semangat lomba, ikut tim baris-berbaris, dan masuk kelas lewat kelasmu, itu semua hanya agar aku bisa melihatmu dan agar kamu juga melihat bahwa aku ada. Sayangnya, rasa itu hilang setelah kamu lulus, aku pun pupus.

Untuk F, apapun tentangmu tentu saja terlalu panjang jika aku ceritakan disini, tapi bagaimanapun terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Walaupun aku tahu, dulu, banyak sekali tantangan yg harus kamu hadapi saat menyandang status sebagai ‘pacarku’. Aku tahu banyak yang tidak menyukai hubungan kita saat itu, selain B, D, dan yang lainnya, juga karena faktor x, y, z yang aku pun bingung kenapa bisa seperti itu. Terimakasih sudah pernah membahagiakan aku, memberi warna-warna berbeda untuk hidupku, terutama di tahun terakhir putih biru dulu. Kenangan bersamamu terlalu banyak, tapi aku harus melupakannya karena sekarang aku dan kamu sudah tidak satu lagi.

Untuk G, ini lebih cocok ku sebut dengan ‘cinta selewatan’. Aku hanya sebatas menyukaimu untuk beberapa hari saja, itu pun karena saat itu kita berada dalam satu kegiatan yang sama. Lucu memang. Tapi bagaimanapun, terima kasih telah meningkatkan hormon adrenalinku walaupun hanya untuk beberapa hari.

Untuk H, terima kasih sudah menjadi kakakku, atau mungkin lebih dari kakak, aku tidak tahu. Yang jelas saat itu kamu sempat memalingkan sebentar perasaanku terhadap yang lain, saat itu kamu bisa membuat aku sedikit melupakan rasaku yang pernah ada untuk A, B, C, D, E, dan lainnya. Sayangnya tentang aku dan kamu hanya menggantung begitu saja, seperti tidak ada kepastian untuk terbang atau jatuh. Kamu samar-samar di otakku, membuat pertanyaan apakah akan muncul atau menghilang, apakah serius atau bermain-main. Entahlah. Intinya, aku ingin mengatakan “senang bertemu denganmu” pada saat sebelum kamu menghilang dari kehidupanku. Sialnya, kalimat itu tidak pernah terucapkan karena kita sudah sama-sama saling menjauh karena faktor x, y, z, atau apalah. Yang pasti, aku sudah cukup senang mengenalmu.

Untuk I, maaf sudah sedikit mempermainkanmu, tapi aku sama sekali tidak punya maksud untuk itu. Sebenarnya aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun, tapi saat itu aku memang salah mengambil tindakan, aku memang selalu salah, bukan ? Aku tahu aku pasti sudah menjadi peran antagonis di hidupmu, tapi apapun yang kamu pikirkan tentang aku, aku hanya ingin mengatakan MAAF sudah menyakitimu dan TERIMA KASIH sudah pernah menjadikan aku pacarmu.

Untuk J, yang menjadi salah satu alasanku selalu ceria di awal tahun putih abu-abuku. Walaupun sudah hampir 3 tahun aku mengagumi semua hal tentangmu, tapi sampai detik ini aku belum berani berkata apapun tentang itu, bahkan kepada teman terdekatku sekalipun. Menjadi teman sekelasmu adalah anugrah dan sesuatu banget untukku. Maafkan aku yang sudah menjadi pengagum rahasiamu dah bahkan sudah menyayangimu sampai hari ini. Aku sendiri tidak tahu kapan ini akan berakhir, bahkan setelah pelulusan kemarin yang seharusnya menjadi akhir masa SMAku pun aku belum mendapati tanda-tanda rasa itu akan hilang. Melupakanmu tentu saja bukan hal yang mudah. Tapi aku berjanji akan secepatnya membuang semua tentangmu. Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk tetap bisa menyukaimu walaupun aku tahu kamu sama sekali tidak tahu tentang rasa ini. Aku berharap kamu memang tidak pernah mengetahuinya. Walaupun mungkin ada segelintir orang saja yang tahuntentang ini, tapi sudahlah, aku sudah benar-benar akan melupakan semua tentangmu.



Sabtu, 26 Mei 2012

"HONESTY"


Ketika hitam memudar, biarkanlah putih tetap putih. Ketika hitam menjadi semakin gelap, biarkanlah putih tetap menjadi putih.
Ketika suara angin yg lembut berubah menjadi topan yang ribut, biarkanlah hujan tetap merdu suaranya.
Karena warna apapun tetap hitam di mata si buta. Karena suara apapun tetap sunyi di telinga si tuli.
Bagaimanapun keadaannya, tetaplah menjadi dirimu. Merah atau hijau kamu, tetaplah seperti itu. Jangan berusaha menjadi bunglon di hadapan si buta.
Apapun yg ingin kamu dapatkan, tetaplah menjadi dirimu.
Jangan pernah sedikitpun mencoba menjadi orang lain hanya karena ingin menjadi yg terbaik.
Tuhan membenci itu. Semua orang membenci itu. 
Percayalah, dirimu adalah terbaik jika kamu tetap menjadi dirimu.

Pagi ini matahari terlihat murung, sinarnya bahkan tidak menembus jendela kamar Dinda. Bertolak belakang sekali dengan semangat Dinda hari ini yang bersinar terang.
Ini tahun ketiga Dinda berseragam putih abu-abu. Artinya tahun depan, jika lulus, ia akan berstatus mahasiswa. Hari ini hari pertama Masuk sekolah. Semester ganjil baru saja berakhir seiring dengan berakhirnya liburan yang ia rasa paling melelahkan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan lelah karena traveling, tapi karena setiap hari berhadapan dengan soal-soal latihan Ujian Nasional.
Tidak munafik, belajar memang hal yang membosankan dan melelahkan, tapi kesuksesan membutuhkan pengorbanan, bukan ? Maka mengorbankan diri bergelut dalam kebosanan dan kelelahan bukan hal yang buruk jika kesuksesan menunggu. Semua orang harus belajar. Tidak hanya matematika, fisika, ekonomi, dan kawan-kawannya tapi juga belajar bersosialisasi dan berbudaya. Bahkan sampai sebelum nyawa kembali kepada sang Pencipta pun, proses belajar itu tetap ada.
“Mamaaaa aku berangkat,” teriaknya sembari membawa segelas susu cokelat kemudian meneguknya dan berlari menemui mama di dapur yang sedang asyik dengan pisau dan sayurannya. Mama mengulurkan tangan untuk disalami.
“Mama kan sudah sering bilang jangan minum sambil berlari seperti itu !” kata mama sedikit memarahi.
“Hehe iya Maaa... “
***
Sama sekali tidak ada yang berubah di sekolah. Cat temboknya masih berwarna hijau segar dengan ditempeli peringatan-peringatan : “Buanglah sampah pada tempatnya”, “Budayakan Senyum, Salam, Sapa”, dan lain-lain. Gerbangnya masih berdiri kokoh dengan dijaga dua orang satpam perkasa. Kantinnya masih menjadi tempat favorit kedua setelah taman sekolah. Dan Dinda masih sering terlambat datang ke sekolah sehingga ia harus terlibat debat dengan guru piket sebelum masuk kelas, untungnya Dinda termasuk anak berprestasi sehingga ia terselamatkan.
“Oleh-olehnya mana ?”  adalah pertanyaan yang tidak berubah sejak pertama kali ia menjadi siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta. Disana memang selalu seperti itu, bertukar oleh-oleh setiap hari pertama masuk sekolah setelah libur sekolah karena sebagian besar siswa bukan penduduk pribumi. Yogyakarta memang istimewa.
Untuk pertanyaan kali ini Dinda hanya menjawab : “I stay in Jogja.” 

Suasana kelas berubah 180 derajat di semester terakhir ini. Sudah tidak ada banyak waktu lagi untuk bermain-main seperti tahun lalu. Setiap saat semua siswa  bercumbu dengan soal-soal ujian. Menghadapi Ujian Praktik dan Ujian Akhir Sekolah, mengikuti beberapa try out intern atau ekstern, dan mengambil beberapa les tambahan cukup membuat penat dan mengancam kesehatan. Melelahkan sekali menjadi siswa kelas XII. Dinda dan kawan-kawannya tetap berusaha menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama. Sekadar minum di kantin sembari membicarakan beberapa cerita lucu cukup meringankan kepala dari rumus-rumus fisika atau matematika yang menari-nari di otak mereka.
“Eh iya, katanya oknum-oknum penjual kunci jawaban UAN sudah mulai beraksi lho,” Bella membuka pembicaraan sambil membuka bungkus lolipop kemudian  memakannya.
“Dari tahun ke tahun selalu kayak gitu. Gimana Indonesia mau menyaingi negara lain kalau nilai UAN  aja bukan hasil murni siswa,” Rista berujar serius.
“Sudahlah. Biarkan mereka seperti itu. Biarkan mereka yang mendapat batunya nanti. Yang penting kita jujur. O iya, les hari ini mulai jam berapa ?” kata Rere sekaligus mengganti topik pembicaraan.

***

“Ingat pesan ibu, Ujian Nasional bukan untuk ditakuti tapi dihadapi. Ibu sudah sering memperingatkan, jangan pernah terlibat ke dalam kasus kecurangan UAN karena kalian akan terus menjadi pembohong untuk diri kalian sendiri. Baik ibu akhiri pertemuan kita. Sukses untuk kalian.”
Hampir 50% jam mata pelajaran Bu Indy terisi oleh ceramah dan pemberian motivasi untuk siswa kelas XII. Sepertinya bu Indy dan guru-guru lain sudah mulai mencium ketidakjujuran di sekolah itu.
Istirahat sekolah, Dion, salah satu teman sekelas Dinda mengumpulkan anak-anak satu kelas. Ia menawarkan kunci jawaban UAN yang akan dikirim via sms saat ujian berlangsung. Dinda terkejut mendengar ajakan Dion yang jelas melanggar aturan itu tapi beberapa teman lainnya malah tertarik untuk bergabung. Dinda hanya mematung, mendengarkan ajakan sesat Dion tanpa berkata sedikitpun. Tak ada gunanya memperingatkan orang tuli, bukan ? Karena tak ada yang bisa mereka dengar.
Sepulang sekolah, kebetulan sekali Dinda berpapasan dengan Dion. Dinda langsung menyergap Dion. “Kamu sadar nggak sih kalau ajakan kamu itu salah ?”
Hey, what’s up ? Apa yang salah ?” Dion balik bertanya.
“Kenapa kamu menghasut teman-teman lain untuk curang ?”
Hellow Dinda. Aku malah membantu mereka. Kamu pikir seberapa pintar mereka untuk bisa lulus UAN dengan nilai baik ? Sepintar kamu ?” Dion mulai emosi, ia kemudian berjalan menuju parkiran sembari mengeluarkan kunci motornya. Dinda terus membuntutinya.
“Caramu malah menjerumuskan mereka, Dion. Apa yang bisa kamu banggakan dari nilai tinggi yang palsu itu ?” Dinda terus menghujani Dion dengan pernyataan dan pertanyaan yang tentu saja sangat mengganggu Dion.
Dion menghentikan langkahnya, mengambil helm dari atas motornya, kemudian berujar “Aku cuma butuh nilainya bukan kejujuran atau apalah, nggak penting,” kemudian memasang helmnya dan menyalakan mesin motornya.
“Satu lagi. Jangan menyesal jika karena kejujuranmu, kamu malah tidak lulus.” Dion pergi, Dinda tetap mematung di sana.

9 April
Bagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?
Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.
Ya Tuhan..
Apa jujur itu salah ?

Bulan Maret berakhir. Ujian Nasional hanya tinggal beberapa hari lagi. Ada beberapa kekhawatiran yang bermunculan ketika itu.
Pertanyaan–pertanyan itu kerap mengelilingi otaknya dan membumbui hari-harinya. Dinda hanya sedikit trauma dengan ketakutan yang pernah ia rasakan tiga tahun lalu saat menghadapi Ujian Nasional SMP. Ia yang sudah berusaha sangat maksimal harus rela menerima hasil yang tidak lebih baik dari teman-temannya yang curang. Sejak saat itulah ia sangat membenci ketidakjujuran. Sayangnya praktik curang dalam Ujian Nasional di Negara ini masih sering terjadi, malah sudah menjadi tradisi yang dimaklumi. Ironis sekali.

***

Wajah Dinda dan semua siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta terlihat sangat tegang. Hari ini hari pertama Ujian Nasional. Sampai bel tanda berakhir di bunyikan pun, tidak ada hal buruk terjadi. Itu artinya para siswa sukses mengahadapi UAN pertama mereka termasuk para pelaku curang yang berhasil dengan ketidakjujurannya hari ini.
“Eh anak mama udah pulang. Gimana ujiannya, nak ?” Mama menyambutnya sembari tersenyum hangat ketika Dinda tiba di rumah, sayangnya Dinda tidak menyambut senyum itu.
“Ini nggak adil Ma !” Katanya sambil melangkah dengan cepat ke kamarnya. Mama menyusul.
 “Ada apa ?” tanya mama lembut, “apa yang nggak adil ?”
“Semua Ma. Kenapa sih harus gini lagi ?” katanya diiringi air yang keluar dari matanya.
“Aku selalu berharap kejadian tiga tahun lalu nggak terulang lagi, tapi Tuhan nggak menjawab harapanku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Apapun aku korbankan. Tapi kenapa mereka dengan mudahnya bisa mengerjakan soal ujian tanpa mikir. Sebebas itukah dokumen negara ini sampai semua orang bisa memilikinya ? Aku bukan takut nggak lulus ma, aku cuma pengen teman-teman sadar bahwa nilai bukan segalanya.” Dinda berujar dengan terus meneteskan air mata. Mama hanya menjadi pendengar yang baik dengan tidak berkomentar apapun.
“Pantas saja Indonesia nggak maju-maju, Ujian Nasional yang seharusnya menjadi media untuk mendongkrak kemampuan pelajar malah sangat mudah dilewati dengan bantuan uang. Kenapa peraturan bisa dibeli Ma ? Kenapa uang selalu menguasai ? Kenapa sangat sedikit orang jujur di negeri ini ?” Katanya dengan masih terus menangis. Mama kemudian memeluknya.
“Dinda ingat  teman-teman SMP Dinda yang curang tiga tahun lalu ?”
Mendengar pertanyaan mama, Dinda sedikit menghentikan tangisnya.
“Maksud Mama ? Kenapa Mama bertanya seperti itu ?” Dinda melepas pelukan mama, memandang wajah mama heran.
“Dinda tahu kabar mereka sekarang ? Dinda tahu akan seperti apa mereka nanti ? Dinda pernah mendengar tentang prestasi mereka di SMA setelah lulus SMP ?”
Dinda menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mama itu. Mama tersenyum, menghapus air mata Dinda yang masih sedikit membanjiri pipinya.
“Bukan salah negara ini atau siapapun yang terlibat di dalam kecurangan itu. Mereka seperti itu karena itu pilihan mereka. Suatu saat mereka akan sadar bahwa apa yang mereka pilih adalah salah. Tuhan tidak pernah tidur Dinda. Paham ?” kata mama lembut.
Dinda tersenyum kemudian mengangguk. Ia menghembuskan napasnya, merasa  sedikit lega.
“Sekarang kita makan ya. Mama masak capcay rebus favoritmu.”
Dinda beranjak dari kamarnya dengan mengusap matanya untuk memastikan tidak ada air mata tersisa di sana.

16 April
Aku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.

Malam ini seperti malam kemarin, Dinda mempersiapkan diri untuk ujiannya besok. Ia membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan otaknya yang akan ia jadikan senjata besok pagi. Tapi pikirannya masih saja berkeliaran liar, ia tidak dapat memejamkan matanya dengan tenang.
 “greeet” Dinda membuka pintu kamar Mama.
“Mama sudah tidur ?” tanyanya sedikit berbisik.
“Hampir. Kenapa nak ?”
“Aku boleh tidur di sini ? Kamarku dingin,” pintanya.
Mama hanya tersenyum sembari merapikan tempat tidur sebagai jawaban iya. Dinda menjatuhkan diri kemudian meletakkan kepalanya yang cukup berat hari ini di atas bantal empuk yang mama siapkan untuknya.
“Tidurlah. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu untuk dipikirkan,” mama berujar sambil memejamkan matanya.
Angin malam berkeliaran, detak jam semakin jelas terdengar di tengah sepinya malam yang semakin pekat, Dinda terpejam dan mulai tertidur. 

***

Dinda bangun lebih pagi dari kak Reno hari ini, kekhawatiran yang membangunkannya. Ia menggeret kakinya menuju kamarnya sembari menguap dan mengucek matanya. Kemudian ia menyalakan handphone yang semalaman dinonaktifkan. Saat itu juga satu pesan ia terima “Papa selalu berdoa untuk Dinda. Apapun yang terjadi, jangan putus asa. Allah bersama orang yang sabar dan tawakkal. Jangan nangis lagi yaa anak papa yang cantik.”
Dinda tersenyum membaca pesan singkat itu “Dari mana papa tahu kalau aku nangis. Pasti mama,” batinnya. Jari-jarinya mulai menari diantara keypad handponenya.
Mama sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya sementara Dinda bersiap-siap untuk berangkat menempuh ujiannya yang kedua. Beberapa menit kemudian mama, Dinda, dan kak Reno sudah ada di ruang makan untuk sarapan.
“Tadi papa menghubungiku lewat sms,” Dinda berujar dengan makanan dimulutnya.
“Habiskan dulu makananmu, dik,” Tegur kak Reno yang sedang mengoleskan selai kacang ke atas rotinya.
Dinda tersipu kemudian melanjutkan ceritanya “Tapi dari mana papa tahu kalau aku nangis ya ma ?”
 “Kemarin sore mama menelpon papa dan menceritakan semua. Iya kan ma ?” ujar kak Reno sembari meneguk susu vanillanya.
“Habiskan dulu minumanmu, kak Reno,” Dinda mengejek.
“Sudah ku habiskan kok,” kak Reno membela diri.
“O iya, omong-omong kapan papa pulang ?” wajah Dinda menjadi sedikit serius.
“Sepertinya tiga atau empat hari dari sekarang,” jawab mama lembut. Dinda dan kak Reno saling menatap dan tersenyum, pertanda mereka senang dengan jawaban mama.
Oke, aku siap berangkat. Sukses untuk ujianmu Dinda jelek,” kak Reno beranjak sembari mengacak-acak rambut Dinda kemudian menyalami mama.
 
*** 

Gerbang sekolah terlihat lebih menyeramkan tapi ia merasa lebih siap hari ini. Dinda merasa sangat bergairah untuk mengerjakan mata ujian hari ini, ia seperti mendapat energi tambahan untuk berani.
Langkah kaki dengan penuh ketidakraguan itu kemudian terhenti saat berpapasan dengan Dion.
“Merasa lebih baik, Dinda ?” ujar Dion dengan senyum sinis. Dion masih sangat mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat Dinda memperingatkannya untuk tidak curang. Entah kenapa anak itu terlihat sangat membenci Dinda.
“Sangat baik,” Dinda melanjutkan langkahnya.
Satu, dua, tiga jam terlewati. Dua mata ujianpun berhasil ia taklukkan. Dinda duduk bersama sahabat-sahabatnya, menunggu jemputan masing-masing. Tiba-tiba Rina muncul dengan mata sedikit memerah. Riak tawa Dinda dan kawan-kawannya pun terhenti, semua mata menatap Rina.
“Ada apa, Rin ?” tanya Rere lembut.
Rina kemudian memeluk teman-temannya dan berkata, “Aku gagal, maafkan aku,” sambil terus menangis.
“Maksudmu ?” Bella menatap Rina semakin heran.
“Ini karena aku nggak percaya diri. Aku gagal,” penjelasan Rina semakin membuat teman-temannya kebingungan.
“Ceritalah. Kami semua temanmu,” Rere mencoba menenangkan.
“Aku bersama beberapa teman sekelas kita membeli kunci jawaban UAN. Nggak ada masalah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kemarin tapi Server tidak mengirimkan jawaban untuk mata pelajaran Fisika tadi, hampir semua anak yang terlibat jual beli kunci jawaban tidak mendapat jawaban dan hanya beberapa soal yang bisa aku selesaikan.” Rina menjelaskan diiringi senggukan-senggukan kecil.
“Bagaimana kamu mendapat jawaban soal UAN itu ?” tanya Bella penasaran.
Server akan mengirimkan jawaban via sms,” jawab Rina singkat.
“Jadi, kamu membawa handphonemu ke ruang ujian ?” Rista membelalakkan matanya, tanda terkejut. Rina hanya mengangguk.
“Berarti Dion juga,” batin Dinda.
“Kalian janji nggak akan membeberkan apa yang aku ceritakan, kan ? Mungkin hanya ada sebagian kecil yang jujur, kalian diantaranya. Aku sudah berjanji pada diriku untuk percaya diri dan menghadapi UAN dengan kemampuanku. Walaupun sudah terlambat untuk menyadari kesalahanku. Setidaknya masih ada tiga mata pelajaran yang harus aku tempuh,” katanya tersenyum sedikit terharu. Rina kemudian pamit pulang.
Dalam beberapa menit sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang masih menunggu jemputan, Dinda salah satunya. Dinda menatap kosong, mengedipkan matanya sesekali. Ia merasa sedikit terharu sekaligus prihatin dengan apa yang terjadi di sekolahnya. Bahkan tidak hanya teman-teman sekolahnya yang berpredikat pelaku kecurangan UAN tapi sekolah lain pun begitu, menyeramkan sekali. Setidaknya orang jujur bertambah hari ini, walaupun hanya satu orang. Nasib Indonesia di masa depan sangat mengkhawatirkan. Itulah alasan kenapa Dinda ingin sekali menjadi seorang guru, ia ingin menanamkan kejujuran dan sikap optimis agar siswanya percaya pada dirinya sendiri dan menjadi manusia yang benar-benar berguna dalam hidupnya. Sulit sekali memang, tapi itulah cita-cita, sesulit apapun akan menjadi mudah jika bersungguh-sungguh.
Di tengah lamunan Dinda, Dion berjalan santai di hadapannya.
“Merasa lebih baik, Dion ?” Dinda mengulang pertanyaan Dion tadi pagi. Dion tidak menanggapi dan berlalu begitu saja. Ketika itu pula kak Reno tiba. “Dinda, ayo.”
“Iya kak,” katanya kemudian menghampiri kak Reno.

***

Ujian Nasional sudah berlalu sejak beberapa hari yang lalu. Dinda mengisi kekosongannya dengan menulis, ia memang sangat suka menulis. Menjadi penulis juga merupakan salah satu cita-citanya. Tak heran diantara buku-buku pelajaran sekolahnya terselip beberapa buku hasil tulisannya serta setumpuk buku harian yang menjadi teman curhatnya.
Hari keempat UNAS beberapa waktu lalu adalah hari yang ia rasa menjadi hari terakhir bercumbu bersama sahabat-sahabatnya. Terasa sangat berat sekali menjauh dari rutinitas kelas yang tiga tahun ini menjadi bagian dari hidupnya. Setelah pengumuman minggu depan, sudah tidak ada lagi bel sekolah untuknya, sudah tidak ada lagi PR dan tugas-tugas SMA yang memenuhi pikirannya. Menjadi orang dewasa pasti lebih sulit daripada menghadapi konflik yang ia hadapi beberapa waktu ini.
Papa sudah kembali dari dinas luar kotanya sejak beberapa minggu yang lalu. Selama vakum dari kegiatan sekolah, selain menulis, Dinda juga banyak menghabiskan waktunya bersama mama, papa, dan kak Reno. Sesekali ia mengajak mereka keluar rumah untuk sekedar minum kopi atau makan  pasta.
“Apa saat Mama dan Papa SMA dulu, ada kecurangan Ujian Nasional seperti sekarang ini ?" Dinda membuka pembicaraan saat bersantap malam di sebuah resto, kali ini membuat mama dan papa saling tatap sembari tersenyum.
“Dulu, UAN nggak menjadi patokan, bagaimana kami berproses dan nilai-nilai sekolah pun menjadi penentu kelulusan. Sekarang semua memang sudah berubah. Entah faktor apa yang membuat UAN menjadi momok menyeramkan bagi anak-anak kelas tiga. Seharusnya mereka sudah sangat siap menghadapinya dengan bekal ilmu yang mereka kantongi selama tiga tahun. Iya kan, Dinda ?” papa menjelaskan.
“Mungkin mereka terlalu takut nggak lulus atau belum siap menahan malu jika nilainya nanti lebih rendah dari teman-teman yang lain, makanya mereka mengambil jalan curang,” sambung mama.
“Aku bersyukur menjadi anak mama dan papa. Saat aku tua dan meninggal pun, nggak akan ada yang aku sesali karena aku sudah sangat beruntung di dunia,” Dinda tersenyum dan melanjutkan makannya.

***

Dinda bersiap ke sekolah, pengumuman kelulusan tiba. Ia berpamitan kemudian melangkah sedikit ragu. Ia takut ada hal buruk terjadi padanya.
“Optimis Dinda,” mama berujar. Sedikit membuat Dinda semangat saat itu.
Sekolah sudah ramai dipenuhi anak-anak berseragam putih abu-abu. Sesaat setelah Dinda tiba, bel berbunyi, sebagai perintah agar  semua siswa masuk ke aula.
Pak Harto menyampaikan beberapa pesan setelah semua siswa duduk rapi di ruangan luas itu, kemudian beliau dibantu oleh guru-guru lain memanggil satu per satu siswa untuk menerima amplop berwarna cokelat muda. Isinya tentu saja keputusan lulus atau tidaknya siswa.
“Adinda Aprilia !” pak Darmin memanggil Dinda. Amplop berwarna cokelat muda ada di tangannya sekarang. Ia buka perlahan benda keramat itu, mengeluarkan kertas di dalamnya, kemudian melihat isinya dengan menyipitkan kedua matanya.
“LULUS !” teriaknya. Reflek kakinya melompat-lompat. Ia bergabung bersama teman-teman lainnya yang juga lulus.
Tepat seperti apa yang ia bayangkan beberapa waktu lalu, nilainya tidak sebagus teman-temannya, juga tidak lebih bagus dari Dion yang mendapat rata-rata 9. Ia hanya dapat mengantongi nilai 8 untuk semua mata pelajaran dengan satu nilai 7 pada mata pelajaran fisika.
Sedikit sesak menerimanya, namun itulah yang terjadi. Setidaknya ia lega karena nilai yang ia dapatkan adalah jawaban dari peluhnya selama ini, bukan karena bantuan uang.
Ada pesta kecil yang diadakan di rumah salah satu temannya sebagai wujud rasa syukur atas kelulusan yang mereka terima hari ini. Dinda dan semua yang ada dalam pesta kecil itu berbahagia, meluapkan kepenatan dan kegelisahan yang menggerayangi pikiran mereka.
Saat itu Dion menghampiri Dinda, ia mengulurkan tangan dan Dinda menyambutnya.
“Selamat ya Nda, kamu hebat,” ujar Dion mengungkapkan salutnya, padahal nilai Dion jauh lebih tinggi. Dinda hanya tersipu, Dinda tahu yang dimaksud Dion adalah “Selamat ya, kamu jujur.”
Matahari sudah merebahkan diri, sepertinya ia kelelahan, sama seperti Dinda hari ini. Mama sudah menyiapkan susu cokelat hangat dan beberapa makanan favoritnya di meja makan, mama tahu Dinda lelah. Dinda kemudian muncul dari arah kamarnya, siap untuk bersantap malam.
“Anak papa hebat,” papa dan kak Reno bertepuk tangan. Mama tertawa geli.
Setelah selesai makan, Dinda pamit untuk tidur, ia benar-benar kelelahan. Seperti biasa ia sedikit bercerita pada buku kecilnya baru kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ada kepuasan yang ia rasakan hari ini.

***

“Dinda, bangun nak,” perintah mama lembut, “sudah siang.”
Namun Dinda tak bereaksi sedikit pun. Mama terus membangunkannya.
“Dinda... Sayang, bangun nak.”
Tubuh mungil itu tetap diam. Mama meletakkan jarinya di sekitar hidung Dinda, tak ada udara yang berhembus di situ. Mama merasai denyut nadi di pergelangan tangannya, juga tak ada getaran di situ.
“PAPAAA.. RENOOO..” mama berteriak sembari meneteskan air mata. Mama terus berteriak memanggil papa dan kak Reno tapi mereka belum juga muncul.
Mama membuka buku kecil yang masih Dinda letakkan di atas meja belajarnya.

24 Desember
Liburan kali ini melelahkan dan membosankan. Tapi tetap semangat, aku pasti bisa.

3 Januari
Hari pertama masuk sekolah. Tradisi tukar oleh-oleh harus dihentikan sementara karena sebagian besar siswa tetap di Jogja untuk BELAJAAAAR..

9 Januari
Aku sudah mulai tidak punya banyak waktu untuk menulis karena terlalu sibuk mengerjakan soal-soal fisika. Menyebalkan sekali tapi aku menikmatinya.

20 Januari
Aku lelah

28 Januari
Aku lelah

16 Februari
Aku sangat sangat lelah

28 Februari
Ujian Praktek, Try Out UNAS empat kali putaran, les tambahan, kemudian apa lagi ? Menjadi siswa kelas tiga benar-benar melelahkan. Semangat Dindaaaaaa...

9 April
Bagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?
Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.
Ya Tuhan..
Apa jujur itu salah ?

16 April
Aku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.

20 April
Aku sayang mama, papa, dan kak Reno, semoga aku tidak mengecewakan mereka.

23 April
Terima kasih Tuhan, aku senang hari ini. Jaga selalu mama, papa, dan kak Reno untukku.

1 Mei
Bulan Mei tiba, aku sedikit gelisah untuk menerima hasil UAN.

26 Mei
AKU LULUS. Senaaaaang sekali rasanya. Terima kasih Tuhan. Semoga mama, papa, dan kak Reno bahagia walaupun aku hanya mendapat nilai 8 dan 7 untuk Fisika.
Ada sedikit rasa tidak rela melihat teman-temanku mendapat nilai sangat bagus. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Setidaknya masih ada orang-orang seperti Bella, Rere, Rista, dan Rina yang  jujur di Negara tidak jujur ini. Dan aku bangga memiliki mereka.
Semoga di tahun berikutnya, tidak ada lagi kecurangan yang merugikan para siswa yang jujur. Walaupun kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi aku tahu Tuhan, Kau akan selalu memberi yang terbaik untuk makhluk-Mu...


Mama masih terus menangis, tidak mempercayai kepergian anak bungsunya yang tanpa tanda-tanda itu. Papa dan kak Reno menghampiri mama dan langsung memahami apa yang terjadi.
“Tuhan terlalu sayang pada Dinda, hingga Dia sangat cepat memanggil Dinda untuk kembali pada-Nya,” papa mencoba menenangkan mama. Kak Reno mulai berkaca melihat adik kecilnya terbaring tak bernyawa.
 “Dinda pasti lebih senang di sana. Setidaknya tugasnya di dunia sudah bisa ia lalui,” kata kak Reno menatap dalam wajah adik satu-satunya itu.


*Terima kasih sudah membaca, kesamaan tokoh dan karakter bukan unsur kesengajaan, ini hanya sebuah inspirasi yang dituangkan* :)