Sabtu, 26 Mei 2012

"HONESTY"


Ketika hitam memudar, biarkanlah putih tetap putih. Ketika hitam menjadi semakin gelap, biarkanlah putih tetap menjadi putih.
Ketika suara angin yg lembut berubah menjadi topan yang ribut, biarkanlah hujan tetap merdu suaranya.
Karena warna apapun tetap hitam di mata si buta. Karena suara apapun tetap sunyi di telinga si tuli.
Bagaimanapun keadaannya, tetaplah menjadi dirimu. Merah atau hijau kamu, tetaplah seperti itu. Jangan berusaha menjadi bunglon di hadapan si buta.
Apapun yg ingin kamu dapatkan, tetaplah menjadi dirimu.
Jangan pernah sedikitpun mencoba menjadi orang lain hanya karena ingin menjadi yg terbaik.
Tuhan membenci itu. Semua orang membenci itu. 
Percayalah, dirimu adalah terbaik jika kamu tetap menjadi dirimu.

Pagi ini matahari terlihat murung, sinarnya bahkan tidak menembus jendela kamar Dinda. Bertolak belakang sekali dengan semangat Dinda hari ini yang bersinar terang.
Ini tahun ketiga Dinda berseragam putih abu-abu. Artinya tahun depan, jika lulus, ia akan berstatus mahasiswa. Hari ini hari pertama Masuk sekolah. Semester ganjil baru saja berakhir seiring dengan berakhirnya liburan yang ia rasa paling melelahkan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan lelah karena traveling, tapi karena setiap hari berhadapan dengan soal-soal latihan Ujian Nasional.
Tidak munafik, belajar memang hal yang membosankan dan melelahkan, tapi kesuksesan membutuhkan pengorbanan, bukan ? Maka mengorbankan diri bergelut dalam kebosanan dan kelelahan bukan hal yang buruk jika kesuksesan menunggu. Semua orang harus belajar. Tidak hanya matematika, fisika, ekonomi, dan kawan-kawannya tapi juga belajar bersosialisasi dan berbudaya. Bahkan sampai sebelum nyawa kembali kepada sang Pencipta pun, proses belajar itu tetap ada.
“Mamaaaa aku berangkat,” teriaknya sembari membawa segelas susu cokelat kemudian meneguknya dan berlari menemui mama di dapur yang sedang asyik dengan pisau dan sayurannya. Mama mengulurkan tangan untuk disalami.
“Mama kan sudah sering bilang jangan minum sambil berlari seperti itu !” kata mama sedikit memarahi.
“Hehe iya Maaa... “
***
Sama sekali tidak ada yang berubah di sekolah. Cat temboknya masih berwarna hijau segar dengan ditempeli peringatan-peringatan : “Buanglah sampah pada tempatnya”, “Budayakan Senyum, Salam, Sapa”, dan lain-lain. Gerbangnya masih berdiri kokoh dengan dijaga dua orang satpam perkasa. Kantinnya masih menjadi tempat favorit kedua setelah taman sekolah. Dan Dinda masih sering terlambat datang ke sekolah sehingga ia harus terlibat debat dengan guru piket sebelum masuk kelas, untungnya Dinda termasuk anak berprestasi sehingga ia terselamatkan.
“Oleh-olehnya mana ?”  adalah pertanyaan yang tidak berubah sejak pertama kali ia menjadi siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta. Disana memang selalu seperti itu, bertukar oleh-oleh setiap hari pertama masuk sekolah setelah libur sekolah karena sebagian besar siswa bukan penduduk pribumi. Yogyakarta memang istimewa.
Untuk pertanyaan kali ini Dinda hanya menjawab : “I stay in Jogja.” 

Suasana kelas berubah 180 derajat di semester terakhir ini. Sudah tidak ada banyak waktu lagi untuk bermain-main seperti tahun lalu. Setiap saat semua siswa  bercumbu dengan soal-soal ujian. Menghadapi Ujian Praktik dan Ujian Akhir Sekolah, mengikuti beberapa try out intern atau ekstern, dan mengambil beberapa les tambahan cukup membuat penat dan mengancam kesehatan. Melelahkan sekali menjadi siswa kelas XII. Dinda dan kawan-kawannya tetap berusaha menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama. Sekadar minum di kantin sembari membicarakan beberapa cerita lucu cukup meringankan kepala dari rumus-rumus fisika atau matematika yang menari-nari di otak mereka.
“Eh iya, katanya oknum-oknum penjual kunci jawaban UAN sudah mulai beraksi lho,” Bella membuka pembicaraan sambil membuka bungkus lolipop kemudian  memakannya.
“Dari tahun ke tahun selalu kayak gitu. Gimana Indonesia mau menyaingi negara lain kalau nilai UAN  aja bukan hasil murni siswa,” Rista berujar serius.
“Sudahlah. Biarkan mereka seperti itu. Biarkan mereka yang mendapat batunya nanti. Yang penting kita jujur. O iya, les hari ini mulai jam berapa ?” kata Rere sekaligus mengganti topik pembicaraan.

***

“Ingat pesan ibu, Ujian Nasional bukan untuk ditakuti tapi dihadapi. Ibu sudah sering memperingatkan, jangan pernah terlibat ke dalam kasus kecurangan UAN karena kalian akan terus menjadi pembohong untuk diri kalian sendiri. Baik ibu akhiri pertemuan kita. Sukses untuk kalian.”
Hampir 50% jam mata pelajaran Bu Indy terisi oleh ceramah dan pemberian motivasi untuk siswa kelas XII. Sepertinya bu Indy dan guru-guru lain sudah mulai mencium ketidakjujuran di sekolah itu.
Istirahat sekolah, Dion, salah satu teman sekelas Dinda mengumpulkan anak-anak satu kelas. Ia menawarkan kunci jawaban UAN yang akan dikirim via sms saat ujian berlangsung. Dinda terkejut mendengar ajakan Dion yang jelas melanggar aturan itu tapi beberapa teman lainnya malah tertarik untuk bergabung. Dinda hanya mematung, mendengarkan ajakan sesat Dion tanpa berkata sedikitpun. Tak ada gunanya memperingatkan orang tuli, bukan ? Karena tak ada yang bisa mereka dengar.
Sepulang sekolah, kebetulan sekali Dinda berpapasan dengan Dion. Dinda langsung menyergap Dion. “Kamu sadar nggak sih kalau ajakan kamu itu salah ?”
Hey, what’s up ? Apa yang salah ?” Dion balik bertanya.
“Kenapa kamu menghasut teman-teman lain untuk curang ?”
Hellow Dinda. Aku malah membantu mereka. Kamu pikir seberapa pintar mereka untuk bisa lulus UAN dengan nilai baik ? Sepintar kamu ?” Dion mulai emosi, ia kemudian berjalan menuju parkiran sembari mengeluarkan kunci motornya. Dinda terus membuntutinya.
“Caramu malah menjerumuskan mereka, Dion. Apa yang bisa kamu banggakan dari nilai tinggi yang palsu itu ?” Dinda terus menghujani Dion dengan pernyataan dan pertanyaan yang tentu saja sangat mengganggu Dion.
Dion menghentikan langkahnya, mengambil helm dari atas motornya, kemudian berujar “Aku cuma butuh nilainya bukan kejujuran atau apalah, nggak penting,” kemudian memasang helmnya dan menyalakan mesin motornya.
“Satu lagi. Jangan menyesal jika karena kejujuranmu, kamu malah tidak lulus.” Dion pergi, Dinda tetap mematung di sana.

9 April
Bagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?
Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.
Ya Tuhan..
Apa jujur itu salah ?

Bulan Maret berakhir. Ujian Nasional hanya tinggal beberapa hari lagi. Ada beberapa kekhawatiran yang bermunculan ketika itu.
Pertanyaan–pertanyan itu kerap mengelilingi otaknya dan membumbui hari-harinya. Dinda hanya sedikit trauma dengan ketakutan yang pernah ia rasakan tiga tahun lalu saat menghadapi Ujian Nasional SMP. Ia yang sudah berusaha sangat maksimal harus rela menerima hasil yang tidak lebih baik dari teman-temannya yang curang. Sejak saat itulah ia sangat membenci ketidakjujuran. Sayangnya praktik curang dalam Ujian Nasional di Negara ini masih sering terjadi, malah sudah menjadi tradisi yang dimaklumi. Ironis sekali.

***

Wajah Dinda dan semua siswa SMA Kartini 1 Yogyakarta terlihat sangat tegang. Hari ini hari pertama Ujian Nasional. Sampai bel tanda berakhir di bunyikan pun, tidak ada hal buruk terjadi. Itu artinya para siswa sukses mengahadapi UAN pertama mereka termasuk para pelaku curang yang berhasil dengan ketidakjujurannya hari ini.
“Eh anak mama udah pulang. Gimana ujiannya, nak ?” Mama menyambutnya sembari tersenyum hangat ketika Dinda tiba di rumah, sayangnya Dinda tidak menyambut senyum itu.
“Ini nggak adil Ma !” Katanya sambil melangkah dengan cepat ke kamarnya. Mama menyusul.
 “Ada apa ?” tanya mama lembut, “apa yang nggak adil ?”
“Semua Ma. Kenapa sih harus gini lagi ?” katanya diiringi air yang keluar dari matanya.
“Aku selalu berharap kejadian tiga tahun lalu nggak terulang lagi, tapi Tuhan nggak menjawab harapanku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Apapun aku korbankan. Tapi kenapa mereka dengan mudahnya bisa mengerjakan soal ujian tanpa mikir. Sebebas itukah dokumen negara ini sampai semua orang bisa memilikinya ? Aku bukan takut nggak lulus ma, aku cuma pengen teman-teman sadar bahwa nilai bukan segalanya.” Dinda berujar dengan terus meneteskan air mata. Mama hanya menjadi pendengar yang baik dengan tidak berkomentar apapun.
“Pantas saja Indonesia nggak maju-maju, Ujian Nasional yang seharusnya menjadi media untuk mendongkrak kemampuan pelajar malah sangat mudah dilewati dengan bantuan uang. Kenapa peraturan bisa dibeli Ma ? Kenapa uang selalu menguasai ? Kenapa sangat sedikit orang jujur di negeri ini ?” Katanya dengan masih terus menangis. Mama kemudian memeluknya.
“Dinda ingat  teman-teman SMP Dinda yang curang tiga tahun lalu ?”
Mendengar pertanyaan mama, Dinda sedikit menghentikan tangisnya.
“Maksud Mama ? Kenapa Mama bertanya seperti itu ?” Dinda melepas pelukan mama, memandang wajah mama heran.
“Dinda tahu kabar mereka sekarang ? Dinda tahu akan seperti apa mereka nanti ? Dinda pernah mendengar tentang prestasi mereka di SMA setelah lulus SMP ?”
Dinda menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mama itu. Mama tersenyum, menghapus air mata Dinda yang masih sedikit membanjiri pipinya.
“Bukan salah negara ini atau siapapun yang terlibat di dalam kecurangan itu. Mereka seperti itu karena itu pilihan mereka. Suatu saat mereka akan sadar bahwa apa yang mereka pilih adalah salah. Tuhan tidak pernah tidur Dinda. Paham ?” kata mama lembut.
Dinda tersenyum kemudian mengangguk. Ia menghembuskan napasnya, merasa  sedikit lega.
“Sekarang kita makan ya. Mama masak capcay rebus favoritmu.”
Dinda beranjak dari kamarnya dengan mengusap matanya untuk memastikan tidak ada air mata tersisa di sana.

16 April
Aku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.

Malam ini seperti malam kemarin, Dinda mempersiapkan diri untuk ujiannya besok. Ia membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan otaknya yang akan ia jadikan senjata besok pagi. Tapi pikirannya masih saja berkeliaran liar, ia tidak dapat memejamkan matanya dengan tenang.
 “greeet” Dinda membuka pintu kamar Mama.
“Mama sudah tidur ?” tanyanya sedikit berbisik.
“Hampir. Kenapa nak ?”
“Aku boleh tidur di sini ? Kamarku dingin,” pintanya.
Mama hanya tersenyum sembari merapikan tempat tidur sebagai jawaban iya. Dinda menjatuhkan diri kemudian meletakkan kepalanya yang cukup berat hari ini di atas bantal empuk yang mama siapkan untuknya.
“Tidurlah. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu untuk dipikirkan,” mama berujar sambil memejamkan matanya.
Angin malam berkeliaran, detak jam semakin jelas terdengar di tengah sepinya malam yang semakin pekat, Dinda terpejam dan mulai tertidur. 

***

Dinda bangun lebih pagi dari kak Reno hari ini, kekhawatiran yang membangunkannya. Ia menggeret kakinya menuju kamarnya sembari menguap dan mengucek matanya. Kemudian ia menyalakan handphone yang semalaman dinonaktifkan. Saat itu juga satu pesan ia terima “Papa selalu berdoa untuk Dinda. Apapun yang terjadi, jangan putus asa. Allah bersama orang yang sabar dan tawakkal. Jangan nangis lagi yaa anak papa yang cantik.”
Dinda tersenyum membaca pesan singkat itu “Dari mana papa tahu kalau aku nangis. Pasti mama,” batinnya. Jari-jarinya mulai menari diantara keypad handponenya.
Mama sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya sementara Dinda bersiap-siap untuk berangkat menempuh ujiannya yang kedua. Beberapa menit kemudian mama, Dinda, dan kak Reno sudah ada di ruang makan untuk sarapan.
“Tadi papa menghubungiku lewat sms,” Dinda berujar dengan makanan dimulutnya.
“Habiskan dulu makananmu, dik,” Tegur kak Reno yang sedang mengoleskan selai kacang ke atas rotinya.
Dinda tersipu kemudian melanjutkan ceritanya “Tapi dari mana papa tahu kalau aku nangis ya ma ?”
 “Kemarin sore mama menelpon papa dan menceritakan semua. Iya kan ma ?” ujar kak Reno sembari meneguk susu vanillanya.
“Habiskan dulu minumanmu, kak Reno,” Dinda mengejek.
“Sudah ku habiskan kok,” kak Reno membela diri.
“O iya, omong-omong kapan papa pulang ?” wajah Dinda menjadi sedikit serius.
“Sepertinya tiga atau empat hari dari sekarang,” jawab mama lembut. Dinda dan kak Reno saling menatap dan tersenyum, pertanda mereka senang dengan jawaban mama.
Oke, aku siap berangkat. Sukses untuk ujianmu Dinda jelek,” kak Reno beranjak sembari mengacak-acak rambut Dinda kemudian menyalami mama.
 
*** 

Gerbang sekolah terlihat lebih menyeramkan tapi ia merasa lebih siap hari ini. Dinda merasa sangat bergairah untuk mengerjakan mata ujian hari ini, ia seperti mendapat energi tambahan untuk berani.
Langkah kaki dengan penuh ketidakraguan itu kemudian terhenti saat berpapasan dengan Dion.
“Merasa lebih baik, Dinda ?” ujar Dion dengan senyum sinis. Dion masih sangat mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat Dinda memperingatkannya untuk tidak curang. Entah kenapa anak itu terlihat sangat membenci Dinda.
“Sangat baik,” Dinda melanjutkan langkahnya.
Satu, dua, tiga jam terlewati. Dua mata ujianpun berhasil ia taklukkan. Dinda duduk bersama sahabat-sahabatnya, menunggu jemputan masing-masing. Tiba-tiba Rina muncul dengan mata sedikit memerah. Riak tawa Dinda dan kawan-kawannya pun terhenti, semua mata menatap Rina.
“Ada apa, Rin ?” tanya Rere lembut.
Rina kemudian memeluk teman-temannya dan berkata, “Aku gagal, maafkan aku,” sambil terus menangis.
“Maksudmu ?” Bella menatap Rina semakin heran.
“Ini karena aku nggak percaya diri. Aku gagal,” penjelasan Rina semakin membuat teman-temannya kebingungan.
“Ceritalah. Kami semua temanmu,” Rere mencoba menenangkan.
“Aku bersama beberapa teman sekelas kita membeli kunci jawaban UAN. Nggak ada masalah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kemarin tapi Server tidak mengirimkan jawaban untuk mata pelajaran Fisika tadi, hampir semua anak yang terlibat jual beli kunci jawaban tidak mendapat jawaban dan hanya beberapa soal yang bisa aku selesaikan.” Rina menjelaskan diiringi senggukan-senggukan kecil.
“Bagaimana kamu mendapat jawaban soal UAN itu ?” tanya Bella penasaran.
Server akan mengirimkan jawaban via sms,” jawab Rina singkat.
“Jadi, kamu membawa handphonemu ke ruang ujian ?” Rista membelalakkan matanya, tanda terkejut. Rina hanya mengangguk.
“Berarti Dion juga,” batin Dinda.
“Kalian janji nggak akan membeberkan apa yang aku ceritakan, kan ? Mungkin hanya ada sebagian kecil yang jujur, kalian diantaranya. Aku sudah berjanji pada diriku untuk percaya diri dan menghadapi UAN dengan kemampuanku. Walaupun sudah terlambat untuk menyadari kesalahanku. Setidaknya masih ada tiga mata pelajaran yang harus aku tempuh,” katanya tersenyum sedikit terharu. Rina kemudian pamit pulang.
Dalam beberapa menit sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anak yang masih menunggu jemputan, Dinda salah satunya. Dinda menatap kosong, mengedipkan matanya sesekali. Ia merasa sedikit terharu sekaligus prihatin dengan apa yang terjadi di sekolahnya. Bahkan tidak hanya teman-teman sekolahnya yang berpredikat pelaku kecurangan UAN tapi sekolah lain pun begitu, menyeramkan sekali. Setidaknya orang jujur bertambah hari ini, walaupun hanya satu orang. Nasib Indonesia di masa depan sangat mengkhawatirkan. Itulah alasan kenapa Dinda ingin sekali menjadi seorang guru, ia ingin menanamkan kejujuran dan sikap optimis agar siswanya percaya pada dirinya sendiri dan menjadi manusia yang benar-benar berguna dalam hidupnya. Sulit sekali memang, tapi itulah cita-cita, sesulit apapun akan menjadi mudah jika bersungguh-sungguh.
Di tengah lamunan Dinda, Dion berjalan santai di hadapannya.
“Merasa lebih baik, Dion ?” Dinda mengulang pertanyaan Dion tadi pagi. Dion tidak menanggapi dan berlalu begitu saja. Ketika itu pula kak Reno tiba. “Dinda, ayo.”
“Iya kak,” katanya kemudian menghampiri kak Reno.

***

Ujian Nasional sudah berlalu sejak beberapa hari yang lalu. Dinda mengisi kekosongannya dengan menulis, ia memang sangat suka menulis. Menjadi penulis juga merupakan salah satu cita-citanya. Tak heran diantara buku-buku pelajaran sekolahnya terselip beberapa buku hasil tulisannya serta setumpuk buku harian yang menjadi teman curhatnya.
Hari keempat UNAS beberapa waktu lalu adalah hari yang ia rasa menjadi hari terakhir bercumbu bersama sahabat-sahabatnya. Terasa sangat berat sekali menjauh dari rutinitas kelas yang tiga tahun ini menjadi bagian dari hidupnya. Setelah pengumuman minggu depan, sudah tidak ada lagi bel sekolah untuknya, sudah tidak ada lagi PR dan tugas-tugas SMA yang memenuhi pikirannya. Menjadi orang dewasa pasti lebih sulit daripada menghadapi konflik yang ia hadapi beberapa waktu ini.
Papa sudah kembali dari dinas luar kotanya sejak beberapa minggu yang lalu. Selama vakum dari kegiatan sekolah, selain menulis, Dinda juga banyak menghabiskan waktunya bersama mama, papa, dan kak Reno. Sesekali ia mengajak mereka keluar rumah untuk sekedar minum kopi atau makan  pasta.
“Apa saat Mama dan Papa SMA dulu, ada kecurangan Ujian Nasional seperti sekarang ini ?" Dinda membuka pembicaraan saat bersantap malam di sebuah resto, kali ini membuat mama dan papa saling tatap sembari tersenyum.
“Dulu, UAN nggak menjadi patokan, bagaimana kami berproses dan nilai-nilai sekolah pun menjadi penentu kelulusan. Sekarang semua memang sudah berubah. Entah faktor apa yang membuat UAN menjadi momok menyeramkan bagi anak-anak kelas tiga. Seharusnya mereka sudah sangat siap menghadapinya dengan bekal ilmu yang mereka kantongi selama tiga tahun. Iya kan, Dinda ?” papa menjelaskan.
“Mungkin mereka terlalu takut nggak lulus atau belum siap menahan malu jika nilainya nanti lebih rendah dari teman-teman yang lain, makanya mereka mengambil jalan curang,” sambung mama.
“Aku bersyukur menjadi anak mama dan papa. Saat aku tua dan meninggal pun, nggak akan ada yang aku sesali karena aku sudah sangat beruntung di dunia,” Dinda tersenyum dan melanjutkan makannya.

***

Dinda bersiap ke sekolah, pengumuman kelulusan tiba. Ia berpamitan kemudian melangkah sedikit ragu. Ia takut ada hal buruk terjadi padanya.
“Optimis Dinda,” mama berujar. Sedikit membuat Dinda semangat saat itu.
Sekolah sudah ramai dipenuhi anak-anak berseragam putih abu-abu. Sesaat setelah Dinda tiba, bel berbunyi, sebagai perintah agar  semua siswa masuk ke aula.
Pak Harto menyampaikan beberapa pesan setelah semua siswa duduk rapi di ruangan luas itu, kemudian beliau dibantu oleh guru-guru lain memanggil satu per satu siswa untuk menerima amplop berwarna cokelat muda. Isinya tentu saja keputusan lulus atau tidaknya siswa.
“Adinda Aprilia !” pak Darmin memanggil Dinda. Amplop berwarna cokelat muda ada di tangannya sekarang. Ia buka perlahan benda keramat itu, mengeluarkan kertas di dalamnya, kemudian melihat isinya dengan menyipitkan kedua matanya.
“LULUS !” teriaknya. Reflek kakinya melompat-lompat. Ia bergabung bersama teman-teman lainnya yang juga lulus.
Tepat seperti apa yang ia bayangkan beberapa waktu lalu, nilainya tidak sebagus teman-temannya, juga tidak lebih bagus dari Dion yang mendapat rata-rata 9. Ia hanya dapat mengantongi nilai 8 untuk semua mata pelajaran dengan satu nilai 7 pada mata pelajaran fisika.
Sedikit sesak menerimanya, namun itulah yang terjadi. Setidaknya ia lega karena nilai yang ia dapatkan adalah jawaban dari peluhnya selama ini, bukan karena bantuan uang.
Ada pesta kecil yang diadakan di rumah salah satu temannya sebagai wujud rasa syukur atas kelulusan yang mereka terima hari ini. Dinda dan semua yang ada dalam pesta kecil itu berbahagia, meluapkan kepenatan dan kegelisahan yang menggerayangi pikiran mereka.
Saat itu Dion menghampiri Dinda, ia mengulurkan tangan dan Dinda menyambutnya.
“Selamat ya Nda, kamu hebat,” ujar Dion mengungkapkan salutnya, padahal nilai Dion jauh lebih tinggi. Dinda hanya tersipu, Dinda tahu yang dimaksud Dion adalah “Selamat ya, kamu jujur.”
Matahari sudah merebahkan diri, sepertinya ia kelelahan, sama seperti Dinda hari ini. Mama sudah menyiapkan susu cokelat hangat dan beberapa makanan favoritnya di meja makan, mama tahu Dinda lelah. Dinda kemudian muncul dari arah kamarnya, siap untuk bersantap malam.
“Anak papa hebat,” papa dan kak Reno bertepuk tangan. Mama tertawa geli.
Setelah selesai makan, Dinda pamit untuk tidur, ia benar-benar kelelahan. Seperti biasa ia sedikit bercerita pada buku kecilnya baru kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ada kepuasan yang ia rasakan hari ini.

***

“Dinda, bangun nak,” perintah mama lembut, “sudah siang.”
Namun Dinda tak bereaksi sedikit pun. Mama terus membangunkannya.
“Dinda... Sayang, bangun nak.”
Tubuh mungil itu tetap diam. Mama meletakkan jarinya di sekitar hidung Dinda, tak ada udara yang berhembus di situ. Mama merasai denyut nadi di pergelangan tangannya, juga tak ada getaran di situ.
“PAPAAA.. RENOOO..” mama berteriak sembari meneteskan air mata. Mama terus berteriak memanggil papa dan kak Reno tapi mereka belum juga muncul.
Mama membuka buku kecil yang masih Dinda letakkan di atas meja belajarnya.

24 Desember
Liburan kali ini melelahkan dan membosankan. Tapi tetap semangat, aku pasti bisa.

3 Januari
Hari pertama masuk sekolah. Tradisi tukar oleh-oleh harus dihentikan sementara karena sebagian besar siswa tetap di Jogja untuk BELAJAAAAR..

9 Januari
Aku sudah mulai tidak punya banyak waktu untuk menulis karena terlalu sibuk mengerjakan soal-soal fisika. Menyebalkan sekali tapi aku menikmatinya.

20 Januari
Aku lelah

28 Januari
Aku lelah

16 Februari
Aku sangat sangat lelah

28 Februari
Ujian Praktek, Try Out UNAS empat kali putaran, les tambahan, kemudian apa lagi ? Menjadi siswa kelas tiga benar-benar melelahkan. Semangat Dindaaaaaa...

9 April
Bagaimana jika aku tidak bisa melewatinya ? Bagaimana jika kemampuanku masih belum cukup untuk mencapai nilai baik ? Bagaimana jika aku tidak lulus ?
Kenapa perkataan Dion begitu menggangguku ? Bagaimana jika benar apa yang Dion katakan ? Aku mendapat nilai tidak lebih tinggi dari teman-temanku yang lain. Pasti sakit sekali rasanya. Apalagi jika aku tidak lulus, aku pasti akan mengutuk hidupku.
Ya Tuhan..
Apa jujur itu salah ?

16 April
Aku sedikit lega. Mama benar. Kenapa aku harus menagis seperti orang bodoh. Merekalah yang harusnya menangis. Aku jadi kasihan pada mereka. Semoga mereka segera menyambut tangan Tuhan dan menyadari bahwa jalan yang mereka ambil adalah salah.

20 April
Aku sayang mama, papa, dan kak Reno, semoga aku tidak mengecewakan mereka.

23 April
Terima kasih Tuhan, aku senang hari ini. Jaga selalu mama, papa, dan kak Reno untukku.

1 Mei
Bulan Mei tiba, aku sedikit gelisah untuk menerima hasil UAN.

26 Mei
AKU LULUS. Senaaaaang sekali rasanya. Terima kasih Tuhan. Semoga mama, papa, dan kak Reno bahagia walaupun aku hanya mendapat nilai 8 dan 7 untuk Fisika.
Ada sedikit rasa tidak rela melihat teman-temanku mendapat nilai sangat bagus. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Setidaknya masih ada orang-orang seperti Bella, Rere, Rista, dan Rina yang  jujur di Negara tidak jujur ini. Dan aku bangga memiliki mereka.
Semoga di tahun berikutnya, tidak ada lagi kecurangan yang merugikan para siswa yang jujur. Walaupun kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi aku tahu Tuhan, Kau akan selalu memberi yang terbaik untuk makhluk-Mu...


Mama masih terus menangis, tidak mempercayai kepergian anak bungsunya yang tanpa tanda-tanda itu. Papa dan kak Reno menghampiri mama dan langsung memahami apa yang terjadi.
“Tuhan terlalu sayang pada Dinda, hingga Dia sangat cepat memanggil Dinda untuk kembali pada-Nya,” papa mencoba menenangkan mama. Kak Reno mulai berkaca melihat adik kecilnya terbaring tak bernyawa.
 “Dinda pasti lebih senang di sana. Setidaknya tugasnya di dunia sudah bisa ia lalui,” kata kak Reno menatap dalam wajah adik satu-satunya itu.


*Terima kasih sudah membaca, kesamaan tokoh dan karakter bukan unsur kesengajaan, ini hanya sebuah inspirasi yang dituangkan* :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar