Bisakah aku sehari saja terbebas dari sebuah tuntutan ? Tuntutan orang tua terutama. Entahlah harus ku sebut apa aku ini. Anak durhaka kah ? atau justru anak penurut ?
Aku tahu mereka adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam hidupku, tapi apakah mereka harus mempengaruhi cita-citaku juga ?
Sejak kecil, aku tidak terbiasa melawan mereka, tentu saja karena aku takut mendapat kutukan seperti malin kundang atau sejenisnya. Aku selalu menuruti apa yang mereka perintahkan karena aku tahu mereka pasti tahu yang terbaik untukku.
Sekarang, aku bergelar alumnus dari sebuah SMA dan mereka ‘memaksaku’ untuk melanjutkan pendidikanku ke dunia medis. Apa aku masih bisa menyebut bahwa mereka tahu yang terbaik ? Kurasa kali ini keyakinanku meleset. Aku lebih suka bergelut dengan dunia kepenulisan daripada harus mengenal berbagai jenis obat-obatan, dan lagi-lagi, sebagai seorang anak aku harus ‘rela’ mewujudkan mimpi mereka dan cita-citaku menjadi seorang penulis hanya sebuah mimpi maya, seperti namaku, Maya.
Papaku adalah seorang dokter spesialis organ dalam dan mamaku seorang apoteker. Mungkin itu sebabnya mereka menginginkan aku masuk ke dunia medis agar aku bisa memiliki satu tujuan yang sama, menyembuhkan orang sakit. Mendengar profesi mereka saja aroma obat-obatan segera merajai sistem pernafasanku dan membuatnya sesak, aneh, bukan ? Tuhaaan, aku bukan boneka susan yang bercita-cita menjadi dokter. Tidak adil sekali untukku. Apa mereka tidak melihat bakat anaknya sesungguhnya ? Ku rasa buku harian yang tumpukannya sudah setinggi badanku sudah cukup menjelaskan bahwa aku suka menulis.
***
Mengikuti segala jenis tes masuk perguruan tinggi adalah kegiatan yang sedang aku geluti saat ini. Melelahkan, sangat melelahkan. Apalagi untuk bersaing dengan para calon mahasiswa kedokteran itu tidak mudah dan harus berkemampuan ekstra, sedangkan aku tidak sepintar Jessica, juara umum SMA-ku dulu, aku hanya anak yang berkemampuan rata-rata. Ironisnya, orangtuaku terus saja mendorongku untuk bisa lolos di Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi ternama. Mereka memang memiliki antusiasme tinggi dalam hal obsesi dan aku sangat membenci itu karena pasti aku yang menjadi korban atas obsesi mereka. Kenapa bukan abangku ? Abang ? Dia terlalu cuek, bahkan sangat cuek. Abangku tergolong ke dalam kategori anak yang susah diatur, mungkin karena dia laki-laki. Dia terlalu sibuk dengan kuliah dan design projectnya. Dulu, abang juga disetir untuk menjadi seorang dokter, tapi dengan tegas ia menolak dan masuk ke dunia yang ia sukai, design grafis. Mama dan papa tidak bisa memaksanya karena abang adalah tipe orang yang nekad dan keras. Kenapa harus aku yang menggantikan posisi abang beberapa tahun lalu. Apa aku harus membantah juga ? Rasanya sangat tidak tega, tapi bagaimana pun aku tidak ingin terjun di dunia yang aku sendiri sama sekali tidak ingin mengenalnya.
***
“May, ada lomba menulis cerpen lho, ikutan nggak ? Cerpenmu kan sering dimuat di majalah,” kata Ninda, temanku yang saat itu kami sedang belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi tiga hari yang akan datang.
“Menulis cerpen ? Kapan ? Aku mau,” sontak aku menutup buku biologi yang sedang kubaca.
“Emm.. Masih ada waktu sekitar tiga minggu kok kayaknya. Hadiahnya lumayan lho, juara I delapan juta plus tropi,” ujar Ninda membelalakkan matanya sembari mengangkat delapan jari tangannya.
“Waaaah, boleh tuh, pampletnya mana ? Aku pinjem dong,” pintaku sambil meringis.
“Besok deh aku bawain,” jawab Ninda, aku mengangkan jempol tanganku tanda setuju.
***
“Gimana persiapan tesmu, May ?” papa bertanya. Tentu saja pertanyaan yang tidak aku harapkan.
“Yah begitulah,” jawabku singkat sembari menyuap sesendok sayur ke dalam mulutku.
“Mama perhatikan, sepertinya kamu kurang serius. Jangan main-main May, ini demi masa depanmu. Sudah dua perguruan tinggi tidak menerimamu, apa kamu mau gagal untuk ketiga kalinya ?” mama angkat bicara sekaligus menghentikan gerak mulutku yang sedang asyik mengunyah.
Aku hanya diam. Demi masa depanku ? Omong kosong apa itu ? Apakah masa depan hanya punya satu jalan, menjadi dokter ?
Sialnya, bagaimana pun, aku tidak tega untuk membantah mereka, aku terlalu takut dan terlalu sayang pada mereka.
“Iya, kali ini aku serius,” kataku menunduk, “oh ya, ada lomba menulis cerpen tiga minggu lagi, aku mau ikut, hadiahnya delapan juta plus tropi,” sambungku semangat, membelalak meniru gaya Ninda.
“Untuk apa ikut lomba-lomba semacam itu ? Delapan juta, mama bisa kasih kalau kamu masuk kedokteran. Lagi pula menjadi penulis tidak menjamin masa depanmu menjadi baik. Fokus untuk tesmu dulu,” jawab mama sekaligus mengubah ekspresi wajahku menjadi sangat kecut.
Menjadi penulis tidak menjamin masa depan ? Apa maksudnya ? Banyak penulis yang lebih kaya dari para dokter.
***
Hari ini tiba, saat yang paling ditunggu, bukan olehku tapi oleh orangtuaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka, persiapanku kali ini sudah matang, ku rasa.
Apa memakai jas putih berkalungkan stetoskop dan berjalan di koridor rumah sakit adalah suatu kebanggaan ? Lalu bagaimana dengan profesi lain, penulis misalnya. Apa mereka masih kurang membanggakan ? Entahlah, semacam ada ketertarikan tersendiri dalam jiwa para orang tua agar anaknya menjadi seorang dokter. Apa mereka pikir anak-anaknya adalah boneka susan yang bercita-cita menyembuhkan orang sakit ? Apa mereka pikir dalam kehidupan ini hanya ada orang sakit ?
Gedung tes sudah ramai saat aku tiba disana tapi aku merasa sangat sendiri. Menulis puluhan lembar cerita ku kira lebih mudah daripada mengerjakan 10 soal tes, tapi bagaimana pun aku harus siap karena bekal ilmuku sudah ku cukupi sejak beberapa hari bahkan bulan yang lalu.
Aku duduk bersandar di sebuah kursi panjang yang sudah ditempati beberapa peserta tes, disana aku memulai kebiasaanku, menulis. Buku kecil yang aku bawa atau secarik kertas yang ada di tanganku atau dimanapun ada media yang kosong tanganku reflek menari, menyusun kata kemudian menjadi kalimat, entahlah mengapa kegiatan itu ku rasa sangat menyenangkan.
Tepat di sebelahku seorang anak laki-laki sedang serius mencorat-coret lembar demi lembar dari sebuah buku yang ia bawa. Buku itu mirip koleksi gambar. Aku terbelalak melihat tangannya yang begitu lihai memainkan pensilnya dan membentuk gambar yang cantik. “Kenapa anak yang jago menggambar bisa ikut tes kedokteran ? Kenapa dia nggak masuk ke jurusan yang sesuai, seni rupa misalnya,” bathinku, “mungkin dia bernasib sama sepertiku,” tebakku.
“Waah keren banget, kamu emang hobi menggambar ya ?” tanyaku membuka pembicaraan.
Anak itu menoleh kemudian mengangguk sambil tersenyum.
“Kenapa nggak masuk ke jurusan yang berbau seni ?" tanyaku lagi, anak itu tetap diam sambil mengayunkan pensilnya ke permukaan kertas.
"Apa hubungannya Kedokteran dengan menggambar ?” kataku penasaran.
“Mungkin aku bisa menggambar organ manusia nantinya,” jawabnya sedikit bercanda, aku spontan tertawa mendengar jawabannya.
“Apa kamu dipaksa orang tuamu untuk masuk kedokteran juga ?” tanyaku serius.
“Juga ? Kamu dipaksa orangtuamu ?” ujarnya balik bertanya.
“Bisa dibilang seperti itu,” jawabku menunduk.
“Nasib kita mungkin sama, aku sebenarnya ingin menjadi pelukis ternama seperti Pablo Picasso misalnya, tapi orangtuaku bilang menjadi pelukis belum tentu hidup kita terjamin,” ia mengehembuskan nafas, wajahnya mulai serius, “belum tentu terjamin ? Apa menjadi dokter hidup kita akan terjamin ?Gimana kalau malah stres di tengah jalan ? Entahlah, tapi aku coba jalani semua, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mereka, mereka pasti tahu yang terbaik, bukan ? Menjadi seorang dokter yang juga pelukis, tidak buruk ku rasa,” katanya tersenyum. Aku terdiam sejenak, benar juga apa yang anak ini bilang, menjadi seorang dokter yang juga penulis, tidak begitu buruk, pikirku.
“By the way, aku Fahreza, Fahreza Adhiputra, panggil saja Eza,” sambungnya mengulurkan tangan.
“Maya, Rizmaya Azalea,” jawabku menerima uluran tangannya.
***
Hari
ini tepat satu minggu setelah tes, aku masih berpikir tentang lomba menulis
cerpen beberapa minggu yang akan datang. Sebenarnya aku ingin diam-diam
mengirimkan cerpenku, tapi sudahlah, aku bisa mengikuti lomba-lomba sejenis di
kesempatan berikutnya.
Minggu
berikutnya dan berikutnya, aku masih bergalau-ria menunggu hasil tes beberapa
waktu lalu dan ketika tiba waktunya, seperti yang mama dan papa harapkan, aku
lolos, aku masuk ke fakultas kedokteran. Tentu saja aku senang jika mereka
senang, ku rasa memasuki dunia yang asing tidak begitu buruk jika dijalani,
maka aku akan berusaha menjalaninya.
Mataku
memperhatikan satu persatu peserta yang lolos, kemudian terhenti di satu nama
yang tak asing, Fahreza Adhiputra, dia lolos juga. Aku merasa keputusan ini
semakin tidak buruk karena ada anak yang senasib yang juga lolos bersamaku.
Dokter yang juga pelukis, dokter yang juga penulis, apa boleh ? Hatiku tertawa
memikirkan hal itu.
Tiba-tiba
Ninda datang, langsung menuju kamarku dan berteriak, “Selamat ya May, kamu kereeeen banget.”
“Ini
anak, baru nongol langsung berisik. Menurutmu lolos tes itu hal
yang keren ?” kataku heran.
“Bukan,
ini lho, lihat,” katanya lagi sembari menunjukan print out Pemenang Lomba
Menulis Cerpen Nasional.
“Juara
I, Rizmaya Azalea,” aku membacanya, “ini aku ? Ini namaku ? Aku juara I ??”
kataku berteriak tak percaya, “tapi, siapa yang ngirim cerpenku ?” sambungku dengan wajah sedikit heran.
“Abangmu
?” jawab Ninda tersenyum.
“Abangku
? Gimana bisa ?” tanyaku semakin
heran.
“Iya,
abangmu. Beberapa waktu lalu dia menghubungiku dan minta informasi tentang
lomba menulis cerpen itu. Dia bilang akan memasukkanmu sebagai peserta lomba
dan mengirim karyamu, tapi aku dilarang bilang sampai pengumuman tiba, gitu,”
Ninda menjelaskan.
“Abaaaaaaaaang
!!!” Teriakku senang dan masih tak percaya.
Menjadi
dokter yang juga penulis, ku rasa itu benar-benar tidak buruk. Aku bisa
mewujudkan obsesi mama papa dan tetap bisa mempertahankan hobiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar